Peran Bahasa Sasak dalam Identitas Budaya dan Kehidupan Masyarakat
Bahasa merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia. Dalam konteks masyarakat Sasak di Pulau Lombok, bahasa Sasak sebelumnya menjadi kebanggaan bagi seluruh lapisan masyarakat, baik tua maupun muda. Namun, kini terlihat bahwa penggunaan bahasa Sasak semakin menurun, terutama di kalangan generasi muda. Hal ini dapat dilihat dari berbagai sisi, seperti penggunaan bahasa ibu yang lebih cenderung mengarah pada bahasa Indonesia atau bahasa asing.
Penggunaan Bahasa Sasak yang Menurun
Salah satu indikator penurunan penggunaan bahasa Sasak adalah adanya perubahan pola sapaan antar anggota keluarga. Banyak anak tidak lagi menggunakan sapaan tradisional dalam bahasa Sasak, melainkan beralih ke sapaan dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing. Contohnya, istilah “bapak”, “mama”, atau “papi” sering digunakan untuk menyapa orang tua, bukan “abi” atau “abah” yang biasanya digunakan dalam bahasa Sasak.
Selain itu, banyak generasi muda Sasak juga cenderung menggunakan kata-kata gaul dari bahasa asing, seperti “bro”, “gaes”, atau “bestie”, dalam komunikasi sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Sasak mulai dianggap tidak “kekinian” dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Bahasa Sasak sering kali dipandang sebagai bahasa yang kolot, tidak relevan, atau tidak memberikan manfaat ekonomi dan karir.
Fenomena Campur Kode Bahasa
Tidak hanya dalam sapaan, fenomena campur kode bahasa juga sering terjadi dalam komunikasi sehari-hari. Banyak orang menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing dalam percakapan yang seharusnya menggunakan bahasa Sasak. Misalnya, dalam rapat atau musyawarah, istilah seperti “meeting” sering digunakan alih-alih istilah dalam bahasa Sasak seperti “sangkep” atau “gundem”.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di perkotaan, tetapi juga di daerah pedesaan. Meskipun banyak masyarakat Sasak masih berbicara dalam bahasa Sasak, praktik campur kode tersebut sering dilakukan untuk menunjukkan kesan “lebih modern” atau “lebih keren”. Padahal, hal ini justru merusak khazanah kosakata dan struktur bahasa Sasak sendiri.
Bahasa Sasak dan Ancaman Kepunahan
David Crystal, seorang tokoh linguistik, pernah mengatakan bahwa “To say that language is dead is like saying that a person is dead.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa eksistensi suatu bahasa sangat bergantung pada eksistensi penuturnya. Jika penutur asli suatu bahasa telah hilang dan tidak ada generasi penerus yang memahami bahasa tersebut, maka bahasa itu akan punah.
Di Indonesia, beberapa bahasa daerah telah punah akibat berbagai faktor, termasuk tekanan globalisasi dan sikap penutur asli. Salah satunya adalah bahasa Tambora di Pulau Sumbawa, yang punah setelah letusan Gunung Tambora pada tahun 1815. Bahasa-bahasa lain seperti Kasabe di Kamerun juga sudah punah karena tidak ada penutur asli yang tersisa.
Dalam konteks bahasa Sasak, ancaman kepunahan juga nyata. Jika generasi muda tidak lagi bangga menggunakan bahasa Sasak dan tidak mengajarkan bahasa ini kepada anak-anak mereka, maka bahasa Sasak bisa saja menghilang dalam waktu singkat.
Mengapa Bahasa Sasak Perlu Dipertahankan?
Bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai identitas budaya dan cara pandang dunia. Ketika seseorang tidak memahami bahasa daerahnya, maka ia kehilangan bagian dari identitasnya. Bahasa Sasak memiliki nilai-nilai budaya, pengetahuan, dan pandangan dunia yang unik. Jika bahasa ini punah, maka nilai-nilai tersebut juga akan hilang.
Selain itu, bahasa Sasak juga menjadi simbol pembeda komunitas Sasak dari komunitas lain di Indonesia. Hilangnya bahasa Sasak berarti hilangnya penanda unik yang membedakan masyarakat Sasak dari yang lain.
Strategi Pemertahanan Bahasa Sasak
Untuk menjaga keberlangsungan hidup bahasa Sasak, diperlukan langkah-langkah konkret dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat. Beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain:
- Pendidikan: Bahasa Sasak perlu diajarkan di sekolah-sekolah, baik SD, SMP, SMA, maupun perguruan tinggi. Kamus dan buku hasil penelitian tentang bahasa Sasak dapat menjadi referensi dalam pembelajaran.
- Penggunaan di Ruang Publik: Pemerintah daerah dapat memperkenalkan penggunaan bahasa Sasak dalam informasi publik, seperti di bandara, stasiun, rumah sakit, dan tempat-tempat umum lainnya. Hal ini tidak hanya menjaga identitas lokal, tetapi juga membantu masyarakat lokal memahami informasi yang disampaikan.
- Kolaborasi dengan Komunitas Lokal: Pemerintah dapat bekerja sama dengan komunitas seni, penulis, dan kreator konten untuk memproduksi karya yang menggunakan bahasa Sasak. Hal ini dapat membantu mempopulerkan bahasa Sasak di kalangan masyarakat.
- Penghargaan atas Upaya Pelestarian: Pemerintah perlu memberikan apresiasi kepada para pelaku yang aktif merawat dan memopulerkan bahasa Sasak. Hal ini dapat meningkatkan motivasi dan semangat masyarakat untuk menjaga keberlanjutan bahasa Sasak.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan bahasa Sasak tetap hidup dan menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Sasak di Pulau Lombok.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











