"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Budaya  

Fitur: Tenunan Ikat Praikamaru Tondambitu, Menenun Sambil Menantikan Wisatawan

Kehidupan Seorang Penenun di Galeri Tenun Ikat Praikamaru

Di dalam galeri, Mama Tondambitu serius memasang sehelai demi sehelai benang tenun pada selendang dengan alat tradisional yang dipangku di atas kedua pahanya. Ia merapikan benang satu per satu. Dengan cepat, namun presisi. Dengan kacamata polos dan bergagang hitam ia terlihat sangat cermat.

Mama Tondambitu cekatan menarik kayu-kayu kecil ke arah belakang, lalu menarik benang ke arah atas untuk menguatkan benang-benang tenunnya sebelum berbentuk selendang khas dari daerah Sumba Timur.

“Lagi tenun selendang, ikat di tengah, songket di pinggir,” kata Mama Tondambitu kepada Pos Kupang, Selasa (10/2/2026).

Mama Tondambitu bercerita, untuk menyelesaikan satu buah selendang biasa, membutuhkan waktu sampai empat hari. Namun, jika sedang sibuk, bisa menghabiskan waktu sampai dua minggu.

“Kalau tenun biasa hanya empat hari selesai,” ujar Mama Tondambitu.

Mama Tondambitu tidak lagi muda. Kini ia berusia 60 tahun. Ia menenun sejak masih muda. Tepatnya saat ia usia 22 tahun.

Mama Tondambitu menceritakan, selain meneruskan warisan budaya Sumba Timur melalui kain tenun, kehidupan ekonominya juga dikuatkan dari hasil menenun. Pun untuk kebutuhan sehari-hari. Untuk urusan adat keluarga dan untuk berbagai keperluan lainnya. Semuanya bersumber dari tenunan.

Namun, kondisi belakangan ini, terasa berbeda. Wisatawan tidak lagi terlihat ramai mengunjungi galerinya seperti sebelumnya.

Mama Tondambitu mengaku tidak cemas. Tetapi Mama Tondambitu berharap situasi ini tidak berlangsung lama. Ia berharap wisatawan, dari manapun asalnya datang berkunjung ke Galeri Tenun Ikat Praikamaru dan membeli produk tenunannya.

“Kami mengharapkan pembeli di sini,” ungkap Mama Tondambitu.

Saat ditemui, Mama Tondambitu tidak sendiri. Dua penenun lain menemaninya sambil bercerita dan mengunyah pinang. Tak jauh dari Mama Tondambitu, Bapa Pendi (53) juga melakukan aktivitas serupa. Menghadap ke halaman depan galeri, ia menggulung benang-benang selendang yang telah selesai ditenun di atas kakinya.

Ia memelintir benang itu yang menjadi bagian terakhir dari tenunannya. “Ini sedang pelintir ujung kain kombu,” katanya sambil memutar satu per satu benang dari kain sepanjang lebih dari tiga meter.

Harapannya sama dengan Mama Tondambitu. Ia berharap ada kunjungan wisatawan dan membeli kain tenun mereka di situ. Itu saja.

Galeri Tenun Ikat Praikamaru berada di Kampung Raja Prailiu di Jalan Umbu Rara Meha, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur. Kampung wisata ini merupakan salah satu destinasi wisata budaya yang lokasinya paling dekat dengan pusat Kota Waingapu.

Galeri tersebut menjadi etalase tenunan masyarakat kampung untuk dipamerkan. Selain galeri tenun, kampung adat ini juga memiliki rumah adat Sumba yang masih terjaga, kuburan batu megalitik, dan dengan kepercayaan asli Sumba, yakni Marapu yang masih kuat.

Di kampung ini, pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan kain tenun Sumba Timur. Saat ini, terdapat 20 pengrajin tenun di galeri tersebut.

Galeri ini menyediakan kain Sumba Timur dengan pewarna alami, pewarna kimia dan pewarna campuran. Harganya bervariasi. Untuk pewarna alami, harga berkisar dari Rp 5 juta hingga Rp 25 juta. Sementara kain dengan pewarna kimia harga di bawahnya.

Model dan motif yang tersedia pun beragam. Selain kain, tersedia juga aksesori seperti gelang, kalung dengan harga sesuai tingkat kerumitan pembuatannya.

“Kita menyesuaikan dengan segmentasi pasar,” kata Ketua Adat Kampung Raja Prailiu Praikamaru, Umbu Remi. Umbu Remi juga adalah pengurus galeri itu.

Respon terhadap permintaan pasar, Galeri Praikamaru juga telah menyediakan baju kain yang bisa dipakai pengunjung untuk berfoto persiapan pernikahan atau lainnya. Ada juga kuda tunggangan untuk difoto. Harganya Rp 250.000. Pengunjung sudah bisa berfoto sampai merasa puas.

Untuk meningkatkan promosi dan penjualan, galeri ini sudah memanfaatkan media sosial TikTok. Nama akunnya sama. Galeri Tenun Ikat Praikamaru.

Berbagai produk ditayangkan juga di TikTok itu sehingga pembeli tidak harus datang langsung ke kampungnya. Namun, bagi yang ingin melihat langsung proses pembuatan kain, pengunjung disarankan bisa datang ke lokasi dan bercerita lebih dekat dengan Mama Tondambitu dan Bapa Pendi.


Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *