Perayaan Isra Mi’raj di Lembur Cahaya: Momentum Refleksi dan Keseimbangan Spiritual
Di bawah langit malam Leuwimalang yang tenang, gema selawat dan lantunan ayat suci membubung tinggi, menembus dinginnya udara Kota Santri. Jum’at malam, 23 Januari 2026, bukan sekadar peringatan seremoni tahunan bagi warga Sukamulya, Bungursari. Peringatan Isra Mi’raj 1447 H di Pondok Pesantren Lembur Cahaya menjadi momentum refleksi tentang sebuah perjalanan yakni dari keterbatasan menuju keberkahan, dari kegelapan menuju cahaya iman.
Sinergi Tokoh dan Keteduhan Spiritual
Ratusan jamaah memadati pelataran pesantren, menciptakan suasana yang cair namun khidmat. Kehadiran tokoh-tokoh seperti Ketua DKM Rahmatullah Bumi Resik Panglayungan (BRP), H. Nana Nur Sumarna, Ketua Majelis Taklim Rahmatullah, Hj. Eka Trifera, menjadi sinyal kuat bahwa sinergi antar lembaga keagamaan di Tasikmalaya masih terjalin kokoh. Suasana semakin syahdu saat Qori tingkat kota, Ustadz M. Agus Ruhimat, melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Getaran suaranya seolah membawa jamaah menapak tilas perjalanan agung Rasulullah SAW menuju Sidratul Muntaha.
Pimpinan Pondok Pesantren, KH. Deni Nawawi atau yang akrab disapa Gus Den kemudian memimpin Tawasul dan Mahalul Qiyam dengan penuh kekhusyukan, mengikat batin para jamaah dalam simpul spiritual yang sama.
‘Ngaji’ dan ‘Ngejo’: Filosofi Keseimbangan Hidup
Puncak acara diisi oleh tausiyah tajam dari KH. Abdul Hamid, Pimpinan Umum Ponpes Assallam Gunung Roay Kota Tasikmalaya. Beliau tidak hanya bicara soal sejarah, tapi membawa jemaah menyelami realitas perjuangan masa lalu.
“Dulu, orang tua kita mengaji hanya diterangi cahaya ‘cempor’ (lampu minyak) di atas kolam, beralaskan lantai bambu yang sederhana,” kenangnya, memantik haru. Kiayi Abdul Hamid menekankan konsep keseimbangan yang unik antara “Ngaji” (nutrisi akhlak) dan “Ngejo” (asupan fisik). Baginya, manusia adalah perpaduan ruh dan jasad yang keduanya tidak boleh kelaparan.
Ngaji mencegah manusia tersesat dalam kegelapan moral. Sementara ‘ngejo’ memastikan raga memiliki kekuatan untuk beribadah. “Jika hanya mengaji tanpa makan, kita akan kelaparan. Namun, jika hanya makan tanpa mengaji, kita akan tersesat dalam kegelapan,” tegasnya diiringi anggukan jemaah.
Melawan Stigma, Menjadi Menantu Idaman
Namun, di balik kemeriahan acara yang dihadiri pula oleh para Jamaah Muslimat Lembur Cahaya, Jamaah Sabtuan dan undangan kehormatan lainnya terselip kisah perjuangan yang inspiratif. Ketua Pelaksana, H. Didin Samsudin, mengenang betapa berdarah-darahnya masa awal berdirinya Lembur Cahaya. Pesantren ini pernah dituding membawa ajaran menyimpang oleh pihak yang skeptis.
Beruntung kata H. Didin Samsudin dukungan datang dari para tokoh lokal yang siap pasang badan demi tegaknya pendidikan tauhid. Kini, penolakan itu telah luluh menjadi kebanggaan. Lembur Cahaya tidak hanya mencetak santri yang ahli agama, tapi juga generasi yang rapi, berwibawa, dan sebagaimana kelakar Kiyai Abdul Hamid siap menjadi “calon menantu idaman” karena kombinasi kecerdasan spiritual dan penampilan yang santun.
Keberanian Nazla Nur Alya Imaniyah yang tampil penuh percaya diri sebagai pembawa acara (MC) malam itu menjadi bukti konkret yakni pesantren adalah kawah candradimuka bagi mentalitas publik yang tangguh.
Kehadiran yang Terang dan Bercahaya
Malam semakin larut di Leuwimalang, namun cahaya dari pesantren ini terasa kian benderang. Peringatan Isra Mi’raj tahun ini menjadi alarm bagi setiap jiwa bahwa untuk mencapai derajat ketaatan yang hakiki, dibutuhkan keseimbangan antara asupan fisik, ketajaman ilmu, dan keteguhan hati dalam menghadapi ujian sosial.
Eksistensi Lembur Cahaya adalah bukti bahwa ketulusan dakwah tidak akan goyah oleh sentimen sesaat. Dibawah nakhoda Gus Den, pesantren ini kini berdiri tegak sebagai mercusuar moral di Leuwimalang, sebuah oase tempat ilmu ditanam, adab disemai, dan cahaya keberkahan dipancarkan bagi seluruh lapisan masyarakat di Kota Santri.
Di lokasi yang dulunya sunyi itu, kini telah lahir generasi yang siap menjadi lentera bagi gelapnya dunia.











