Kehidupan Seorang Guru Ngaji di Gang Sempit Samarinda
Di sebuah gang sempit di kawasan Jalan KH Samanhudi, Gang Al Hikam, Kelurahan Pelita Dama, Kecamatan Samarinda Ilir, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, terdengar sayup-sayup suara lantunan ayat suci Al-Quran dan bacaan dari buku iqro. Lokasi ini berada tepat di jalan akses baru eks Bandara Temindung yang dibuka oleh Pemprov Kaltim pada tahun 2024 lalu.
Menapaki jalan gang sempit tersebut sejauh sekitar 300 meter dari jalan utama, terlihat sebuah rumah kontrakan sederhana bercat putih dengan spanduk bertuliskan “Rumah Pintar Santi, belajar mengaji gratis anak-anak dan orangtua”. Di sana, seorang wanita paruh baya tampak sabar menyimak bacaan murid-muridnya. Ia adalah Sumiati (49), sosok tangguh yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga “nyala” Al-Qur’an di ibu kota Kaltim, meski keterbatasan dan badai ujian hidup berkali-kali sudah menerpanya.
“Silakan masuk mas, selamat datang di rumah saya, disini tempat anak-anak mengaji,” kata Sumiati saat menyambut reporter, Sabtu (28/2/2026).
Sambil menyimak bacaan Al-Quran dan iqro huruf hijaiyah muridnya, Sumiati menceritakan perjalanan menjadi guru ngaji yang dilalui. Merantau dari Kota Surabaya sejak tahun 1996 mengikuti sang suami, ia membawa bekal ilmu dari pesantren untuk dibagikan kepada anak-anak di lingkungan sekitar rumahnya. Bukan perjalanan mulus tentunya, ujian ekonomi sempat membuatnya terhimpit, Sumiati mengenang masa-masa sulit saat ia harus mengajar dari rumah ke rumah demi menyambung hidup.
Sejak menginjakkan kaki di Kota Tepian, ia telaten menekuni sebagai guru ngaji hingga saat ini, artinya kurang lebih 30 tahun sudah Sumiati mengajar. Ia sebelumnya tinggal di Kelurahan Sungai Dama, Kota Samarinda, dan akhirnya berpindah ke hunian yang ditinggalinya untuk mengajar saat ini. Peristiwa tidak mengenakkan sempat dilalui di kontrakan yang lama, sehingga harus berpindah. Rumah yang sekarang menjadi tempat puluhan murid mengaji, merupakan hasil pertemuannya dengan seorang dermawan. Tak disangka, ia dibebaskan dari biaya sewa untuk menempati rumah kontrakan di Gang Al-Hikam ini.
Keterbatasan ekonomi dan himpitan hidup di Kota Samarinda berhasil ia lawan, dengan ikhlas ketika memasrahkan segala takdir pada Tuhan Yang Maha Esa. “Qodarullah, saya sempat diusir secara halus dari kontrakan dulu karena bayar tidak tepat waktu, saya hanya bisa pasrah dan ikhlas. Ya, namanya pendapatan tidak tentu ada di tanggal satu. Almarhum suami saya hanya bekerja buruh bangunan dulu. Dari mengajar ngaji kan, kalau dulu saya dibantu dari sedekah Rp5 ribu per murid, itu juga tidak saya patok, tapi keikhlasan dari orang tua murid, waktu tinggal di kontrakan lama. Kalau rumah yang sekarang, Alhamdulillah saya tidak sewa, Bu Haji meminta saya tinggal disini dan terus mengajar ngaji anak-anak di lingkungan Gang Al Hikam ini, dan mengajarnya secara gratis, baik anak-anak maupun orang dewasa,” kenang Sumiati dengan nada suara rendah.
Bagian haru dalam cerita Sumiati, dimulai tahun 2013, yang menurutnya menjadi tahun terberat bagi wanita kelahiran 31 Desember 1977 ini. Suami tercinta yang selalu mendukungnya menjadi guru ngaji meninggal dunia secara mendadak saat bekerja. Tidak sempat pulang ke rumah, suaminya bahkan meninggal dunia dipangkuannya saat ia datangi ke lokasi proyek bangunan.
“Seperti anak ayam kehilangan induk. Tapi kalau saya rapuh, bagaimana anak-anak saya? Saya harus jadi ibu sekaligus bapak. Dan saya bertekad dengan doa dan usaha, bisa menyekolahkan anak-anak serta tetap mengajar ngaji,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Sumiati sebelumnya dilarang bekerja oleh sang suami, tetapi prinsip itu terpaksa seketika dilanggar, ia merasa goyah, dan harus menghidupi tiga anaknya seorang diri. Ia berdoa, dan terus menyemangati diri untuk menghidupi anak-anaknya.
Anak pertamanya perempuan, bernama Mufarrohattul Muttaqien kini sudah menikah dan tinggal bersama sang suami, serta dikaruniai dua anak. Kemudian, anak kedua Sumiati, Mas’ud Bi’adillah berkuliah di Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda semester IV jurusan Hukum Tata Negara dan menerima Beasiswa KIP dari pemerintah bagi lulusan SMA/sederajat berprestasi dengan keterbatasan ekonomi untuk kuliah hingga lulus (8 semester untuk S1, 6 semester untuk D3). Terakhir anak ketiganya, Maulidatus Sya’adah kini duduk di Sekolah Dasar, yang ia antar setiap pagi sebelum bekerja.
Selama 30 tahun mengajar mengaji, ia tak pernah mematok biaya dan memang tanpa pamrih atau gratis. Tetapi, ada saja orang tua murid yang memberinya sedekah, baik uang atau dalam bentuk sembako. Namun Sumiati tetap tak berpangku tangan, demi dapur tetap mengepul serta dua anaknya yang masih menempuh pendidikan, ia rela banting tulang menjadi Asisten Rumah Tangga (ART) di kawasan Kadrie Oening dari pagi hingga siang hari. Kemudian pada sore harinya, sepulang bekerja menjadi ART, barulah Sumiati kembali duduk bersila menghadapi meja-meja kecil, membimbing anak-anak sekitar lingkungan rumahnya mengenal huruf hijaiyah dan sebagian membaca Al Quran.
“Saat ini bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari rumah dan biaya anak yang masih sekolah. Anak saya Alhamdulillah yang pertama menikah, saya dikaruniai dua cucu yang juga saya ajarkan sendiri mengaji, sudah iqro. Kalau anak kedua Alhamdulillah beasiswa kuliah sampai lulus, dulu dia pesantren dan sempat mendapat beasiswa ke Yaman karena prestasinya tahfidz Quran, kembali ke Samarinda berkuliah dan kadang juga membantu saya mengajar mengaji, anak terakhir saya SD, dan ini yang membuat saya semangat bekerja,” kata Sumiati.
Keikhlasan Sumiati dalam mengajar, bukan sampai pada bacaan mengaji para muridnya saja. Baginya, mengajar mengaji bukan sekadar urusan kelancaran membaca, melainkan pembentukan karakter. Sumiati, juga menaruh perhatian besar di era digital ini, terutama pada degradasi moral generasi muda. Ia mewajibkan murid-muridnya membiasakan salam, sopan santun kepada yang lebih tua, dan saling menyayangi.
“Sekarang yang paling terasa itu etika, di sini saya tanamkan akhlak dulu yang utama, adab baru Al-Qur’an. Supaya ilmunya sampai ke hati,” kata Sumiati.
Harapan Sederhana di Bulan Ramadan
Memasuki bulan suci Ramadhan 2026, semangat Sumiati justru kian berlipat. Baginya, Ramadan adalah momentum terbaik untuk mendekatkan diri dengan kitab suci. Meski hidup dalam keterbatasan dan nyaris tak pernah tersentuh bantuan pemerintah, tak ada doa tentang materi yang ia langitkan. Di tengah hiruk pikuk Kota Samarinda, dari sebuah rumah di Gang Al-Hikam, Sumiati membuktikan bahwa cahaya kebaikan tak butuh panggung megah untuk tetap bersinar, ia hanya butuh keikhlasan.
“Doa saya sederhana saja bisa puasa penuh, khatam Al-Qur’an, murid makin banyak, dan semoga mendapat Lailatul Qadar. Saya pernah berdoa agar anak saya yang kedua, yang hafal Quran bisa berangkat ke Baitullah (Mekkah) karena waktu di Yaman, teman-temannya sempat kesana, tetapi ia belum dimampukan dan dipanggil Allah SWT,” pungkasnya tersenyum.











