"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Natalius Pigai dan Zainal Arifin Mochtar Berdebat, Menanti Debat Terbuka HAM

Perdebatan Terbuka tentang HAM Antara Zainal Arifin Mochtar dan Natalius Pigai

Pertukaran cuitan antara Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Zainal Arifin Mochtar, dan Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai, kini menjadi perhatian publik. Kedua tokoh ini saling berbalas cuitan terkait wacana debat terbuka mengenai isu HAM. Awalnya, Zainal Arifin Mochtar menyampaikan keinginannya untuk belajar memahami HAM dari Natalius Pigai melalui akun X pribadinya.

Dalam cuitannya, Zainal Arifin Mochtar menulis: “Saya setuju dengan bapak, seringkali profesor itu dibesar-besarkan saja. Saya izin mau belajar memahami HAM dari bapak. Saya mau diskusi dan debatkan satu per satu kasus HAM di Indonesia yang katanya bapak udah amat pahami itu. Sebut saja kapan dan di mana saya bisa belajar.”

Natalius Pigai kemudian merespons dengan menyatakan kesediaannya untuk berdebat secara langsung di televisi nasional dalam format siaran langsung. Ia menegaskan bahwa ia ingin membahas isu HAM dalam tataran ilmiah dan siap memberikan penjelasan kepada Zainal Arifin Mochtar. Ia juga menyarankan agar Zainal Arifin Mochtar menonton video sebelumnya sebagai tambahan ilmu HAM.

Keinginan untuk Debat Terbuka

Zainal Arifin Mochtar, yang akrab disapa Uceng, menyatakan bahwa debat terbuka ini penting agar masyarakat dapat mengetahui capaian konkret pemerintah dalam penegakan HAM selama dua tahun terakhir. Ia menilai bahwa kondisi penegakan HAM saat ini cukup berantakan dan perlu dijelaskan secara terbuka kepada masyarakat.

“Menurut saya bagus juga kalau Beliau mau datang, supaya jadi kayak semacam pertanggungjawaban terhadap kerja Dia,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa debat yang dinantikan publik bukan sekadar adu teori, melainkan pemaparan kerja nyata. Menurut Uceng, debat teoritik tidak perlu dilakukan karena sudah bisa dilakukan di kampus.

Alasan Mengikuti Ajakan Debat

Meskipun sebelumnya relatif menolak berbagai undangan acara debat, Zainal Arifin Mochtar kali ini bersedia menerima ajakan debat karena ia percaya bahwa dalam demokrasi, seorang pejabat tidak boleh hanya menjawab dengan jargon-jargon. Jawaban seperti itu hanya cocok untuk masa kampanye, bukan untuk masa kerja.

“Kami akan melakukan ini, kami akan berbuat baik, kami sudah memahami persoalan,” ujarnya. “Itu kan di masa kampanye. Masa dua tahun kerja ini, apa yang dilakukan. Itu yang paling penting sebenarnya.”

Uceng juga mengaku bahwa dirinya tidak tertarik berdebat, tetapi saling berbalas tweet di media sosial menjadi hal yang melelahkan. Ia mengatakan bahwa debat di Twitter terlalu melelahkan, sehingga lebih baik dilakukan secara langsung.

Persiapan untuk Debat Terbuka

Menurut Uceng, sudah ada banyak televisi nasional yang menawarkan untuk memfasilitasi debat dengan Menteri HAM Natalius Pigai. Bahkan, organisasi mahasiswa seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) juga menawarkan bantuan.

“Teman-teman mahasiswa bahkan ngajak, BEM mau ngajak kita buatkan. Saya bilang ya enggak apa-apa, silakan. Tapi kalau paling bagus sih kalau terbuka, jadi multi-platform,” ujarnya.

Debat terbuka antara Zainal Arifin Mochtar dan Natalius Pigai kini menjadi harapan publik. Semoga acara ini dapat memberikan wawasan yang jelas dan transparan mengenai upaya pemerintah dalam penegakan HAM di Indonesia.


Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *