"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Suara Toko Setahun Raymundus – Bernadinus Pimpin Ngada

Sebuah Tahun Kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Ngada

Sejak dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025 di Istana Negara, Raymundus Bena–Bernadinus Dhey Ngebu telah memimpin Kabupaten Ngada selama satu tahun. Dengan visi “Membangun Desa, Menata Kota”, pasangan ini berupaya membawa daerah tersebut menuju kemajuan yang lebih berdaya saing.

Selama setahun terakhir, sejumlah program telah dijalankan untuk mendukung berbagai sektor penting di Kabupaten Ngada. Di bidang kebudayaan, pemerintah daerah memberikan dukungan pembangunan rumah adat (Sao) sebagai bentuk pelestarian tradisi dan identitas lokal. Hal ini menjadi langkah penting dalam menjaga kekayaan budaya masyarakat setempat.

Di sektor pendidikan, Bupati Raymundus dan Wakil Bupati Bernadinus mendorong kolaborasi dengan sejumlah kampus di luar NTT guna membuka akses beasiswa bagi calon mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Selain itu, Pemda Ngada juga mengalokasikan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) daerah bagi siswa-siswi dari keluarga prasejahtera. Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua anak memiliki kesempatan yang sama dalam mengejar pendidikan.

Untuk mendukung pelaku UMKM, Dinas Koperasi Kabupaten Ngada menyalurkan bantuan modal usaha sebesar Rp5 juta bagi pelaku usaha kecil sebagai stimulus pengembangan bisnis. Namun, beberapa pelaku usaha masih merasa belum mendapatkan dukungan nyata.

Masih Ada Harapan dan Catatan

Meskipun banyak program telah dijalankan, masyarakat masih menyampaikan berbagai catatan dan harapan agar visi-misi yang diusung benar-benar dirasakan hingga ke lapisan bawah. Hermanus Lobo, warga Bogenga, Kecamatan Bajawa, memberikan apresiasi terhadap perhatian pemerintah pada pelestarian adat dan budaya. Namun ia menilai sektor-sektor mendasar seperti UMKM, pertanian, dan infrastruktur dasar masih perlu perhatian lebih serius.

“Sudah masukkan proposal UMKM di Dinas Koperasi, tapi tidak ada realisasi. Mungkin negara tidak ada uang, kita juga tidak tahu,” ujarnya. Ia mengaku selama ini pelaku usaha kecil hanya mendapat motivasi tanpa dukungan modal yang jelas.

“Kami hanya diberikan motivasi, suruh bikin kelompok, bikin proposal, tetapi tidak ada yang realisasi,” kata Hermanus. Menurutnya, petani juga membutuhkan dukungan konkret seperti alat semprot, obat-obatan pertanian, serta pendampingan berkelanjutan.

“Petani butuh alat semprot, obat-obatan. Kita belum pernah dapat bantuan itu,” tambahnya. Ia menilai pemerintah saat ini sudah menunjukkan niat baik, terutama dalam dukungan kegiatan adat seperti Reba dan bantuan bagi masyarakat miskin, meski belum menjangkau semua kalangan.

Namun demikian, ia berharap perhatian pemerintah juga menyasar pedagang kecil di pasar dan Petani.

“Harapan kepada pemerintah, bantu modal sedikit-sedikit,” pungkasnya.

Masih Ada Ketidakpuasan

Hal senada disampaikan Lukas, pedagang di kompleks pertokoan Kota Bajawa. Ia menilai belum ada perubahan signifikan yang dirasakan masyarakat kecil.

“Macam tidak ada perubahan, ini menurut saya,” ujar Lukas. Menurutnya, sejumlah janji kampanye belum terlihat realisasinya, termasuk pembangunan jalan di kawasan Wae Woki yang menjadi akses vital bagi warga.

“Kami di bawah jembatan Wae Woki dijanjikan jalan akan diaspal, sampai hari ini belum ada,” katanya. Ia berharap pemerintah dapat menepati janji-janji kampanye demi kepentingan masyarakat luas.

“Saya punya harapan yang penting bapa sesuaikan dengan janji-janji kampanye dulu, untuk umumlah,” harap Lukas.

Momentum Evaluasi dan Harapan

Setahun kepemimpinan Raymundus–Bernadinus menjadi momentum refleksi bagi pemerintah daerah untuk mengevaluasi capaian sekaligus menjawab harapan masyarakat kecil yang masih menanti sentuhan nyata. Di tengah berbagai program yang telah berjalan, suara pedagang dan petani menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya soal visi besar, tetapi juga tentang kehadiran konkret pemerintah dalam menguatkan ekonomi rakyat dari bawah.

Tahun kedua kepemimpinan ini pun diharapkan menjadi fase percepatan realisasi janji, agar slogan “Membangun Desa, Menata Kota” benar-benar dirasakan hingga ke pasar dan kebun rakyat.

Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *