Pentingnya Menjaga Hati dan Menghindari Riya dalam Kehidupan Seorang Muslim
Setiap manusia memiliki peran dan tugas tertentu dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Tugas tersebut tidak hanya berbeda-beda, tetapi juga saling terhubung satu sama lain. Dalam konteks keimanan, objek penting yang dimaksud adalah pikiran dan hati. Keduanya menjadi dua inti utama yang membimbing seorang muslim dalam menjalani hidup sesuai dengan arah dan jalan yang benar.
Pikiran, yang sering disebut sebagai akal, merupakan alat yang diberikan oleh Allah untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan aturan serta perintah agama. Sementara itu, hati atau yang biasa dikenal dengan qolbu memiliki hubungan langsung dengan sang pencipta. Hati menjadi titik utama dari hasil perbuatan yang bijak maupun maksiat. Oleh karena itu, hati perlu terus dijaga dan dibersihkan dari berbagai pengaruh buruk dalam kehidupan yang bisa berakibat fatal bagi seorang muslim.
Dalam khutbah Jumat, topik penting ini diulas sebagai pengingat bagi setiap muslim akan bahaya penyakit hati, khususnya sifat riya. Riya adalah bentuk ketaatan yang dilakukan agar dilihat oleh orang lain dengan tujuan mengharapkan pujian darinya. Untuk itu, penting bagi kita untuk selalu ikhlaskan niat hanya karena Allah ta’ala dan tidak sampai jatuh pada maksiat riya.
Khutbah I
Segala puji bagi Allah, Raja yang adil. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, pemimpin putra Abdullah, serta keluarga dan sahabatnya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, satu-satunya, tanpa sekutu, yang terlepas dari tubuh, arah, waktu, dan tempat. Aku juga bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang kesopanannya adalah Al-Qur’an.
Saudara-saudara yang dirahmati oleh Allah, takwa adalah kata yang ringan untuk diucapkan, tetapi berat dalam timbangan amal perbuatan. Tempatnya adalah hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk ke dadanya tiga kali dan berkata: “Takwa ada di sini, takwa ada di sini” (HR Ahmad dalam Musnad-nya). Jadi, hati adalah pemimpin anggota badan. Jika hati baik, maka seluruh anggota badan akan baik sehingga orang menjadi bertakwa. Sebaliknya jika hati rusak, maka anggota badan menjadi rusak sehingga orang menjadi pelaku maksiat.
Oleh karena itu, mari kita perbaiki hati kita dengan menerapkan adab-adab yang diajarkan dalam Islam secara lahir dan batin. Kita obati hati dengan mengikuti ajaran Allah ta’ala dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penyakit-penyakit hati itu hanya bisa diobati dengan kesungguhan kita mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya.
Di antara penyakit hati adalah riya’, yaitu melakukan bentuk ketaatan agar dilihat oleh orang lain dengan tujuan mengharapkan pujian darinya. Mari kita ikhlaskan niat selalu hanya karena Allah ta’ala dan jangan sampai jatuh pada maksiat riya’. Sahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu meriwayatkan hadits qudsi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah berfirman:
“Aku tidak menerima tujuan lain dalam beramal, barangsiapa melakukan satu amal perbuatan dan memiliki tujuan lain selain ridha-Ku, maka Aku akan meninggalkannya dan tidak menerimanya” (HR Muslim).
Oleh karenanya, mari kita jadikan ridha Allah Sang pencipta kebaikan dan keburukan sebagai tujuan kita. Kita ikhlaskan niat karena Allah dan jangan kita pedulikan apakah orang mencela atau memuji kita. Sungguh kebaikan seluruhnya ada pada ridha Allah subhanahu wa ta’ala.
Jika kita melakukan shalat, maka kita lakukan karena Allah. Jika kita bersedekah, maka kita bersedekah karena Allah. Jika kita perindah akhlak, kita lakukan itu karena Allah. Jika kita belajar ilmu agama, maka juga karena Allah. Jika kita mengajarkan ilmu agama, maka kita mengajar karena Allah. Jika kita menaati Allah, maka kita taat karena semata-mata ingin meraih ridha-Nya. Jika kita melakukan itu semua bukan karena Allah melainkan karena tujuan-tujuan lain, maka sia-sialah umur kita dan alangkah ruginya waktu kita.
Demikian khutbah singkat ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.
Khutbah II
Segala puji bagi Allah, yang cukup bagi kita. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, yang dipilih oleh Allah, serta keluarga dan sahabatnya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, satu-satunya, tanpa sekutu. Aku juga bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Saudara-saudara muslimin, aku nasihatkan kalian dan diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Ketahuilah bahwa Allah memerintahkan kalian dengan perintah yang besar, yaitu shalat dan salam atas Nabi-Nya yang mulia. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu kepadanya dan ucapkanlah salam sebanyak-banyaknya.”
Ya Allah, berikanlah rahmat dan keselamatan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya seperti Engkau memberikan rahmat dan keselamatan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Berikanlah berkah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya seperti Engkau memberikan berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, para mukmin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang sudah tiada. Ya Allah, jauhkanlah kami dari bencana, kenaikan harga, wabah penyakit, kemungkaran, kezaliman, berbagai bentuk kekerasan, dan kesengsaraan. Semua hal itu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, terutama di negeri kami ini dan seluruh negeri-negeri kaum muslimin. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Tuhan kami, janganlah Engkau menyiksa kami jika kami lupa atau salah. Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak mampu kami tanggung. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan kasihanilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir. Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia ini dan kebaikan di akhirat, serta jauhkanlah kami dari siksa api neraka.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Saudara-saudara Allah, sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan, kebaikan, memberi kepada kerabat dekat, dan melarang kemungkaran, kekejian, dan kezaliman. Ia memberi peringatan agar kalian ingat. Maka ingatlah Allah yang Maha Agung, niscaya Dia akan mengingat kalian. Dan sesungguhnya, mengingat Allah adalah yang terbesar.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











