Jejak Jeffrey Epstein dalam Diplomasi dan Pengaruh Politik
Jeffrey Epstein, seorang predator seksual yang dikenal dengan jaringan elitnya, tampaknya memiliki peran yang lebih dalam dari yang terlihat. Dalam beberapa dokumen yang diungkap oleh Departemen Kehakiman AS, terungkap bahwa Epstein tidak hanya berurusan dengan masalah pribadi, tetapi juga terlibat dalam diplomasi internasional yang melibatkan negara-negara Teluk.
Dalam salah satu emailnya, Epstein mengatakan kepada seorang pengusaha Qatar bahwa Doha perlu “bernyanyi dan menari” menuruti Israel untuk mendapatkan dukungan Presiden AS Donald Trump selama blokade terhadap negara kecil Teluk tersebut. Email ini menunjukkan bahwa Epstein memanfaatkan ketegangan antara Qatar dan negara-negara Arab lainnya, seperti UEA dan Arab Saudi, untuk mendorong hubungan dengan Israel.

Jeffrey Epstein, kiri, bersama Donald Trump di perkebunan Mar-a-Lago milik presiden saat ini di Florida pada 1997. – (Media Sosial)
Epstein, yang merupakan warga ganda AS-Israel, memiliki hubungan dengan jaringan intelijen dan pedagang senjata sejak tahun 1980-an. Dia sangat dekat dengan mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak. Pada 2019, Epstein meninggal secara misterius di penjara New York, yang dianggap sebagai bunuh diri. Namun, ia terus memantau perkembangan politik di Teluk hingga menjelang kematiannya.
Pada 30 Juni 2017, Epstein menyarankan agar invasi ke Qatar dicegah karena militer Turki telah mengerahkan kekuatan ke negara Teluk tersebut. Ini tertulis dalam emailnya kepada seorang pria bernama Anas al-Rasheed, yang tampaknya adalah seorang profesor Kuwait yang juga menjabat sebagai menteri kabinet.
Pada Juli 2017, Epstein menyatakan dirinya sebagai mediator yang dapat memperbaiki masalah Qatar. Ia menulis kepada Rasheed bahwa jika orang-orang Qatar bisa mengatur pertemuan antara mantan perdana menteri Qatar dan putra mahkota Saudi, itu akan menjadi langkah yang baik. Meskipun tidak jelas apakah pertemuan tersebut benar-benar terjadi, Epstein berhasil menjadi perantara antara Barak dan pejabat Qatar.
Dokumen Terkait Epstein dan Pengaruh Politik
Pada Jumat pekan lalu, Departemen Kehakiman AS merilis file terkait Epstein termasuk memorandum FBI tahun 2020 yang telah menarik perhatian besar. Dokumen tersebut mencakup serangkaian tuduhan serius tentang kelindan politik Israel dan AS yang melibatkan Donald Trump, Jared Kushner, kelompok Chabad Lubavitch, dan intelijen Israel.
Semua tuduhan itu merujuk pada satu Sumber Manusia Rahasia (CHS), sebagaimana dicatat oleh FBI. Memo tersebut memberikan informasi yang terbatas mengenai identitas CHS, namun substansi pelaporannya menunjukkan bahwa individu tersebut memiliki koneksi sosial, kedudukan yang baik, dan akrab dengan jaringan elit politik, donor, dan intelijen.
Menurut CHS, sebagaimana tercatat dalam memorandum FBI tahun 2020: Donald Trump telah “dikompromikan oleh Israel.” CHS menegaskan bahwa kepentingan Israel mempunyai pengaruh terhadap Trump dan bahwa pengaruh ini membentuk kepresidenannya.
Laporan itu juga menyatakan kelompok Chabad Lubavitch berusaha untuk “mengkooptasi kepresidenan Trump.” CHS menggambarkan Chabad sebagai jaringan yang aktif secara politik dengan saluran pengaruh baik dalam struktur kekuasaan Israel maupun Rusia.

Petinggi kelompok Yahudi Chabad Lubavitch bertemu Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih pada September 2025. – (X/Chabad)
Didirikan pada abad ke-19, cabang dari Yahudi Haredi ini salah satu kelompok Yahudi paling berpengaruh. Ribuan institusinya tersebar di berbagai wilayah di dunia. Mulanya berdiri di Rusia, kelompok ini kemudian memindahkan markas ke Amerika Serikat pada abad ke-20.
Jared Kushner, menantu Trump, disebut sebagai saluran utama pengaruh Chabad ini. CHS mengklaim Kushner adalah “otak sebenarnya di balik organisasi [Trump] dan kepresidenannya,” dan bahwa ikatan ideologis dan pribadinya dengan Chabad memposisikannya sebagai vektor utama pengaruh asing.
Dokumen itu juga mengungkapkan putri Trump, Ivanka dan Jared Kushner mengunjungi makam Rabbi Menachem Mendel Schneerson pada hari Trump terpilih pada periode pertama pada 2018, yang ditafsirkan CHS sebagai tindakan simbolis keselarasan dengan garis keturunan kepemimpinan Chabad.

Menlu UEA Anwar Mohammed Gargash (tengah), penasihat senior Gedung Putih Jared Kushner (kiri), dan penasihat keamanan nasional Israel Meir-Bin Shabbat (kanan) di Abu Dhabi. – (EPA)
CHS juga menyatakan bahwa Epstein dekat dengan mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak dan mengklaim Epstein dilatih sebagai mata-mata di bawah bimbingannya. Berdasarkan keyakinan dan interaksi ini, CHS menjadi yakin bahwa Epstein adalah “agen Mossad yang terkooptasi.”
CHS juga melaporkan bahwa profesor ternama di AS Alan Dershowitz mempengaruhi mahasiswa kaya di Harvard, termasuk Jared Kushner dan saudaranya. CHS mengklaim Dershowitz mengatakan kepada mereka bahwa jika dia lebih muda, dia akan “memegang senjata bius sebagai agen intelijen Israel.”
Keluarga Kushner juga disebut memiliki hubungan mendalam dengan Israel dan sejarah praktik bisnis yang dipertanyakan, mengutip artikel tahun 2004 yang dirujuk oleh CHS.











