"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Dua Kader Golkar Bergabung ke PSI, Sarmuji Sebut Persaingan Internal Ketat

Perpindahan Kader Golkar ke PSI dan Dinamika Politik di Indonesia

Dua kader Partai Golkar Bali, I Wayan Suyasa dan I Komang Suarsana, memutuskan untuk bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Keputusan ini menimbulkan reaksi dari Partai Golkar, yang menilai perpindahan tersebut disebabkan oleh ketatnya persaingan internal dalam partai berlambang pohon beringin tersebut.

Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Sarmuji, menyatakan bahwa fenomena keluar-masuknya kader adalah hal wajar. Menurutnya, para kader yang tidak mampu bersaing di lingkungan yang kompetitif cenderung mencari tempat lain yang lebih ringan.

Penjelasan Sekjen Golkar

Menurut Sarmuji, keputusan dua kader tersebut terjadi karena tingkat persaingan yang sangat tinggi di Partai Golkar. “Itu sebenarnya hukum alam saja. Yang tidak kuat lagi bersaing di persaingan yang ketat akan mencari tempat yang persaingannya lebih rendah,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa Partai Golkar tetap menjadi magnet bagi politisi dari partai lain yang ingin berkiprah di level persaingan yang lebih tinggi. Meski demikian, Sarmuji mengakui bahwa tidak bisa menghalangi kader yang memilih untuk pindah ke partai lain.

PSI sebagai Tujuan Baru

Dalam beberapa waktu terakhir, PSI semakin menjadi tujuan bagi sejumlah tokoh politik yang sebelumnya berkiprah di partai parlemen. Misalnya, Bupati Penukal Abab Lematang Ilir dua periode, Heri Amalindo, yang sebelumnya merupakan kader PDIP, kini bergabung dengan PSI.

Selain itu, ada juga kader-kader PDIP dari daerah lain yang memilih untuk pindah ke PSI, seperti:

  • Mantan Ketua DPRD Ogan Komering Ilir (OKI)/Ketua DPC PDIP Kabupaten OKI Abdiyanto;
  • Ginda Ferachtriawan (anggota DPRD Kota Surakarta Fraksi PDIP 2019–2024);
  • Dyah Retno Pratiwi (anggota DPRD Kota Surakarta Fraksi PDIP 2019–2024);
  • Wawanto (anggota DPRD Kota Solo dua periode dari Fraksi PDIP, Wawanto, 2014-2024).

Teranyar, Calon Bupati Badung 2024-2029 yang juga mantan Ketua DPD Golkar Kabupaten Badung, I Wayan Suyasa, resmi pindah ke PSI.

Sebelumnya, mantan elite DPP Partai NasDem, Ahmad Ali dan Bestari Barus, juga menyeberang dan kini menjadi pengurus pusat PSI. Bahkan, Ahmad Ali kini mengemban jabatan Ketua Harian DPP PSI.

Jokowi Effect dan Peluang Politik

Pengamat politik Agung Baskoro memberikan penjelasan mengenai adanya sejumlah kader partai parlemen yang memilih pindah ke PSI. Menurutnya, ada efek Jokowi di dalam PSI sehingga menjadi magnet politik.

“Secara personal, hadir Jokowi Effect di PSI sehingga menjadi magnet politik yang mampu memberikan berkah elektoral dan insentif lainnya,” kata Agung saat dihubungi Tribunnews.com.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa elit-elit dari sejumlah partai lain mempertimbangkan bahwa masih terbukanya ruang berkembang di PSI. Hal ini dinilai akan menjadikan peran politik para politisi tersebut lebih signifikan daripada ketika di partai sebelumnya.

“Kemudian secara institusional, ruang berkembang untuk PSI masih terbuka sehingga banyak elit dari partai-partai lain pindah karena melihat peran politik mereka bisa menjadi lebih signifikan ketimbang sebelumnya,” jelas Agung.

Tren Naik Partai Kaesang

Lebih lanjut, Agung menyebut bahwa suara partai yang dipimpin oleh Kaesang Pangarepitu memiliki tren naik dari pileg ke pileg. Hal ini menunjukkan bahwa PSI semakin dikenal dan memiliki daya tarik yang tinggi di kalangan politisi.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *