"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Rama Rela Jadi Petugas Kebersihan dan Ojol Dengan Gaji Rp 2,2 Juta Sebulan

Kisah Rama, Pemuda Surabaya yang Lakoni Dua Pekerjaan dengan Penghasilan Rp 2,2 Juta Per Bulan

Rama Asty Alfian, seorang pemuda berusia 21 tahun dari Surabaya, memiliki kisah perjuangan yang luar biasa. Ia tidak hanya bekerja di satu tempat, tetapi menjalani dua pekerjaan sekaligus untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dengan penghasilan total sekitar Rp 2,2 juta per bulan, ia berhasil mengatur keuangan dengan sangat baik.

Pekerjaan Pertama: Membersihkan Sekolah

Setiap pagi, sejak pukul 05.00 WIB, Rama mulai bekerja membersihkan SD Al Muttaqien di Kota Surabaya. Tugasnya meliputi menyapu, mengepel, dan membersihkan selasar, toilet, tangga, kantin, serta kelas-kelas sekolah. Setelah para siswa pulang pada pukul 16.00 WIB, ia kembali membersihkan area tersebut.

Saat istirahat, Rama sering duduk di bawah pohon dekat pos satpam sekolah sambil menunggu kedatangan siswa. Meskipun pekerjaannya melelahkan, ia tetap bersemangat karena tahu bahwa hasil kerjanya akan digunakan untuk membantu ekonomi keluarganya.

Pekerjaan Kedua: Driver Ojek Online

Setelah selesai membersihkan sekolah, Rama bergegas menuju asrama karyawan sekolah untuk mengganti pakaian kerjanya. Ia kemudian memakai jaket hijau khas driver ojek online (ojol) dan mulai menerima pesanan dari aplikasi transportasi online.

Pekerjaan ini dilakoninya setelah jam sekolah usai. Meski pendapatannya tidak tetap, Rama tetap bersyukur karena bisa menambah penghasilan. Dari sekolah, ia mendapatkan sekitar Rp 1,8 juta per bulan, sedangkan dari ojol, rata-rata ia mendapatkan Rp 400.000-an per bulan.

Cara Pembagian Uang

Dengan penghasilan yang didapat, Rama melakukan pembagian secara teratur. Ia menyisihkan Rp 500.000 untuk orangtuanya dan Rp 600.000 untuk membayar angsuran sepeda motornya. Sisanya digunakan untuk biaya hidup sehari-hari, seperti makan dan transportasi.

Menabung bukanlah prioritas utamanya. Kadang ia hanya bisa menabung Rp 200.000 atau bahkan Rp 100.000, tergantung dari jumlah penumpang yang diterimanya. Namun, ia tetap berusaha agar tidak menghabiskan uang secara boros.

Prioritas Keluarga dan Pendidikan

Rama tidak ingin menghabiskan masa mudanya dengan bermain bersama teman sebaya. Ia lebih memilih memanfaatkan libur hari Sabtu dan Minggu untuk belajar. Ia mengikuti program kejar paket agar bisa tetap melanjutkan pendidikan tanpa mengganggu pekerjaannya.

Ia mengakui bahwa tujuan utamanya adalah membantu orangtuanya. Meski belum memiliki cita-cita yang jelas, ia tetap berharap bisa meraih kesuksesan di masa depan.

Kisah Lain: Encip, Kakek 78 Tahun yang Berjualan Barang Bekas

Selain kisah Rama, ada juga kisah tentang Encip, seorang kakek berusia 78 tahun yang telah menjual barang bekas selama 30 tahun. Ia tinggal di Pasar Loak Jalan Merdeka, Kota Bogor, Jawa Barat.

Encip mulai berjualan loak sejak usia 12 tahun karena kondisi ekonomi keluarga. Hingga kini, ia masih bertahan dan berhasil menyekolahkan 12 anaknya hingga tingkat SMA. Meski begitu, kehidupannya masih pas-pasan.

Pendapatan dan Kehidupan Sehari-hari

Encip mendapatkan penghasilan antara Rp 100.000 hingga Rp 200.000 per hari dari jualan barang bekas. Namun, ia masih harus menyewa rumah karena belum memiliki tempat tinggal sendiri.

Barang bekas yang dijualnya meliputi alat elektronik, jam tangan, dan pakaian. Saat sepi pembeli, ia sering menjual dagangannya dengan harga murah, seperti jam tangan yang awalnya dijual Rp 15.000 bisa turun menjadi Rp 5.000.

Tantangan dan Keberanian

Encip juga pernah menghadapi penertiban dari petugas Satpol PP. Ia sempat dipindahkan dari lokasi sebelumnya ke Jalan Merdeka. Meski begitu, ia tetap bertahan dan menjalani bisnisnya dengan sabar.

Kisah Rama dan Encip menunjukkan betapa gigihnya para pekerja keras dalam menjalani kehidupan. Mereka tidak hanya mencari nafkah, tetapi juga berjuang untuk keluarga dan masa depan yang lebih baik.


Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *