Kami duduk di batang kayu yang telah disiapkan oleh kawan saya La Hisa. Langit yang tadinya cerah dan panas, kini tiba-tiba mendung. Saya mulai khawatir.
Akhir November di Merauke Papua Selatan. Pagi yang cerah, siang yang panas, sore yang hujan. Saya bersama La Hisa sejak setengah enam pagi sudah bermotor menuju lokasi perkemahan Biras, yang berada di sisi barat kawasan Taman Nasional (TN) Wasur, sekitar 20 kilometer dari pusat kota Merauke.
“Tenang, dia pasti datang kembali, Mas”, jelas La Hisa. “Suaranya masih terdengar jauh di sana”, tambahnya.
Saya memandang langit, kemudian melihat perangkat kamera saya yang tersangga oleh tripod. Sesekali kami mengintip di sela-sela dedaunan yang menutupi kami berdua di hadapan, yang sengaja dibuat oleh La Hisa untuk menyamarkan keberadaan kami.
Rintik gerimis mulai turun satu persatu. Saya segera mengambil backpack rain cover saya, untuk digunakan menutupi kamera saya dari tetesan langsung air hujan. Kami coba bertahan sambil siap-siap kalau hujan deras tiba-tiba datang. Untunglah, gerimis tak lama.
Sekitar 10 meter di hadapan kami, di atas tanah serta di bawah naungan pohon dan perdu yang rindang, tersusun sebuah bangunan kecil. Bangunan yang terbuat dari susunan ranting-ranting pendek.
Bak diatur oleh seorang arsitek ulung, ranting disusun berdiri tegak sekitar 30 centimeter, membentuk seperti dua pilar gerbang dengan lorong di tengahnya selebar sekitar 10 centimeter. Area “gerbang” ini terlihat bersih dari dedaunan.
Tepat di bagian depan gerbang (saya anggap bagian depan karena terdapat semacam area datar yang juga tersusun dari ranting-ranting) dan di atas pilar gerbang, tersusun rapih sekumpulan buah, semacam buah beri hijau (saya tidak tahu dari jenis apa), berukuran sedikit lebih kecil dari kelereng mainan anak. Buah sedikit keriput, sepertinya sudah lama berada di sana.
“Siang seperti ini dia tetap akan muncul?” tanya saya ke La Hisa.
“Iya, sepanjang hari, jantan akan bolak balik datang untuk menghias sarang itu”, jawab La Hisa. “Betina kadang-kadang akan muncul, tapi biasanya pagi dia muncul”, tambah La Hisa.
Si pesolek yang pemalu
Kami sesungguhnya sedang menunggu kehadiran burung namdur cokelat atau Chlamydera cerviniventris. Dalam nama Inggris, jenis ini juga dikenal dengan sebutan Fawn-breasted Bowerbird.
Pratt & Beehler (2015) dalam buku Birds of New Guinea menyebutkan bahwa bowerbird merujuk pada sekelompok burung yang jantannya mempunyai kebiasaan membangun semacam arena untuk menarik betina agar mau kawin dengannya. Arena tersebut berfungsi sebagai panggung untuk pertunjukannya.
Arena ini sebenarnya bukan sarang, tapi digunakan sebagai lokasi sang jantan memikat betina. Sang betina sendiri akan membangun sarangnya di tempat lain.
Namdur cokelat cukup umum dijumpai di daratan rendah, di sebagian Papua (Indonesia maupun negara PNG) dan Australia bagian utara. Saya sendiri menjumpai pertama kali justru di pinggir jalan dekat permukiman penduduk, saat hendak ke kawasan TN Wasur pagi tadi.
Tiba-tiba terdengar suara semacam ketukan mekanis yang konsisten.
“Itu juga suara dia. Makin mendekat”, kata La Hisa.
Namdur memang dikenal memiliki kemampuan mengeluarkan berbagai macam suara. Bahkan dapat meniru suara burung lain. Pengalaman La Hisa sebagai seorang ranger TN Wasur, melatih beliau untuk mengenal berbagai macam suara yang namdur keluarkan.
Tak lama, yang dinanti datang. Burung berukuran sedang, mungkin seukuran panjang jengkal tangan orang dewasa. Bagian atas burung dari kepala sampai ekor dan sedikit dada berwarna abu-abu bercampur coretan garis dan titik putih. Bagian perut sampai tunggir berwarna coklat muda.
