Ringkasan Polemik dan Kontroversi Dwi Sasetyaningtyas
Kehidupan Dwi Sasetyaningtyas kini menjadi sorotan publik setelah beberapa pernyataannya menimbulkan kontroversi. Ia dikenal sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) yang saat ini tinggal di Inggris. Sejumlah kejadian memicu perdebatan luas, baik di media sosial maupun pemberitaan nasional.
1. Pamer Paspor WNA Anak Jadi Petaka
Kontroversi Dwi Sasetyaningtyas kembali mengemuka setelah video pribadinya viral di media sosial. Dalam tayangan tersebut, ia menunjukkan dokumen kewarganegaraan Inggris milik anaknya sambil menyampaikan rasa bahagianya. Pernyataannya, “Cukup saya aja yang WNI, anak-anakku jangan,” menuai kritik dari warganet. Banyak yang menilai ucapannya terkesan meremehkan paspor Indonesia dan kurang mencerminkan sikap nasionalisme.
Video tersebut kemudian dihapus dari akun pribadinya, namun potongan rekamannya sudah lebih dulu tersebar luas dan menjadi perbincangan publik. Kritik juga menyinggung statusnya sebagai awardee LPDP yang memiliki kewajiban pengabdian setelah menyelesaikan studi.
2. Diminta Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Kasus viral Dwi Sasetyaningtyas berimbas pada kewajiban suaminya, Arya Pamungkas, untuk mengembalikan dana beasiswa LPDP. Arya diketahui menempuh studi magister dan doktoral di Utrecht University, Belanda, dengan biaya pendidikan yang sangat besar. Suami Dwi Sasetyaningtyas ini harus mengganti biaya kuliah S2 dan S3 di Belanda ditambah komponen beasiswa diperkirakan menembus miliaran rupiah.
LPDP menegaskan proses penghitungan denda masih berjalan dan belum final. Dalam video yang viral, DS memamerkan paspor anak keduanya yang telah berstatus Warga Negara Inggris, memicu kemarahan publik dan reaksi keras pemerintah. Di sisi lain, Arya sendiri tercatat belum menuntaskan kewajiban pengabdian bagi Indonesia sebagaimana diatur dalam kontrak beasiswa LPDP.
Kepala Divisi Hukum dan Komunikasi LPDP, Lukmanul Hakim, menegaskan bahwa hingga saat ini perhitungan kewajiban Arya belum final karena masih berada dalam tahap verifikasi internal. Pernyataan ini menegaskan bahwa angka pasti dana yang harus dikembalikan Arya belum ditetapkan secara resmi oleh LPDP.
Beasiswa LPDP terdiri dari dua komponen utama, yakni Dana Pendidikan dan Biaya Pendukung. Dana Pendidikan mencakup biaya SPP, pendaftaran, tunjangan buku, bantuan penelitian tesis atau disertasi, seminar dan konferensi internasional, serta publikasi jurnal internasional. Sementara itu, Biaya Pendukung meliputi transportasi, aplikasi visa, asuransi kesehatan, dana kedatangan, biaya hidup bulanan, dana darurat (force majeure), lomba internasional, tunjangan keluarga, hingga insentif kelulusan.
Berdasarkan buku pedoman LPDP tahun 2025, Dana Bantuan Penelitian Tesis/Disertasi memiliki batas maksimal tertentu. Untuk mahasiswa luar negeri, bantuan penelitian disertasi dapat mencapai Rp 120 juta untuk penelitian tanpa laboratorium dan Rp 150 juta untuk penelitian yang menggunakan laboratorium. Dengan mempertimbangkan biaya pendidikan S2, komponen beasiswa LPDP, serta kemungkinan pendanaan selama studi doktoral, total dana pendidikan yang dijalani Arya Pamungkas selama ini diperkirakan melebihi Rp 2 miliar.
Angka tersebut masih bersifat estimasi dan menunggu hasil verifikasi resmi LPDP. Namun, polemik ini telah menegaskan satu hal: beasiswa negara bukan sekadar fasilitas pendidikan, melainkan amanah publik yang menuntut kepatuhan penuh terhadap kontrak, komitmen pengabdian, dan tanggung jawab moral kepada bangsa.
3. Blacklist dari Lingkup Pemerintahan

Respons keras buntut pernyataan alumnus LPDP dilontarkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menegaskan akan mem-blacklist Dwi Sasetyaningtyas sehingga tidak dapat bekerja di seluruh lingkup pemerintahan. “Nanti saya akan blacklist dia di seluruh pemerintahan tidak akan bisa masuk,” tegas Purbaya pada Senin (23/2/2026).
Purbaya sangat menyesalkan sikap Dwi Sasetyaningtyas yang dinilai telah menghina negara Indonesia. Berkaca dari kasus itu, ia menegaskan akan menegakkan aturan di LPDP. “Saya harap teman-teman yang dapat pinjaman dari LPDP kalau enggak senang ya tidak usah menghina negaralah. Jangan menghina negara sendiri,” ungkapnya.
Klarifikasi Dwi Sasetyaningtyas
Menanggapi gelombang kritik yang muncul, Dwi Sasetyaningtyas akhirnya menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf melalui akun media sosialnya. Ia mengakui ucapannya telah memicu polemik dan menimbulkan salah paham di tengah masyarakat. “Saya meminta maaf atas pernyataan saya yang menimbulkan kegaduhan dan melukai perasaan banyak pihak. Tidak ada sedikit pun niat saya untuk merendahkan bangsa sendiri. Saya bangga menjadi WNI,” tulisnya, dikutip dari Wartakotalive.om.
Ia menegaskan bahwa video tersebut merupakan ekspresi pribadi sebagai orang tua, bukan bentuk sikap terhadap Indonesia. Berikut pernyataan dan permintaan maaf lengkap dari Dwi:
“Sehubungan dengan unggahan saya sebelumnya yang memuat kalimat ‘cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan’, dengan ini saya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat yang merasa tersakiti, tersinggung, maupun tidak nyaman atas pernyataan tersebut.
Pernyataan tersebut lahir sepenuhnya dari rasa kecewa, lelah, dan frustrasi pribadi saya sebagai Warga Negara Indonesia terhadap berbagai kondisi yang saya rasakan.
Namun, saya menyadari bahwa kekecewaan tersebut tidak seharusnya disampaikan dengan cara yang berpotensi melukai perasaan banyak orang, terlebih berkaitan dengan identitas kebangsaan yang kita junjung bersama.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa kalimat tersebut kurang tepat dan dapat dimaknai sebagai bentuk perendahan terhadap identitas sebagai Warga Negara Indonesia.
Untuk itu, saya mengakui kesalahan saya dalam pemilihan kata dan menyampaikannya di ruang publik. Apa pun latar belakang emosi yang melatarinya, dampak dari pernyataan tersebut tetap menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya.
Melalui pernyataan ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersakiti serta atas kegaduhan yang terjadi.
Saya sangat menghargai setiap kritik dan masukan yang telah disampaikan secara baik dan konstruktif, sebagai pembelajaran untuk terus memperbaiki diri, termasuk belajar berkomunikasi dengan lebih bijaksana, lebih jernih, dan lebih berempati dalam menyampaikan pandangan di ruang publik.
Saya mencintai Indonesia, dengan segala harapan dan tantangannya, dan semoga saya tetap bisa terus berkontribusi untuk Indonesia hari ini dan di masa depan.
Semoga di bulan suci Ramadan ini, kita bisa saling menata hati, memperbaiki diri, dan fokus menjalankan ibadah sepenuh hati.”
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”











