"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Ambisi Indonesia Menembus Pasar Global dengan Potensi Luar Biasa

Ambisi Indonesia dalam Mengembangkan Logam Tanah Jarang

Pada Agustus 2025, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, membentuk Badan Industri Mineral yang memiliki fokus utama pada pengolahan mineral kritis, salah satunya adalah Logam Tanah Jarang (LTJ). LTJ menjadi komponen penting dalam berbagai peralatan modern seperti ponsel, laptop, mobil listrik, dan peralatan militer. Di industri pertahanan, LTJ digunakan dalam konstruksi jet tempur, kapal selam, serta kendaraan lapis baja.

Badan ini dipimpin oleh Brian Yuliarto, yang juga menjabat sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek). Sementara itu, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin bertugas sebagai ketua dewan pengarah, dengan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Panglima TNI Agus Subiyanto, serta Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Muhammad Herindra sebagai anggotanya. Lembaga ini juga ditugaskan untuk merancang sistem dan tata kelola LTJ serta menjembatani sektor industri.

Tim DW Indonesia telah mengirimkan surat permohonan wawancara sejak awal Januari lalu untuk mengetahui lebih lanjut tentang kewenangan badan ini. Namun, hingga tulisan ini dirilis, belum ada respons terkait permohonan tersebut.

Potensi Logam Tanah Jarang di Indonesia

Pemerintah masih memetakan dan mengidentifikasi unsur LTJ yang tersebar di berbagai daerah. Meski begitu, pada tahun 2024, Indonesia dilaporkan memiliki bijih LTJ lebih dari 136 juta ton dan dalam bentuk logam sebesar 118 ribu ton. Badan Geologi Kementerian ESDM melaporkan bahwa bijih LTJ paling banyak tersebar di Bangka Belitung, Sulawesi, serta Kalimantan Barat.

Meskipun belum ada data terkait potensi nilai ekonomi dari komoditas tersebut, nilainya diproyeksikan mencapai ratusan triliun rupiah. LTJ terdiri dari 17 unsur kimia, termasuk lanthanum, cerium, praseodymium, neodymium, dan lainnya. Salah satu unsur, neodymium, memiliki harga yang sangat tinggi. Pada pertengahan Agustus 2025, harga neodymium mencapai Rp1,8 miliar/ton, atau 1.000 kali lipat di atas harga batu bara.

Tantangan dalam Hilirisasi Logam Tanah Jarang

Meski memiliki potensi besar, jalan menuju hilirisasi LTJ di Indonesia dinilai masih sangat panjang. Menurut Muhammad Habib Abiyan dari CSIS, memiliki sumber daya hanya satu hal, tetapi untuk membuatnya menjadi input dalam industri pertahanan, jalannya sangat panjang. Indonesia perlu memiliki visi jangka panjang dan menentukan bagian mana dari rantai pasok yang ingin dikuasai.

Dominasi Cina menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Cina menguasai lebih dari 60 persen rantai pasok LTJ global, serta 99 persen pengolahan heavy rare earths. Peraturan Cina pada 1 Desember 2025 memperketat kendali atas ekspor logam langka, memaksa perwakilan dagang AS dan Uni Eropa untuk bernegosiasi demi menjamin pasokan LTJ.

Pentingnya Diversifikasi Investasi

Habib dari CSIS menyarankan agar Indonesia tidak hanya bergantung pada satu negara, seperti Cina atau AS, tetapi melakukan diversifikasi sumber investasi. Indonesia harus membuka kemitraan secara inklusif dengan berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Cina, Malaysia, Eropa, hingga Inggris. Tujuannya adalah menciptakan rantai pasok LTJ yang lebih resilien terhadap risiko geopolitik.

Standar Lingkungan yang Lebih Ketat

Fabby Tumiwa dari Institute for Essential Services Reform menilai bahwa proses pengolahan LTJ bersifat toksik karena menghasilkan limbah beracun dan residu radioaktif. Residu ini dapat tercemar ke air, tanah, dan udara, sehingga mengganggu kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, perlu ditetapkan standar untuk pengolahan LTJ, mulai dari pengelolaan lingkungan hidup hingga transparansi perusahaan.

Pengolahan LTJ di Cina telah menimbulkan bencana ekologis, seperti peningkatan kadar arsenik di anak Sungai Mekong. Indonesia harus melakukan analisis biaya-manfaat sebelum memutuskan untuk mengekstraksi LTJ. Jika biaya sosial dan lingkungan lebih besar daripada manfaat ekonomi, LTJ sebaiknya tidak diekstraksi.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *