Perang Iran vs Amerika: Tindakan Azerbaijan dan Pertemuan Darurat Liga Arab
Pertemuan darurat Dewan Liga Arab akan diadakan untuk membahas serangan Iran terhadap negara-negara Arab. Kehadiran Yordania dan negara-negara lainnya dalam permintaan pertemuan ini menunjukkan kekhawatiran yang meningkat terhadap tindakan Iran.
Sementara itu, Azerbaijan mengambil sikap agresif-defensif setelah serangan pesawat tak berawak Iran pada 5 Maret di wilayah Nakhchivan. Pemerintah Baku mengatakan bahwa dampak psikologis dari serangan tersebut lebih signifikan daripada kerusakan fisik yang terjadi. Presiden Ilham Aliyev dan pihaknya telah mencoba menjaga hubungan baik dengan Iran selama hari-hari awal serangan AS-Israel, namun asumsi mereka ternyata salah.
Tanggapan awal pejabat Azerbaijan menunjukkan ketidakpuasan terhadap tindakan Iran. Kata-kata seperti “tidak tahu berterima kasih,” “kemunafikan,” dan “tercela” digunakan untuk menggambarkan perilaku Iran. Situs berita Eurasianet melaporkan bahwa Kementerian Pertahanan Azerbaijan memposting pemberitahuan di saluran Telegram mereka tentang persiapan pasukan cadangan dan penempatan unit militer dalam keadaan siaga.
Media pemerintah Azerbaijan terus menerbitkan retorika konfrontatif untuk menakuti Iran agar tidak mengirimkan lebih banyak drone. Misalnya, sebuah judul komentar pada 6 Maret menyebutkan: “Drone di atas Nakhchivan: Iran bermain api.” Pernyataan pemerintah juga menyebut dukungan internasional untuk Azerbaijan dan kecaman terhadap serangan pesawat tak berawak.
Sebagai respons langsung, Azerbaijan menutup perbatasan daratnya dengan Iran, mencegah transit kargo antar kedua negara. Penutupan tersebut dinyatakan sebagai tindakan sementara, dengan kemungkinan dilanjutkan jika hubungan bilateral stabil. Diplomat Azerbaijan juga dievakuasi dari Teheran karena khawatir akan keselamatan mereka.
Keamanan TRIPP dan Stabilitas Hubungan
Kekhawatiran utama bagi Azerbaijan adalah menjaga agar perjanjian perdamaian sementara Armenia-Azerbaijan tetap berjalan sesuai rencana. Inti dari kesepakatan tersebut adalah Rute Trump untuk Perdamaian dan Kemakmuran Internasional (TRIPP), yang merupakan penghubung penting dalam jaringan perdagangan Koridor Tengah. Serangan pesawat tak berawak menyoroti kerentanan TRIPP terhadap campur tangan Iran.
Pada malam 5 Maret, Menteri Luar Negeri Azerbaijan Jeyhun Bayramov berkonsultasi dengan Menteri Luar Negeri Armenia Ararat Mirzoyan untuk membahas dampak serangan terhadap pengembangan TRIPP. Keduanya menekankan pentingnya memastikan perdamaian berkelanjutan antara Armenia dan Azerbaijan.
Pejabat Azerbaijan menyatakan bahwa upaya stabilisasi hubungan dengan Iran harus dimulai dengan pengakuan tanggung jawab Iran atas insiden tersebut dan hukuman bagi pelaku. Namun, para pejabat militer Iran sejauh ini membantah bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Pertemuan Liga Arab dan Kekhawatiran Terhadap Serangan
Pertemuan tingkat menteri Liga Arab diadakan atas permintaan Yordania, Arab Saudi, Bahrain, Oman, Qatar, Kuwait, dan Mesir. Tujuan utamanya adalah membahas serangan Iran terhadap negara-negara Arab yang dianggap melanggar hukum internasional dan prinsip-prinsip bertetangga baik.
Sekretaris Jenderal Liga Arab, Ahmed Aboul Gheit, menggambarkan serangan Iran sebagai “berbahaya.” Ia menekankan bahwa serangan tersebut bukan hanya pelanggaran terhadap hukum internasional dan Piagam PBB, tetapi juga ancaman terhadap prinsip-prinsip bertetangga baik.
Aboul Gheit memperingatkan bahwa serangan Iran menciptakan keadaan permusuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya antara Iran dan negara-negara Arab tetangga. Ia menilai hal ini akan meninggalkan dampak besar di masa depan. Ia juga menekankan bahwa tidak ada pembenaran yang dapat diterima bagi Iran untuk menargetkan negara-negara Arab tetangga.
Spekulasi Tentang Keterlibatan Negara-Negara Arab
Agenda pertemuan darurat ini memicu spekulasi bahwa kondisi yang tidak terkendali memaksa negara-negara Arab untuk ikut menyerang Iran. Iran diketahui menyerang negara-negara Arab di kawasan Timur Tengah dengan menyasar lokasi-lokasi yang menampung aset-aset Amerika Serikat (AS). Selain itu, Iran juga menargetkan Israel sebagai balasan atas agresi gabungan AS dan Israel ke Teheran pada 28 Februari 2026.
Meskipun demikian, sampai saat ini, negara-negara Arab belum memberikan respons ofensif terhadap serangan Iran. Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi hanya bersikap defensif dengan mencegat rudal dan drone Iran yang masuk. Beberapa rudal dan drone berhasil melewati intersepsi, seperti di Bahrain, Dubai, dan Arab Saudi.
Kekhawatiran akan perang yang lebih luas yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi dan politik kawasan menjadi alasan utama negara-negara Arab untuk tidak merespons secara ofensif meski mendapat dorongan dari AS dan Eropa.











