"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Budaya  

Kurma Ungguli Gorengan di Menu Buka Puasa Pekan Pertama Tasikmalaya

Daftar Menu Buka Puasa Favorit di Kabupaten Tasikmalaya

Di pekan pertama Ramadan 2026, masyarakat Kabupaten Tasikmalaya memiliki preferensi khusus dalam memilih menu buka puasa. Berdasarkan survei yang dilakukan, buah kurma menjadi menu favorit dengan nilai 100 poin. Posisi kedua ditempati oleh gorengan dengan skor 69 poin, kemudian es buah dengan 60 poin, disusul es cendol dengan 54 poin. Selanjutnya adalah kolak dengan 53 poin, es campur dengan 27 poin, dan tutug oncom serta mi bakso berada di papan bawah.

Alun-alun Manonjaya sebagai Tempat Ngabuburit Favorit

Salah satu lokasi yang sering dikunjungi warga untuk ngabuburit adalah Alun-alun Manonjaya. Terletak sekitar 14 kilometer dari Kota Tasikmalaya ke arah Timur, tempat ini menjadi pilihan utama selain Alun-alun Singaparna yang berada di sebelah baratnya. Setiap menjelang berbuka puasa, Alun-alun Manonjaya dipenuhi oleh berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari anak-anak yang bermain bola atau main layang-layang pendek hingga orang dewasa yang sekadar mengaso atau mencari takjil.

Di sekitar alun-alun, para pedagang membuka lapak mereka di area petakan seluas sekitar 1000 meter persegi. Mereka menjajakan berbagai makanan ringan, minuman segar, bahkan menyewakan mainan untuk anak-anak.

Pengalaman Warga Saat Menghabiskan Waktu di Alun-alun Manonjaya

Wida Asmara, seorang warga setempat, mengaku rutin menghabiskan waktu hingga berbuka puasa di Alun-alun Manonjaya. Ia menilai tempat ini ramai dan membuat waktu terasa cepat. “Karena rame ya, banyak orang, jadi waktu tuh enggak kerasa. Suka tiba-tiba azan maghrib saja,” ujarnya.

Selain itu, Alun-alun Manonjaya juga dekat dengan Masjid Agung Manonjaya yang bersejarah. Setelah berbuka puasa, warga bisa langsung melanjutkan ibadah salat maghrib di masjid tersebut.

Perkembangan Usaha Kuliner Selama Ramadan

Hani, seorang penjual kuliner ala Korea, mengatakan bahwa Ramadan kali ini lebih ramai dibanding tahun lalu. Barang dagangannya selalu habis sebelum jam buka puasa. Ia berencana menambah stok untuk momentum ngabuburit hari berikutnya.

Sejarah Masjid Agung Manonjaya

Masjid Agung Manonjaya merupakan salah satu bangunan bersejarah yang berada di Kecamatan Manonjaya. Dibangun pada tahun 1837, masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Awalnya, masjid ini hanya berupa surau kecil yang berada di lokasi yang sekarang menjadi tempat pembangunan masjid.

Rusliana, Juru Pelihara Masjid Agung Manonjaya selama 20 tahun, menjelaskan bahwa pembangunan masjid ini dilakukan di bawah kepemimpinan Raden Tumenggung Danuningrat. Pada tahun 1889, ada tambahan bangunan seperti koridor dan selasar, serta dua menara di sebelah Timur.

Menara masjid terbuat dari tanah liat hasil pengrajin Desa Kawasen, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis. Menurut cerita, puncak menara tersebut berasal dari masjid di Pamijahan yang merupakan peninggalan Syekh Abdul Muhyi.

Status Masjid Agung Manonjaya sebagai Cagar Budaya

Pada tahun 1999, Masjid Agung Manonjaya ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Arsitektur bangunan ini tetap dipertahankan hingga saat ini, termasuk 61 tiang penyangga beserta koridor dan selasar khas.

Masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga sebagai living monumen yang masih aktif digunakan untuk kegiatan keagamaan. Keberadaannya menjadi bukti penting dari jejak sejarah Islam di Indonesia.

Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *