Kenaikan Harga Minyak Dunia yang Mencapai Level Psikologis
Harga minyak dunia diprediksi akan menembus angka US$100 per barel akibat kekacauan pengiriman dari negara-negara Teluk yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perang antara Iran dengan Amerika-Israel telah memicu gangguan serius pada jalur distribusi minyak melalui Teluk Persia. Produsen utama minyak di kawasan ini mulai mengurangi produksi karena kapasitas penyimpanan darat sudah penuh, sementara jalur distribusi lewat Teluk Persia tidak dapat dilintasi akibat ancaman dari Iran.
Bloomberg melaporkan bahwa Uni Emirat Arab (UEA) dan Kuwait telah mulai mengurangi produksi minyak karena kapasitas penyimpanan mereka semakin menipis. Hal ini mengikuti jejak Irak yang kini memproduksi sekitar 60% dari tingkat normalnya. Negara-negara lain di sekitar diperkirakan juga akan mengikuti langkah serupa karena kapal tanker minyak cenderung menghindari Selat Hormuz yang dikuasai Iran. Hari kesembilan perang belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam pernyataannya pada Sabtu menyatakan bahwa pihaknya akan mempertimbangkan untuk memperluas target penyerangan dan menjadikan warga Iran sebagai sasaran. Ia mengatakan, “Serangan berlanjut sampai mereka menyerah atau, kemungkinan besar, benar-benar runtuh.” Pernyataan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan analis dan pedagang minyak bahwa harga minyak akan semakin mendekati ambang batas psikologis $100 per barel.
Harga minyak mentah Brent telah naik 30% minggu lalu menjadi US$92,69 per barel. Dalam sehari, harga minyak tersebut melonjak 8,52%. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melonjak tajam menjadi US$90,90 per barel, naik 12,21% dalam sehari. Kenaikan harga ini didorong oleh beberapa kontrak berjangka yang telah melewati level psikologis. Misalnya, kontrak berjangka minyak mentah Murban dari Abu Dhabi ditutup pada level US$103 per barel pada akhir pekan lalu. Kontrak berjangka minyak mentah Oman berada di US$107, sedangkan kontrak berjangka minyak mentah China di Bursa Energi Internasional Shanghai melonjak ke US$109.
Stefano Grasso, manajer senior di 8VantEdge Pte yang berbasis di Singapura, mengatakan bahwa setiap hari tambahan gangguan akan menambah tekanan pada harga minyak. Ia menilai bahwa dalam skenario tersebut, tidak ada batasan harga dalam jangka pendek.
Penyesuaian Produksi oleh Produsen Minyak
Sejumlah produsen minyak telah menyesuaikan kondisi ini. Irak telah memangkas produksi menjadi 1,7 juta hingga 1,8 juta barel per hari dari sekitar 4,3 juta barel per hari sebelum konflik. Di sisi lain, Arab Saudi memilih jalur alternatif dengan mengalirkan minyak lewat Laut Merah. Data Bloomberg mencatat pengiriman dari terminal di kawasan Laut Merah telah melonjak hingga sekitar 2,3 juta barel per hari sepanjang bulan ini. Meski demikian, angka tersebut masih jauh di bawah 6 juta barel per hari yang diekspor negara itu dari Teluk Persia dalam beberapa bulan terakhir.

Langkah AS dalam Menghadapi Kekacauan
Ketakutan kapal tanker melewati Teluk Persia dijawab oleh Amerika Serikat dengan menyediakan pengawalan militer dan mengumumkan akan meluncurkan reasuransi maritim. Fasilitas tersebut akan menanggung kerugian hingga sekitar $20 miliar. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kenaikan harga minyak memperhitungkan premi ketakutan yang diyakini tidak akan bertahan lama. Ia menilai kondisi perang hanya akan bertahan beberapa minggu.
Bagi pemilik kapal dan penyewa kapal yang beroperasi di wilayah tersebut, asuransi bukanlah kendala yang menghambat lalu lintas. Namun, para pengusaha tetap khawatir tentang keselamatan kapal dan awaknya serta membutuhkan pengawalan angkatan laut penuh seperti Operasi Prosperity Guardian di Laut Merah atau bahkan penghentian perang.
Dampak Kenaikan Harga Minyak di Asia
Bloomberg menyebut kenaikan harga minyak memiliki dampak terbesar di Asia. Jepang, yang mengambil lebih dari 90% minyak mentahnya dari kawasan Teluk Persia, membuka peluang menggunakan cadangan minyak nasional. Sementara itu, Tiongkok telah membatasi ekspor minyak untuk menjaga pasokan dan mengendalikan harga domestik. Korea Selatan sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan kembali pembatasan harga minyak untuk pertama kalinya dalam 30 tahun.
Di Eropa, harga minyak untuk kapal pesawat melonjak ke rekor tertinggi sepanjang masa sebesar $1.528 per ton atau setara $190 per barel.
Prediksi Analis Mengenai Skenario Jangka Panjang
Analis dari ING Groep NV menyebut skenario empat minggu terutama disebabkan oleh upaya Amerika melumpuhkan persenjataan Iran sehingga meningkatkan keamanan perlintasan di Teluk Persia. Skenario paling dramatis dari bank tersebut adalah gangguan total selama tiga bulan terhadap aliran minyak dan gas alam cair. Hal ini kemungkinan akan menyebabkan harga minyak melonjak ke rekor tertinggi sepanjang kuartal kedua 2026.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











