JAKARTA — Muhammad Rio, seorang anggota Brimob Polda Aceh, memilih untuk meninggalkan kedinasannya dan bergabung dengan tentara Federasi Rusia. Rio, yang memiliki pangkat terakhir sebagai Brigadir Polisi Dua atau Bripda, akhirnya dipecat dan kini dikabarkan berada di baris depan perang antara pasukan Rusia dan Ukraina di Donbass. Pertanyaannya, apa yang mendorong Rio untuk melakukan hal tersebut?
Motivasi pasti dari Rio dalam bergabung dengan tentara bayaran Rusia masih belum jelas. Namun, menurut penjelasan Polda Aceh, Rio tampaknya sudah merencanakan tindakannya ini sejak lama. Selain itu, Rio juga pernah menghadapi masalah etik karena pelanggaran perilaku terkait perselingkuhannya dengan perempuan selain isteri sahnya.
Pada pertengahan 2025, Rio pernah disidang etik karena tindakan tidak sesuai dengan kode etik kepolisian. Hal ini menjadi awal dari serangkaian masalah yang akan dialaminya di kemudian hari.
Dari penjelasan resmi Polda Aceh yang dilaporkan ke Mabes Polri, Rio tercatat mangkir dari kedinasannya sejak 8 Desember 2025. Pada tanggal tersebut, Rio tidak hadir dalam apel wajib pagi. Penyebab ketidakhadirannya mulai terungkap setelah adanya pesan WhatsApp (WA) yang dikirimkan oleh Rio kepada rekan-rekannya di Brimob Polda Aceh.
Pada Rabu 7 Januari 2026, sekitar pukul 23:43 WIB, Rio mengirimkan pesan WA kepada Aipda Bayu Aji dan AKP Ardiansyah. Isi pesan tersebut berisi dokumentasi foto dan video yang menunjukkan bahwa Rio telah bergabung dengan divisi tentara bayaran Rusia. Dalam pesan tersebut, Rio menjelaskan bahwa ia sudah beberapa kali mendaftar secara online untuk bergabung dengan tentara asing, termasuk Eropa, Amerika Serikat (AS), Jerman, dan Rusia.
“Assalamu’alaikum. Mohon ijin Komandan. Mohon maaf atas keputusan saya sudah bulat. Saya sudah mendaftar online jadi Tentara Europe sebanyak 5x, USA Army 1x, Germany 2x, Russia 2x,” begitu bunyi pesan WA Rio kepada teman-temannya di Brimob Polda Aceh.
Rio juga menyampaikan bahwa ia merasa beruntung karena usahanya diterima oleh Rusia. Ia menjelaskan tentang kenaikan pangkatnya serta gaji yang diperolehnya sebagai tentara Rusia. “Alhamdulillah akhirnya saya lulus menjadi Tentara Russia karena sewaktu ujian interview saya bisa 2 Bahasa yaitu English dan Russian dan pangkat saya saat ini Letda, dengan awal bonus yang telah diberikan sebesar 2 juta Rubel = 420 juta Rupiah dan Gaji saya perbulan 210K Rubel = 42 juta rupiah perbulan,” demikian isi pesan tersebut.
Pesan WA tersebut menjadi bukti bahwa Rio sudah benar-benar meninggalkan kesatuannya di Brimobda Polda Aceh. Sebelum pesan tersebut terungkap, Satbrimob Polda Aceh telah melakukan pencarian terhadap Rio sejak 24 Desember 2025. Pencarian dilakukan karena Rio tidak terlihat di kedinasan sejak 8 Desember 2025.
Pada 6 Januari 2026, Provos Satbrimob Polda Aceh melakukan pencarian hingga ke rumah pribadinya. Mereka menanyakan keberadaan Rio kepada istrinya. Tindakan pencarian tersebut dilakukan Provos karena ada laporan pelanggaran yang dilaporkan kepada Bid Propam Polda Aceh.
Pada Kamis 8 Januari 2026, Bid Propam Polda Aceh melakukan sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP) terkait pelanggaran yang dilakukan Rio. Sidang KKEP dilakukan in absentia tanpa kehadiran Rio. Polda Aceh menjelaskan bahwa sidang KKEP terhadap Rio bukanlah yang pertama. Pada Mei 2025, Rio juga pernah disidang etik atas pelanggaran prilaku akibat perselingkuhan dan pernikahan siri dengan perempuan simpanannya.
Sidang KKEP tahun lalu menghukum Rio dengan demosi selama dua tahun dan penempatan tugas sebagai Yanma di Brimobda Polda Aceh. Pada 9 Januari 2026, sidang KKEP memutuskan untuk menghukum Rio dengan pemecatan atau pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH). Putusan sidang KKEP terhadap Rio diteruskan ke Divisi Hubungan Internasional (Div Hubinter) di Mabes Polri.
Menurut laporan Polda Aceh ke Mabes Polri, NCB Interpol Indonesia telah menghubungi Atase Kepolisian Rusia di Jakarta untuk memastikan keberadaan Rio. Dalam penjelasan atase kepolisian Rusia, disebutkan bahwa ada penambahan pasukan Legiun Tentara Asing sebanyak 30 ribu personel yang terlibat langsung dalam peperangan dengan Ukraina.
Para anggota Legiun Tentara Asing itu mendaftar melalui perusahaan swasta perekrut bernama Wagner Group. Keberadaan Rio bersama Legiun Tentara Asing di wilayah Donbass, Ukraina, dipastikan. Atase Kepolisian Rusia di Jakarta menyampaikan bahwa sangat sulit bagi pihak Polri untuk membawa Rio pulang dalam waktu dekat, karena ia ditempatkan di garis depan pertempuran.











