Kekhawatiran Dokter Tifa terhadap Kesehatan Jokowi
Dokter Tifa, yang dikenal sebagai Tifauzia Tyassuma, menyampaikan kekhawatirannya terhadap kondisi kesehatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam konteks proses hukum yang sedang berlangsung. Ia menawarkan diri untuk memberikan perawatan medis kepada Jokowi, dengan alasan kemanusiaan dan latar belakang profesinya sebagai dokter. Tifa juga mengusulkan agar Jokowi mempertimbangkan pengajuan restorative justice (keadilan restoratif) dalam kasus dugaan ijazah palsu.
Penawaran Perawatan Medis
Dalam pernyataannya, Tifa menegaskan bahwa ia siap membantu jika Jokowi membutuhkan perawatan medis. Ia menjelaskan bahwa prinsip profesi kedokteran mewajibkannya untuk memberi pertolongan tanpa diskriminasi. “Saya sangat khawatir kalau memang Pak Jokowi ingin treatment dengan senang hati,” ujarnya.
Tifa juga menekankan bahwa seorang dokter tidak boleh menolak pasien. Ia menegaskan bahwa ia akan membantu Jokowi jika diminta. “Dokter kan tidak boleh menolak pasien loh, dengan senang hati saya akan membantu beliau gitu loh,” tambahnya.
Restorative Justice sebagai Solusi
Selain menyoroti aspek kesehatan, Tifa juga mengusulkan agar Jokowi mempertimbangkan pengajuan restorative justice. Menurutnya, pendekatan ini lebih berorientasi pada keadilan dan pemulihan, bukan semata-mata penghukuman. “Restorative justice itu adalah keadilan,” ujarnya.
Ia menyarankan agar Jokowi mengakui kesalahan dalam penggunaan ijazah yang diduga palsu. “Mengakui misalnya ‘oh ternyata ijazah yang selama ini saya gunakan, dengan kealpaan saya ternyata bukan ijazah yang asli ya kan’,” jelas Tifa.
Proses Persidangan yang Berpotensi Bertahun-tahun
Tifa menyatakan bahwa dirinya tidak berencana mengajukan restorative justice. Namun, ia menegaskan bahwa usulan tersebut ditujukan kepada Jokowi, dengan pertimbangan kesehatan dan kemanusiaan. “Saya mewacanakan, mengusulkan Pak Jokowi (mengajukan restorative justice),” katanya.
Ia mengingatkan bahwa proses persidangan dapat berlangsung sangat lama dan berpotensi menguras kondisi fisik Jokowi. “Karena apa? Kita akan persoalkan tidak cuma ijazah selembar itu, tapi 709 dokumen. Salah satunya adalah ini ya, transkrip ini ya. Nah, (transkrip nilai) Pak Jokowi itu sangat berbeda 180 derajat dengan transkrip asli.”
Respons dari Peradi Bersatu
Sekretaris Jenderal Peradi Bersatu Ade Darmawan menyatakan bahwa restorative justice merupakan mekanisme hukum yang sah selama disepakati semua pihak. Namun, ia menegaskan bahwa keputusan pengajuan RJ sepenuhnya berada di tangan Jokowi. “Kalau semuanya sepakat, enggak masalah kan, apa yang harus jadi masalah gitu loh. Tetapi kalau dikatakan bahwa Pak Jokowi yang mengajukan itu tanyakan sama Pak Jokowi,” ujarnya.
Ade juga menyampaikan apresiasi atas niat Dokter Tifa membantu dari sisi kemanusiaan. Ia juga mengapresiasi langkah Polda Metro Jaya yang memproses RJ pada tersangka lain. “Iya. Artinya seperti itu. Jadi apapun itu Bu Dokter kami tetap apresiasi ya, Polda Metro (kita apresiasi) mau melakukan RJ dengan dua tersangka ya kan.”
Namun demikian, Ade menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada putusan pengadilan yang menyatakan ijazah Jokowi palsu. “Narasi-narasi palsu-palsu ini sudah dinarasikan dari seperti yang dikatakan tadi datanya, disampaikan ke saya, 2016 sudah dimulai dan itu Bu Tifa.”
Rekam Jejak Dokter Tifa
Menurut penelusuran, Tifauzia Tyassuma lebih dikenal sebagai Dokter Tifa, adalah seorang dokter, ilmuwan, penulis, dan aktivis kesehatan asal Indonesia yang dikenal karena pandangannya yang kritis terhadap kebijakan publik, terutama di bidang kesehatan dan politik.
Tifa menempuh pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tempat ia meraih gelar dokter umum dan Master of Science (M.Sc) dari UGM. Ia kemudian melanjutkan studi doktoral di bidang Epidemiologi Molekuler di Universitas Indonesia (UI).
Selain itu, ia juga pernah belajar di Pusat Pengetahuan Layanan Kesehatan di Norwegia. Tifa memiliki pengalaman luas di bidang epidemiologi klinis dan ilmu saraf nutrisi. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Eksekutif di Center for Clinical Epidemiology & Evidence RSCM Jakarta pada tahun 2009 dan sebagai Sekretaris Jenderal Indonesian Clinical Epidemiology & Evidence-Based Medicine Network pada tahun 2010.
Sejak 2017, ia memimpin Ahlina Institute, sebuah lembaga yang berfokus pada literasi kesehatan, nutrisi, dan neurosains spiritual di Indonesia. Sebagai penulis, Tifa telah menerbitkan dua buku berjudul Body Revolution dan Nutrisi Surgawi, yang membahas hubungan antara nutrisi, kesehatan, dan spiritualitas.
Ia juga aktif sebagai pembicara publik dan praktisi makanan sehat, serta mengelola layanan katering makanan sehat yang menekankan pada nutrisi yang tepat dan bahan berkualitas tinggi. dr. Tifa dikenal sebagai sosok yang vokal di media sosial, khususnya Twitter, di mana ia sering menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah, terutama dalam penanganan pandemi COVID-19. Ia juga pernah mempertanyakan keaslian ijazah Presiden Joko Widodo dan mengkritik calon presiden dari PDIP, Ganjar Pranowo, terkait berbagai isu.











