Profil Esther Aprilita Sianipar, Salah Satu Korban Pesawat ATR 42-500
Esther Aprilita Sianipar adalah salah satu dari delapan kru pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Pangkep dan Maros, Sulawesi Selatan. Pesawat tersebut terbang dari Yogyakarta ke Makassar pada Sabtu (17/1/2026) dan hilang kontak sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi rusak parah.
Esther tinggal di Bukit Rancamaya, Bojong Koneng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ia merupakan warga Jawa Barat yang bekerja sebagai kru penerbangan di Indonesian Air Transport (IAT), sebuah perusahaan jasa penerbangan charter yang telah beroperasi sejak tahun 1968. Perusahaan ini melayani penerbangan fixed-wing dan helikopter untuk berbagai kebutuhan, seperti industri minyak dan gas, pertambangan, serta penerbangan VIP.
Pihak keluarga Esther mengungkapkan bahwa ayahnya, Adi Sianipar, sempat berkomunikasi dengan putrinya melalui WhatsApp sebelum insiden terjadi. Adi menyebut bahwa ia mengirim pesan pada pukul 12.00 WIB pada hari Sabtu (17/1/2026), namun tidak mendapatkan balasan. Ia juga mengatakan bahwa nomor ponsel Esther sudah tidak aktif.
Adi mengaku mendapat kabar tentang insiden pesawat dari pihak perusahaan IAT. Menurutnya, pesawat yang ditumpangi Esther hilang kontak saat sedang melakukan penerbangan dari Yogyakarta ke Makassar. Meskipun pihak keluarga berharap ada mukjizat, hingga saat ini belum ada kabar mengenai keberadaan para kru dan penumpang.
Menurut Adi, Esther biasanya bertugas di Bandara Internasional Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Namun, ia ikut dalam penerbangan rute Yogyakarta-Makassar. Adi mengaku tidak tahu alasan mengapa Esther dipilih untuk tugas tersebut, karena sebelumnya ia tidak terbang selama beberapa bulan akibat pesawat sedang dipasang kamera CCTV di bagian bawah pesawat.
Detik-Detik Pesawat Jatuh
Pesawat ATR 42-500 yang disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dilaporkan jatuh di kawasan Pegunungan Sulawesi Selatan (Sulsel). Data AirNav Indonesia menunjukkan posisi terakhir pesawat di wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, tepat di kawasan pegunungan karst Gunung Bulusaraung.
Dua pendaki yang berada di puncak gunung menjadi saksi mata kejadian tersebut. Mereka menyaksikan pesawat terbang rendah sebelum akhirnya menghantam lereng dan meledak. Reski, salah satu pendaki, mengatakan bahwa ledakan itu sangat cepat dan menyebabkan serpihan-serpihan terlempar.
Reski segera merekam kejadian tersebut menggunakan ponselnya sebagai bukti awal. Setelah itu, ia dan rekannya langsung memutuskan untuk turun gunung sambil membawa kabar duka.
Pesawat Sempat Ada Masalah
Sehari sebelum kejadian, pesawat ATR 42-500 yang membawa 11 orang tersebut mengalami masalah di bagian mesin. Capt Edwin, petinggi IAT yang menjabat sebagai Direktur Operasional, membenarkan hal ini. Ia mengklaim bahwa masalah tersebut telah berhasil diperbaiki pada hari Jumat, sehari sebelum insiden terjadi.
Namun, Capt Edwin tidak menjelaskan secara detail mengenai jenis masalah mesin yang terjadi. Ia hanya menyebut bahwa masalah tersebut termasuk kecil dan telah diperbaiki.
Daftar Korban
Pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung membawa tujuh kru dan tiga penumpang. Berikut daftar korban:
- Capt Andy Dahananto
- SIC FO M Farhan Gunawan
- FOO Hariadi
- EOB Restu Adi P
- EOB Dwi Murdiono
- Flight attendant Florencia Lolita
- Flight attendant Esther Aprilita Sianipar
- Deden dari KKP
- Ferry dari KKP
- Yoga dari KKP











