"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Profil Sabrang, Anak Cak Nun, dan Frank Hutapea, Putra Hotman Paris, Dilantik Jadi Tenaga Ahli Menhan

Pelantikan 12 Tenaga Ahli di Lingkungan Dewan Pertahanan Nasional

Menteri Pertahanan Republik Indonesia (RI), sekaligus Ketua Harian Dewan Pertahanan Nasional (DPN), Sjafrie Sjamsoeddin, resmi melantik 12 orang Tenaga Ahli di lingkungan DPN pada Kamis (15/1/2026). Pelantikan ini dilakukan di Aula Bhinneka Tunggal Ika, Gedung Jenderal Sudirman Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat. Salah satu dari 12 tenaga ahli tersebut adalah Frank Alexander Hutapea dan Sabrang Mowo Damar Panuluh.

Frank Alexander Hutapea merupakan putra sulung dari pasangan Hotman Paris Hutapea dan Agustianne Marbun. Lahir pada tahun 1991, ia memiliki dua saudara kandung, yaitu Felicia Putri Parisienne Hutapea dan Fritz Paris Junior Hutapea. Dalam hal pendidikan, Frank menempuh studi hukum di University of Kent, London, dan berhasil meraih gelar Legum Baccalaureus (LLB) atau Bachelor of Laws di universitas tersebut.

Sebelum bergabung dengan firma hukum milik ayahnya, Frank pernah bekerja sebagai Associate Trainee di kantor hukum Hadinoto Hadriputranto and Partners selama satu tahun, mulai dari April 2013 sampai September 2014. Setelah itu, ia membentuk FRANK Solicitors sejak Desember 2025. Saat ini, Frank bekerja sebagai partner di kantor firma hukum milik Hotman Paris.

Selain karier profesionalnya, Frank juga dikenal dalam kehidupan pribadinya. Ia telah resmi menikah dengan sang kekasih, Winona Delany Tandra pada 4 Januari 2025. Pernikahan ini menuai sorotan karena Hotman Paris mengungkapkan bahwa ia mengeluarkan Rp5 miliar untuk menikahkan putranya. Winona Delany sendiri bukanlah wanita biasa. Ia pernah menempuh pendidikan di University of Exeter, Inggris, dengan jurusan Ekonomi Bisnis dan berhasil meraih gelar Bachelor of Arts di tahun 2014. Selama kuliah, ia sempat magang di perusahaan UOB Kay Hian di Singapura dan menjadi Senior Analyst di salah satu perusahaan Big 4, yaitu KPMG Indonesia.

Profil Sabrang: Ilmuwan Matematika-Fisika di Balik Vokalis Band Letto

Sabrang Mowo Damar Panuluh lebih dikenal sebagai Noe Letto karena posisinya sebagai vokalis band Letto. Ia lahir di Yogyakarta pada 10 Juni 1979 (46 tahun) dan merupakan anak pertama dari Cak Nun hasil pernikahan dengan Neneng Suryaningsih, sekaligus menjadi anak sambung dari aktris sekaligus penyanyi senior Novia Kolopaking. Novia yang merawat Sabrang sejak kecil sehingga hubungan mereka dekat.

Masa kecil Noe sempat dihabiskan di Lampung sebelum kembali ke Yogyakarta. Sejak duduk di bangku SMP, Sabrang mulai bersentuhan dengan musik melalui kaset Queen yang diberikan pamannya. Setelah menamatkan SMA di Yogyakarta, Sabrang melanjutkan studi ke University of Alberta, Kanada, sebuah perguruan tinggi bergengsi yang masuk jajaran elite top 5 nasional dan peringkat 100–150 global.

Reputasi kampus tersebut sangat kuat, terutama di bidang riset dan inovasi, sehingga menjadi tempat yang menantang sekaligus prestisius bagi Sabrang untuk menempuh dua jurusan sekaligus: matematika dan fisika. Krisis moneter membuat Sabrang harus bekerja paruh waktu untuk bertahan hidup, namun ia berhasil menyelesaikan studi dengan gemilang. Pada 2003, Sabrang resmi meraih gelar Bachelor of Science di kedua bidang tersebut.

Sepulang dari Kanada, Sabrang aktif di studio KiaiKanjeng, belajar mixing, mastering, dan menulis musik. Pada 2005, bersama Ari, Dedy, dan Patub, putra Cak Nun itu membentuk band Letto dan merilis album debut Truth, Cry, and Lie yang meraih double platinum. Dua tahun kemudian, pada 2007, Letto kembali mengukuhkan posisinya lewat album Don’t Make Me Sad. Di medio 2000-an, Sabrang dikenal luas dengan lagu-lagu hits seperti “Ruang Rindu”, “Sebelum Cahaya”, dan “Sandaran Hati”.

Pada 2008, Noe mendirikan Pic[k]Lock Productions bersama Dewi Umaya Rachman. Dari rumah produksi ini lahir sejumlah film, antara lain Minggu Pagi di Victoria Park (2010), RAYYA, Cahaya Di Atas Cahaya (2011), dan Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015).

Dalam kehidupan pribadi, Sabrang menikah dengan Fauzia Fajar Putri Khaeruddin (Uci) pada 19 Februari 2009 di Kendari, Sulawesi Tenggara. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai dua anak, dan hubungan keluarganya berjalan harmonis hingga kini.

Eka Syaputra

Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *