Peran Film dalam Mencerminkan Realitas
Film sering dianggap sebagai cermin dari realitas. Seniman film berargumen bahwa tugas mereka adalah menampilkan dunia yang nyata, bahkan jika hal tersebut terasa pahit. Namun, ketika film menampilkan adegan romantis antara seorang pria dewasa dan seorang remaja, kita harus mempertanyakan apakah ini benar-benar seni atau justru eksploitasi anak yang disamarkan sebagai hiburan.
Serial Pernikahan Dini Gen Z yang dibintangi oleh Aliando Syarief dan Richelle Skornicki telah memicu perdebatan mengenai etika dalam industri perfilman. Di balik penampilan visual yang menarik dan kualitas produksi yang baik, tersembunyi sebuah masalah yang sangat serius: penggunaan aktor remaja dalam peran yang tidak sesuai dengan usia mereka.
Kebiasaan Industri Film Global
Di industri film global seperti Hollywood atau drama Korea, terdapat protokol ketat mengenai casting untuk karakter remaja. Biasanya, aktor dewasa berusia 20-an dipilih untuk memerankan peran remaja agar bisa melindungi mental sang aktor. Mereka memiliki kedewasaan psikologis yang cukup untuk memisahkan diri dari karakter dan memahami batasan consent (persetujuan) saat melakukan adegan intim. Selain itu, ini juga merupakan upaya untuk mematuhi hukum perlindungan anak.
Namun, industri hiburan Indonesia tampaknya memiliki kecenderungan berbeda. Dalam kasus Pernikahan Dini Gen Z, produser dan sutradara memasangkan seorang pria dewasa matang (Aliando, lahir 1996) dengan seorang anak (Richelle, lahir 2009 saat syuting berlangsung). Menurut Undang-Undang, siapa pun yang belum berusia 18 tahun dianggap sebagai anak.
Masalah Etika di Lokasi Syuting
Masalah ini tidak hanya terkait usia, tetapi juga bagaimana seorang anak ditempatkan dalam situasi yang rentan. Bayangkan seorang gadis remaja dengan pengalaman hidup terbatas dan kematangan emosional yang belum sempurna. Ia ditempatkan di lokasi syuting yang dikelilingi oleh kru yang mayoritas laki-laki dewasa, berhadapan dengan lawan main pria dewasa, dan diperintah oleh sutradara dewasa.
Apakah ia mampu memberikan persetujuan yang sepenuhnya dipahami? Ataukah ia hanya melakukan itu karena tekanan profesionalisme, rasa takut mengecewakan kru, atau kontrak kerja yang ditandatangani orang tuanya?
Ini adalah situasi di mana batas antara profesionalisme dan paksaan menjadi kabur. Anak dipaksa meminjamkan tubuh dan emosinya untuk memuaskan industri, tanpa otonomi penuh atas situasi tersebut.
Dampak pada Penonton Remaja
Bahaya terbesar dari tontonan ini bukan hanya pada proses syuting, tetapi pesan yang dikirimkan kepada penonton. Media adalah alat edukasi yang kuat. Ketika penonton melihat Aliando menatap Richelle dengan tatapan penuh hasrat, dan kamera membingkainya dengan musik balada yang mendayu serta pencahayaan dreamy, kita sedang diajak untuk menormalisasi hubungan romantis antara orang dewasa dan anak-anak.
Ini berpotensi mengaburkan batas antara cinta sejati dan perilaku grooming. Grooming adalah proses di mana orang dewasa membangun kepercayaan dan hubungan emosional dengan anak di bawah umur untuk tujuan memanipulasi atau mengeksploitasi mereka.
Alasan Casting yang Kontroversial
Mengapa casting director dan produser meloloskan hal ini? Jawabannya mungkin terdengar klise, namun menyedihkan: visual dan viralitas. Industri sering kali malas mencari aktris dewasa yang baby-face dan memiliki kemampuan akting mumpuni untuk memerankan anak sekolah. Mereka lebih memilih estetika kepolosan yang autentik, meskipun ini berisiko bagi anak-anak.
Kritik ini tidak ditujukan kepada para aktor secara personal. Aliando dan Richelle hanyalah pekerja seni yang menjalankan skrip dan kontrak. Richelle, khususnya, adalah pihak yang paling rentan dalam sistem ini dan tidak layak dihakimi.
Tantangan Regulasi dan Etika
Kritik ini tertuju kepada produser, sutradara, pemilik rumah produksi, dan petinggi platform streaming yang memberi lampu hijau pada proyek ini. Mereka memiliki kuasa, modal, dan seharusnya memiliki nalar etika.
Sudah saatnya penonton Indonesia tidak lagi menerima alasan “ini cuma film” atau “ceritanya kan memang tentang anak sekolah”. Cerita tentang anak sekolah tidak mengharuskan anak asli untuk melakukan adegan dewasa dengan orang dewasa. Itu adalah dua hal yang berbeda.
Media membentuk budaya dan pola pikir. Jika kita terus membiarkan tontonan yang memasangkan pria dewasa dengan anak di bawah umur dalam bingkai romantis, jangan heran jika angka kekerasan seksual, pernikahan anak, dan manipulasi seksual di dunia nyata sulit ditekan.
Anak-anak berhak mendapatkan ruang aman untuk berkarya dan berekspresi seni. Namun, ruang itu tidak boleh menjadi tempat di mana mereka dipaksa menjadi objek fantasi romantic. Kita butuh regulasi industri yang lebih ketat. Kita butuh sineas yang tidak hanya jago bikin gambar bagus, tapi juga punya nurani untuk melindungi masa depan anak-anak yang bekerja untuk mereka.
Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."