Nama pengenal jenis cerviniventris, sesungguhnya mengandung makna yang menunjukkan ciri khas burung itu sendiri. Merujuk pada Jobling (2010) dalam buku The Helm Dictionary of Scientific Bird Names, disebutkan bahwa cerviniventris berasal dari kata dalam bahasa Latin, yaitu cervinus yang merupakan warna rusa jantan (coklat muda), serta ventris yang berarti perut. Memang, perut dan sebagian dada namdur coklat, berwarna coklat muda.
Paruh hitam dan tebal sang burung terlihat menggapit tiga helai rerumputan, atau mungkin daun pohon dari jenis tertentu. Lama sekali dia bertengger di dahan perdu, di atas kontruksi gerbang tadi. Sesekali pindah tempat tenggeran. Dia seperti curiga dan waspada.
Namun sayang, akhirnya si burung tak sampai menjejakkan kakinya ke area bergerbang tadi. Tiba-tiba dia langsung terbang menjauh kembali.
Walau sedikit kecewa, namun secara keseluruhan saya cukup senang. Saya dapat melihat sendiri namdur cokelat tadi dari jarak dekat, dia mendekat ke area display-nya, membawa material sarang, dan kami menunggu dengan deg-degan. Itu sudah sebuah proses yang menyenangkan.
Si mungil yang bersembunyi
Sebelum menunggu si namdur tadi, Saya dan La Hisa sempat dibuat pusing mencari sebuah suara misterius.
Awalnya kami berjalan santai sambil mencari dan mendokumentasikan berbagai jenis burung di TN Wasur ini. Tiba-tiba terdengar suara seperti erangan tipis, dua tiga kali berurutan.
“Suara apa itu?” tanya saya yang masih asing dengan suara-suara burung di Papua.
“Itu australian owlet”.
Saya berpikir sejenak sambil mengikuti La Hisa berjalan memotong hamparan savana kecil dengan beberapa pohon tumbuh berjauhan. Kami harus hati-hati memilih pijakan karena sebagian tanah hamparan yang kami injak adalah rawa yang baru mengering, sehingga masih ada bagian-bagiannya yang basah dan lunak jika diinjak.
Owlet.. owlet…, gumam saya dalam hati. Ah..
“Atoko?”, tanya saya ke La Hisa.
“Iya, atoko selatan. Saya sering mendengar suaranya di sekitar sini, tapi belum pernah melihatnya. Ayo kita cari!” sambutnya semangat. Tentu saja saya tidak menolak karena saya belum pernah melihat jenis burung ini.
“Saya cari info sarangnya di internet. Kalau di Australia, banyak fotonya yang menunjukkan dia bersarang di lubang-lubang pohon”, jelas La Hisa. Kami berjalan sambil telinga awas, kalau-kalau suara tadi muncul lagi.
Setelah berjalan 50an meter dari titik awal tadi, kami berhenti. Melihat satu batang pohon agak besar dengan banyak cabang yang menggurita. Kalau pohon ini dua kali lipat besarnya, saya membayangkan seperti ilustrasi “dedalu raksasa” di halaman Hogwarts-nya Harry Potter.
Kami berhenti, kemudian memeriksa pohon dan cabang-cabangnya, kalau-kalau ada lubang di dalamnya. Mendekat dan menjauh, mencari jarak yang sempurna untuk memeriksa pohon dari bawah ke atas. Pas sekali kalau burung tadi bertengger di salah satu dahannya.
Atoko, merupakan nama Indonesia untuk kelompok jenis burung dari marga Aegotheles. Masyarakat menggolongkan kelompok ini sebagai burung hantu juga, karena aktif pada malam hari aau nokturnal. Namun demikian, secara taksonomi jenis ini sesungguhnya lebih dekat kekerabatannya dengan jenis-jenis walet daripada burung hantu umum yang kita kenal seperti serak dan celepuk.
Saya pernah melihat salah satu jenis atoko, yaitu atoko maluku, waktu di Halmahera dulu. Jadi ketika mencari, saya langsung mencari bentuk sesuai ingatan saya waktu melihat atoko maluku itu.
Nihil, tidak ada tanda-tanda kehadiran dan suara lagi dari burung yang kami cari ini. Kami berjalan balik sambil lihat kanan kiri, sambil memeriksa beberapa pohon lain yang mungkin memiliki lubang.
Sambil berjalan, La Hisa mencoba mengetuk beberapa batang pohon mencari tanda kalau pohon berlubang atau tidak. Saya berjalan di belakangnya. Masih celingukan ikut mencari.
Pada satu pohon saya melihat ada lubang di bagian atas, sekitar lima meter dari atas tanah. La Hisa mencoba mengetuk pohon itu. Bagian bawah pohon juga berlubang. Dia mencoba melongok dari bawah. Saya menggunakan binokular untuk melihat lubang di bagian atas tadi.
Ketika La Hisa masih asik mengetuk beberapa bagian pohon tadi, tiba-tiba di lubang yang saya perhatikan tadi, muncul sesosok kepala mungil.
“Itu dia!”, saya berteriak tertahan, kemudian memberi kode kepada La Hisa untuk mendekat.
Dari lubang kecil sekitar 15 centimeter, muncul kepala burung, bulat dengan mata besar coklat gelap. Warna kepala dan sebagian dada yang terlihat, dominan abu-abu bercoret hitam dan coklat gelap. Mulutnya lebar, dengan kumis dan alis mata yang panjang menjuntai.
Kami saling pandang dan tersenyum, kemudian menggunakan binokular masing-masing untuk mengamati lebih jelas.
“Ini yang saya cari dari dulu”, La Hisa berbicara pelan. Saya segera mengangkat kamera saya untuk mengabadikan momen si atoko selatan ini memandang kami. Tak lama, kami segera beranjak. Kasihan, sepertinya di hantu mungil ini mengantuk.
Ada sekitar 10 jenis atoko di dunia, sebagian besarnya terdapat di Papua (Indonesia dan PNG). Jenis yang kami lihat ini, atoko selatan atau Aegotheles cristatus tersebar luas di Australia dan Papua bagian selatan.
Struktur raksasa kebanggaan Merauke
Jika kita ke Merauke, terlebih ke dalam kawasan Taman Nasional Wasur, maka kita akan mudah menemukan struktur alami seperti gundukan tanah yang menjulang. Itulah musamus. Bahkan ketika kita menyusuri jalan trans dari Merauke ke Sota (pos perbatasan Indonesia – PNG), maka kita akan mudah menjumpai musamus di kanan kiri jalan.
Dalam kumpulan informasi yang dihimpun Wikipedia, disebutkan bahwa musamus atau kadang disebut juga bomisai adalah sarang yang dibuat oleh rayap Macrotermes sp. Tingginya dapat mencapai lima meter dengan diameter lebih dari dua meter. Bangunan musamus berbentuk kerucut dengan tekstur berlekuk-lekuk.
Konon, di dalam musamus terbentuk lorong-lorong berliku yang rumit. Pembangunan musamus dapat memakan waktu bertahun-tahun dan terus tumbuh. Jika dibandingkan dengan tubuh rayap yang hanya beberapa milimeter, tentu bangunan setinggi dua sampai tiga meter ini, seperti struktur raksasa bagi mereka.
“Jika ujungnya masih tertutup dan tanahnya terlihat agak lembab, kemungkinan sarang rayap di dalamnya masih aktif”, terang La Hisa ketika saya memperhatikan salah satu musamus saat kami melintas savana.
“Nah, itu yang kemungkinan sudah ditinggalkan”, sambung La Hisa sambil menunjuk salah satu musamus yang telah hancur pada bagian atasnya dan terlihat kering.
Musamus dan wallabi (hewan berkantung keluarga kangguru) merupakan salah satu unsur dalam logo TN Wasur. Musamus juga digunakan dalam lambang Pemerintah Daerah Kabupaten Merauke, bahkan dijadikan salah satu nama universitas di Merauke.
Taman Nasional Wasur sendiri merupakan salah satu taman nasional darat di Papua, yang terletak di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan. Dengan luas sekitar 413.810 hektar, kawasan ini juga dikenal sebagai “Serengeti Papua”. TN Wasur memiliki keanekaragaman hayati tinggi, seperti ekosistem savana, rawa, hutan, serta berbagai jenis satwa khas Papua seperti wallabi, kasuari, cendrawasih, dan buaya rawa.
Tepat tengah hari, kami kembali ke lokasi awal perjalanan. Duduk ngedemprok di beranda gedung Pusat Informasi Kandang Pelestarian Wallabi. Panas benar-benar menyengat. Dari jauh, suara sepasang burung kukabura perut-merah [Dacelo gaudichaud] sahut menyahut seperti tak kenal panas. Sementara itu, sepasang ibis australia [Threskiornis molucca] juga terbang melintas, menjauh.
“Berapa jenis kita dapat tadi?” tanya La Hisa.
“Sebentar.., saya belum hitung. Mungkin sekitar 20an jenis”, sahut saya.
“Wah, banyak juga”. Kami terdiam, kepanasan, sambil meminum sisa-sisa air mineral. *
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”











