Sejarah dan Tradisi Azan Pitu di Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang berada di kawasan Kesepuhan, Kota Cirebon, tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol perjumpaan antara budaya, dakwah, dan tradisi. Dengan arsitektur yang memadukan unsur Islam, Jawa, serta Hindu-Buddha, masjid ini menjadi salah satu yang tertua di Indonesia. Di balik dinding bata merah tanpa plester, tersimpan jejak sejarah panjang penyebaran agama Islam di wilayah ini.
Mihrab Kuno dan Jejak Akulturasi Budaya
Dari pengamatan di lokasi, mihrab atau bagian tempat imam memimpin salat tampak anggun dengan detail ukiran batu bata kuno. Struktur tersebut mencerminkan perpaduan gaya Islam dan Jawa-Hindu. Di dalam celah mihrab, kini terdapat pendingin udara modern dan sajadah di lantai, menunjukkan adanya perpaduan antara masa lalu dan masa kini.
Di sisi kiri, sebuah jam kayu besar berdiri menghadirkan kesan klasik dan historis. Memasuki bagian dalam, konstruksi kayu Soko Guru terlihat kokoh menopang atap. Lampu gantung kristal besar menggantung di tengah ruangan. Beberapa jemaah laki-laki duduk bersila di atas karpet hijau, khusyuk mengikuti kegiatan keagamaan. Di area serambi, beberapa jemaah tampak beristirahat di atas karpet merah. Rak-rak kitab berjajar di bagian belakang, lengkap dengan papan penanda ‘Batas Suci’ dan jam dinding besar. Suara mesin dari sudut bangunan mengindikasikan adanya pekerjaan perawatan atau renovasi ringan.
Bagian luar masjid menampilkan dinding bata merah khas arsitektur Cirebonan, serupa dengan bangunan keraton di sekitarnya. Papan informasi berbentuk gunungan bertuliskan nama masjid berdiri di dekat gerbang, dengan sepeda motor terparkir dan warga duduk santai di tepi jalan.
Sejarah Azan Pitu dan Sosok Menjangan Wulung
Azan Pitu adalah tradisi unik yang lahir dari peristiwa luar biasa pada masa awal berdirinya masjid. Pengurus Masjid Agung Sang Cipta Rasa, M Ismail, menjelaskan bahwa azan ini tidak biasa karena dilakukan oleh tujuh orang muazin, bukan hanya satu seperti biasanya. Awalnya, azan tujuh orang dikumandangkan setiap salat lima waktu.
Kisah turun-temurun menyebutkan bahwa gangguan yang dilakukan oleh seorang tokoh bernama Menjangan Wulung menyebabkan setiap muazin yang mengumandangkan azan akan jatuh sakit akibat serangan gaib. Hingga akhirnya, azan dilakukan oleh tujuh orang secara bersamaan. Setelah itu, Azan Pitu dipercaya mampu menangkal gangguan dan bala. Bahkan selama situasi wabah, tradisi ini kembali dikumandangkan sebagai ikhtiar spiritual.
Kini Hanya Dilaksanakan pada Salat Jumat
Seiring kondisi yang dinilai lebih kondusif, para sesepuh masjid memutuskan untuk mengubah pelaksanaan Azan Pitu. Kini, azan ini hanya dikumandangkan pada Salat Jumat, bukan lagi lima waktu seperti dahulu. Hasil musyawarah menyebutkan bahwa azan lima waktu kembali ke satu orang muazin, sementara Azan Pitu dialihkan ke Salat Jumat.
Tradisi ini dijalankan secara turun-temurun oleh para pengurus masjid yang merupakan keturunan pengurus sebelumnya. Setiap pengurus masjid di sini merupakan bagian dari turun-temurun keturunan pengurus juga. Jika tidak memiliki keturunan laki-laki, biasanya tugas diambil oleh keponakan atau saudara laki-laki.
Tujuh muazin berdiri berjejer di depan ruang utama masjid, masing-masing memegang mikrofon dan menutup telinga. Nada azan dilantunkan datar, tanpa banyak cengkok. “Nadanya dari dulu tidak ada cengkoknya, nadanya datar saja,” ujar Ismail.
Dalam pelaksanaannya, terdapat keterlibatan dua kesultanan Cirebon, yakni Kesultanan Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Warna seragam menjadi penanda petugas yang bertugas. “Kalau sekarang pakai seragamnya hijau, berarti petugasnya dari Keraton Kanoman. Kalau pakai seragam putih, berarti dari Kasepuhan.”
Total pengurus masjid mencapai sekitar 30 orang, terbagi dalam beberapa kelompok tugas, mulai dari imam, khatib, muazin, hingga marbot. Bagi masyarakat Cirebon, Azan Pitu bukan sekadar tradisi, tetapi pengingat sejarah perjuangan dakwah dan simbol kewaspadaan menjaga warisan leluhur. Di tengah modernitas, suara tujuh muazin yang bersahutan setiap Jumat menjadi gema masa lalu yang terus hidup di jantung kota wali.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











