Perbedaan Pendekatan Energi: Amerika Serikat dan Eropa
Di tengah perdebatan global tentang masa depan energi, dua kekuatan besar, Amerika Serikat dan Eropa, menunjukkan pendekatan yang berbeda. Sementara AS cenderung kembali memprioritaskan bahan bakar fosil, Eropa lebih fokus pada efisiensi dan penggunaan energi terbarukan. Pertanyaannya adalah, mana yang lebih realistis: dominasi atau hitung untung?
Pada kunjungan Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, ke Eropa pekan lalu, ia mengkritik komitmen IEA untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari bahan bakar fosil. Menurut Wright, langkah tersebut dianggap sebagai “ilusi yang merusak”. Ia juga mengancam akan keluar dari IEA jika lembaga tersebut tidak segera mengubah target transisi energinya dalam satu tahun ke depan.
Wright, yang merupakan pendiri dan mantan CEO Liberty Energy, dikenal sebagai tokoh yang vokal dalam mengkritik “alarmisme iklim”. Departemen Energi AS di bawah kepemimpinannya pernah merilis laporan kontroversial pada Juli 2025 yang menyatakan bahwa dampak pemanasan akibat CO₂ “secara ekonomi kurang merusak dibanding yang selama ini diyakini”.

Namun, penelitian menunjukkan bahwa cuaca ekstrem akibat perubahan iklim telah menyebabkan kerugian hingga 120 miliar dolar AS hanya dalam satu tahun. Meskipun demikian, laporan pemerintah AS tetap menyatakan bahwa dampak pemanasan akibat CO₂ dianggap lebih rendah dari yang dikhawatirkan.
Wright berargumen bahwa kebijakan transisi energi bersih justru merugikan ekonomi AS dan Uni Eropa. Ia menyebut transisi energi sebagai “kultus iklim” yang “mengurangi peluang ekonomi bagi warga Eropa”.

Namun, Sam Alvis dari Institute for Public Policy Research (IPPR) menolak klaim tersebut. Ia menegaskan bahwa adopsi energi terbarukan tidak merugikan ekonomi Eropa. Lebih dari 25 persen energi di blok tersebut kini berasal dari sumber bersih. Menurutnya, tenaga surya dan angin darat masih menjadi bentuk energi termurah yang tersedia.
Harga panel surya telah turun sekitar 90 persen dalam satu dekade terakhir, seiring dengan peningkatan kapasitas manufaktur di Cina. Studi terbaru dari University of Surrey menunjukkan bahwa energi surya kini menjadi sumber pembangkit listrik skala besar termurah secara global, bahkan melampaui batu bara dan gas.
Sementara itu, harga bahan bakar fosil sangat fluktuatif. Setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, harga listrik dan gas di Eropa melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah. Hal ini memicu kekhawatiran para pemimpin Eropa terhadap ketergantungan pada impor gas alam cair (LNG) dari AS.
Energi Terbarukan Menguntungkan Ekonomi
Julie McNamara dari Union of Concerned Scientists menilai bahwa seruan Menteri Energi AS untuk meningkatkan penggunaan bahan bakar fosil “secara aktif melemahkan komitmen kuat dan strategis Eropa terhadap transisi energi bersih”.
Di Spanyol, misalnya, pergeseran cepat ke energi angin dan surya justru memberikan manfaat ekonomi. Pada 2019, Spanyol memiliki tarif listrik termahal di Uni Eropa. Namun, setelah peningkatan besar dalam energi terbarukan, harga listrik turun 75 persen pada 2025, menurut lembaga pemikir energi global Ember.
Dengan energi hijau menggantikan batu bara dan gas, porsi bahan bakar fosil dalam jaringan listrik Spanyol kini hanya setengah dari Jerman, yang lebih bergantung pada gas.
Efisiensi Teknologi Terelektrifikasi
Menurut Sam Alvis, teknologi yang terelektrifikasi empat kali lebih efisien dibandingkan pembakaran bahan bakar fosil. Ketika transportasi atau sistem energi dialiri listrik, hal itu memberikan “lonjokan produktivitas secara instan”.
Alvis menegaskan bahwa lambatnya pengakuan terhadap fakta ini menyebabkan berkurangnya peluang ekonomi di Eropa. Akibatnya, perusahaan berbasis bahan bakar fosil yang bergerak lambat, seperti industri otomotif, tertinggal oleh teknologi inovatif dari luar, dengan industri kendaraan listrik Cina sebagai contoh utama.
Bob Ward dari Grantham Research Institute on Climate Change and the Environment menilai upaya Menteri Energi AS untuk meminimalkan dampak pembakaran bahan bakar fosil dan manfaat ekonomi energi terbarukan berkaitan dengan tujuan pemerintahannya untuk mencapai “Dominasi Energi Amerika”.
“Pemerintah berusaha mencapainya terutama dengan menciptakan ketergantungan global yang lebih besar pada pasokan bahan bakar fosil dari Amerika Serikat,” ujarnya. “Kebijakan iklim domestik maupun internasional jelas dipandang sebagai hambatan utama terhadap tujuan tersebut.”











