"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Tekankan dampak perang Israel-Iran, Ibas dorong penguatan energi dan ekonomi nasional



JAKARTA – Wakil Ketua MPR sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Edhie Baskoro Yudhoyono atau yang akrab disapa Ibas menyampaikan kekhawatiran mendalam terhadap meningkatnya konflik bersenjata antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Menurut Ibas, situasi ini berpotensi memperluas ketidakstabilan geopolitik global serta memberikan tekanan serius terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia.

Menurut lulusan Doktor (S3) IPB University tersebut, konflik di kawasan strategis penghasil energi dunia ini tidak hanya berdampak pada negara yang terlibat langsung, tetapi juga membawa konsekuensi luas terhadap stabilitas energi, jalur perdagangan internasional, inflasi global, dan keamanan kawasan.

“Dunia saat ini berada dalam situasi ketidakpastian yang serius. Ketika konflik bersenjata terjadi di pusat energi dunia, dampaknya akan menyebar ke seluruh negara, termasuk Indonesia. Kita harus waspada, responsif, dan strategis,” ujar Ibas dalam pernyataannya, Selasa (3/3).

Selat Hormuz: Titik Nadir Keamanan Energi Global

Secara spesifik, Ibas memberikan analisis tajam mengenai posisi strategis di Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz, sebagai jalur perdagangan energi paling vital di dunia. Mengingat Iran berbatasan langsung dengan jalur sempit ini, eskalasi konflik berisiko memicu hambatan distribusi atau bahkan penutupan jalur.

Selat Hormuz merupakan “urat nadi” bagi sekitar 20 persen hingga 30 persen konsumsi minyak dunia setiap harinya, serta jalur utama bagi Liquid Natural Gas (LNG) dari Qatar. Ibas mengingatkan bahwa jika stabilitas di Selat Hormuz terganggu, dunia akan menghadapi kejutan pasokan (supply shock) yang drastis.

“Bagi Indonesia, ini bukan sekadar angka di pasar bursa, melainkan ancaman nyata terhadap biaya operasional industri dan ketersediaan BBM di tingkat retail. Kita harus sadar bahwa gangguan di selat tersebut dapat melambungkan harga minyak mentah jauh di atas asumsi makro APBN kita,” papar Ibas.

Selain minyak mentah, gangguan di jalur ini juga akan berdampak pada rantai pasok global secara sistemik. Lonjakan biaya asuransi pengiriman (shipping insurance) dan pengalihan rute kapal tanker akan meningkatkan biaya logistik internasional secara signifikan. Hal ini akan memicu multiplier effect pada harga barang impor dan bahan baku industri di dalam negeri, yang pada akhirnya dapat menekan pertumbuhan sektor manufaktur nasional.

Dampak Nyata bagi Ekonomi dan Energi Nasional

Ibas menjelaskan bahwa Indonesia sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energi, sangat rentan terhadap lonjakan harga minyak dunia. Dia memprediksi kenaikan harga energi global dapat memicu rantai dampak negatif, di antaranya:

  • Tekanan APBN: Meningkatnya beban subsidi energi.
  • Inflasi Sektor Pokok: Lonjakan harga di sektor pangan dan transportasi.
  • Penurunan Daya Beli: Melemahnya daya beli masyarakat akibat inflasi.
  • Hambatan Ekspor-Impor: Ketegangan di jalur pelayaran strategis internasional yang mengganggu urat nadi perdagangan nasional.

“Kita harus mengantisipasi dampak rambatan ekonomi global ini dengan langkah yang terukur dan kebijakan yang tepat sasaran demi menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional,” tegas Edhie Baskoro.

Rekomendasi Strategis untuk Pemerintah

Menyikapi dinamika tersebut, Ibas menekankan bahwa Indonesia tidak boleh sekadar reaktif. Dia menawarkan tiga pilar langkah strategis:

  1. Penguatan Ketahanan Energi
  2. Percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT).
  3. Diversifikasi sumber impor energi untuk mengurangi ketergantungan tunggal.
  4. Peningkatan produksi energi domestik dan penguatan cadangan energi strategis nasional.

  5. Stabilitas Ekonomi dan Perlindungan Rakyat

  6. Antisipasi inflasi melalui koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang ketat.
  7. Pengamanan daya beli masyarakat, khususnya kelompok rentan, serta pengendalian harga bahan pokok.
  8. Penguatan UMKM dan industri dalam negeri sebagai benteng ekonomi domestik.

  9. Diplomasi Aktif dan Konsisten

  10. Mendorong penyelesaian konflik melalui dialog, negosiasi, dan gencatan senjata.
  11. Menguatkan peran Indonesia di forum multilateral sebagai bagian dari solusi.
  12. Penguatan Nilai Kebangsaan dan Pesan Persatuan

Wakil Ketua Dewan Penasihat KADIN ini juga mengingatkan bahwa konstitusi Indonesia melalui Pembukaan UUD 1945 mengamanatkan bangsa ini untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia. Nilai-nilai Pancasila, seperti kemanusiaan yang adil dan beradab serta persatuan, harus menjadi kompas moral diplomasi.

“Indonesia tidak boleh terjebak dalam polarisasi global. Kita adalah bangsa besar yang konsisten menolak perang dan kekerasan. Kita harus menjadi bangsa yang kokoh dalam nilai, kuat dalam ekonomi, dan bijak dalam diplomasi,” ujarnya.

Terakhir, Ibas mengajak seluruh elemen bangsa—pemerintah, parlemen, pelaku usaha, hingga masyarakat—untuk memperkuat persatuan nasional dan semangat gotong royong. Dia meyakini stabilitas dalam negeri adalah kunci utama menghadapi guncangan eksternal.

“Di tengah gejolak geopolitik global, Indonesia harus berdiri teguh sebagai jangkar stabilitas dan suara moral bagi perdamaian dunia,” pungkas Ibas.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *