"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Islah Bahrawi Kritik Prabowo: Pergi ke Luar Negeri, Rakyat Dapat Piring Setengah Kosong

Kritik Terhadap Kebijakan Pemerintahan Prabowo

Islah Bahrawi, Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI), memberikan kritik tajam terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, kondisi sosial dan ekonomi rakyat semakin tertekan, seperti dihadapkan dengan piring yang setengah kosong.

Dalam wawancara di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (27/2/2026), Islah menyoroti beberapa isu penting, termasuk impor mobil, daya beli masyarakat yang melemah, serta program populis yang dinilai mengorbankan hak pendidikan. Ia menegaskan bahwa rakyat harus menjadi fokus utama pemerintah.

Isu-isu yang Dikritik

  • Impor Mobil: Islah mengkritik kebijakan impor 103.000 unit mobil dari India, yang dinilai akan memperburuk kondisi industri otomotif nasional. Ia khawatir hal ini bisa menyebabkan PHK besar-besaran dan meningkatkan kesulitan ekonomi bagi tenaga kerja di sektor tersebut.
  • Daya Beli Melemah: Ia menggambarkan tekanan ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat, bahkan sampai pada tingkat anak-anak tidak sanggup dibelikan pena dan buku tulis. Situasi ini menimbulkan ancaman serius terhadap kesejahteraan rakyat.
  • Program Populis: Islah juga menyoroti program-program yang dinilai populis dan tidak berdampak nyata pada kebutuhan dasar rakyat. Ia menegaskan bahwa hak pendidikan harus dilindungi, bukan dikorbankan demi kepentingan politik.

Keterlibatan Militer dan Politik

  • Keterlibatan Militer: Islah menyebut adanya dugaan keterlibatan unsur militer dalam berbagai sektor bisnis. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang pengaruh militer terhadap kebijakan pemerintah.
  • Politik dan Rakyat: Menurutnya, negara seharusnya identik dengan rakyat, bukan sekadar penguasa. Ia menegaskan bahwa pemerintah harus fokus pada kepentingan rakyat, bukan hanya pada kekuasaan.

Pesimisme Ekonomi dan Peringatan untuk Presiden

  • Pertumbuhan Ekonomi: Islah menyatakan pesimisme terhadap pertumbuhan ekonomi yang disampaikan pemerintah. Ia menilai angka tersebut bersifat artifisial dan tidak mencerminkan realitas sebenarnya.
  • Peringkat Internasional: Penurunan peringkat Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional menunjukkan ketidakstabilan ekonomi yang semakin mengkhawatirkan.
  • Lebaran yang Berat: Ia menggambarkan situasi menjelang Lebaran yang semakin berat bagi keluarga kelas menengah ke bawah. Banyak ibu-ibu tidak lagi mampu membeli ayam satu ekor utuh atau menyajikan makanan berlimpah karena tekanan ekonomi.

Permintaan kepada Presiden

  • Fokus pada Rakyat: Islah meminta Presiden Prabowo lebih fokus pada masalah domestik. Ia menegaskan bahwa presiden adalah pemimpin dari seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya dari lingkaran kekuasaan.
  • Keberpihakan Nyata: Ia menekankan bahwa legitimasi politik bukan hanya soal elektabilitas, tetapi keberpihakan nyata terhadap rakyat. Ia mengingatkan bahwa kekuasaan akan diuji saat rakyat susah.

Pernah Diundang Tapi Menolak

  • Tidak Hadir dalam Pertemuan: Islah mengaku pernah diundang langsung oleh Prabowo namun memilih menolak pertemuan tersebut. Ia ingin tetap independen dan menyampaikan kritik secara terbuka.
  • Sikap Moral: Keputusannya menolak undangan bukan bentuk pembangkangan, melainkan sikap moral. Ia ingin suara kritik ini tetap murni dan tidak dianggap sebagai bagian dari kompromi politik.


Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *