JAKARTA,
Di balik warna-warna cerah dan musik anak-anak yang mengalun di gang-gang sempit Jatinegara, Jakarta Timur, tersimpan cerita tentang perjuangan bertahan hidup. Odong-odong bermotor yang kerap dipandang sebagai hiburan sederhana bagi anak-anak, bagi sebagian warga justru menjadi tumpuan penghasilan di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan. Fenomena ini terlihat jelas di Kelurahan Rawa Bunga. Di kawasan permukiman padat tersebut, odong-odong bermotor masih aktif beroperasi setiap hari, berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya.
Kendaraan hasil modifikasi ini bukan hanya menawarkan hiburan murah, tetapi juga membuka ruang ekonomi informal bagi warga yang kesulitan menembus sektor pekerjaan formal. Dari Motor Tua Menjadi Sumber Nafkah
Soleh (71), warga Jatinegara, duduk santai di dekat odong-odong miliknya yang terparkir di Jalan Jatinegara IV, Kamis (8/1/2026). Usianya tak lagi muda, tetapi dari kendaraan sederhana itulah ia dan keluarganya masih bisa menyambung hidup. “Saya supir odong-odong. Tapi yang bawa langsung itu biasanya ponakan saya. Saya bantu-bantu saja,” kata Soleh ketika ditemui langsung saat duduk di atas odong-odongnya.
Odong-odong tersebut bukan dibeli jadi, melainkan dibuat sendiri dengan cara memodifikasi sepeda motor bebek lama. Modal yang dikeluarkan pun relatif kecil. “Bikin sendiri. Modifikasi. Biayanya sekitar dua juta rupiah satu unit,” ujar Soleh. Dengan modal tersebut, sepeda motor disambungkan ke dua gerbong tambahan menggunakan rangka besi permanen. Setiap gerbong dilengkapi bangku panjang dan atap peneduh. Dalam satu kali jalan, kendaraan ini mampu mengangkut hingga delapan penumpang dewasa.
Tarif yang dipatok pun murah, hanya Rp 5.000 per orang untuk berkeliling kampung. Namun, di balik tarif murah itu, penghasilan pengemudi tidak selalu stabil. “Ada setoran Rp 70.000. Kalau sepi, ya enggak dapat apa-apa,” kata Soleh.
Penghasilan Tak Menentu, Pilihan Terbatas
Bagi Soleh, odong-odong bukan pekerjaan pertama yang ia cita-citakan. Namun, pada usia senja, pilihan hidup semakin sempit. “Di umur begini, mau kerja apa lagi? Ini saja yang bisa,” ujar dia. Cerita serupa disampaikan Kamal (54), sopir odong-odong lain di wilayah Rawa Bunga. Ia telah menjalani pekerjaan yang dilakoninya saat ini selama empat hingga lima tahun terakhir.
“Awalnya karena enggak punya pekerjaan tetap, sementara kebutuhan hidup jalan terus,” kata Kamal. Kendaraan yang ia gunakan juga merupakan kendaraan pribadi lama yang dimodifikasi secara mandiri. Baginya, odong-odong adalah bentuk adaptasi ekonomi di tengah keterbatasan. “Kalau ramai, cukup buat makan sehari-hari. Kalau sepi, ya kadang pulang enggak bawa apa-apa,” ujar dia.
Kamal menyadari bahwa pekerjaannya berada di wilayah abu-abu secara hukum. Namun, ia merasa tidak punya banyak pilihan. “Di usia sekarang, cari kerja lain susah. Mau daftar ke mana juga kalah sama yang muda,” katanya.
Hiburan Sekaligus Transportasi Lingkungan
Di Rawa Bunga, odong-odong bermotor tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana mobilitas jarak pendek bagi warga. Pantauan menunjukkan odong-odong kerap melintas di sekitar Pasar Loak Jembatan Item, sekolah, puskesmas, hingga kantor kelurahan. Kendaraan ini beroperasi di ruas-ruas jalan lingkungan, yakni Jalan Jatinegara Timur I hingga IV dan Jalan Kober.
Karena rutenya masuk ke gang-gang sempit, odong-odong menjadi pemandangan sehari-hari yang menyatu dengan kepadatan lalu lintas lokal. Secara visual, kendaraan ini tampil mencolok. Warna-warna cerah seperti biru, hijau, dan ungu mendominasi badan kendaraan. Bendera segitiga warna-warni menggantung di sepanjang atap, sementara lampu hias kecil melingkari rangka besi. Speaker sederhana memutar lagu anak-anak, menarik perhatian calon penumpang di sepanjang jalan.
Bagi warga, terutama anak-anak, odong-odong menjadi hiburan yang mudah dijangkau. Tidak perlu pergi ke taman bermain atau pusat rekreasi, cukup menunggu di depan rumah. Aminah (34), warga Rawa Bunga, mengaku sering mengizinkan anaknya naik odong-odong. Ia menilai keterbatasan ruang bermain membuat odong-odong menjadi pilihan paling realistis. “Di sini enggak ada taman. Kalau mau main yang bagus harus keluar, keluar biaya lagi. Ini tinggal depan rumah,” ujar Aminah.
Dengan tarif Rp 5.000, ia merasa odong-odong masih terjangkau. Namun, Aminah memilih ikut mendampingi anaknya selama perjalanan. “Saya ikut naik supaya bisa ngawasin. Kalau muter kampung saja, saya masih berani,” kata dia. Pandangan serupa disampaikan Felia (29). Ia menyebut odong-odong telah menjadi hiburan rutin bagi anaknya, terutama sore hari. “Kalau dengar musiknya, anak saya langsung keluar. Kadang ditungguin,” ujarnya.
Menurut Felia, odong-odong memberi pengalaman sosial bagi anak-anak meski sederhana. “Mereka ketemu teman, ketawa bareng. Itu yang bikin senang,” kata dia.
Risiko di Balik Kesederhanaan
Di balik fungsi hiburan dan ekonomi, odong-odong bermotor menyimpan risiko keselamatan. Struktur kendaraan yang panjang dan berat membuat manuver di gang sempit menjadi tantangan tersendiri. “Belok susah. Rantainya cuma pakai rem tangan. Pernah hampir nabrak juga,” ujar Soleh. Kamal pun mengakui hal serupa. Karena itu, ia memilih menghindari jalan raya besar. “Saya enggak berani ke jalan besar. Kalau ada petugas, saya berhenti,” kata Kamal.
Meski begitu, odong-odong tetap kerap bersinggungan dengan kendaraan lain seperti sepeda motor dan angkot, terutama saat melintas di jalan utama Jatinegara Timur sebelum masuk kembali ke permukiman.
Di Mata Pemerintah: Kendaraan Berubah Bentuk
Kepala Seksi Operasi Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur, Emiral August Dwinanto, menjelaskan bahwa odong-odong pada dasarnya merupakan kendaraan yang mengalami perubahan bentuk. “Perubahan bentuk kendaraan itu sudah diatur dalam undang-undang,” ujar Emiral saat dihubungi. Menurut dia, kendaraan yang diubah menjadi odong-odong umumnya merupakan mobil pribadi lama atau sepeda motor, bukan kendaraan barang. Hal ini membuat kewenangan penindakan menjadi terbatas.
“Kalau kendaraan pribadi, kewenangan penindakannya ada di kepolisian,” kata dia. Untuk odong-odong berbasis sepeda motor, Sudin Perhubungan tidak memiliki kewenangan melakukan penilangan atau pengandangan. Penindakan yang bisa dilakukan sebatas menghentikan operasional sementara dan memberikan imbauan. Penertiban odong-odong biasanya dilakukan melalui operasi gabungan Lintas Jaya bersama kepolisian dan unsur TNI. Namun, Emiral mengakui bahwa hasilnya sering tidak bertahan lama.
“Fenomenanya seperti mati satu tumbuh seribu. Saat tidak ada operasi, mereka muncul lagi,” ujar Emiral. Menurut dia, keberadaan odong-odong sebenarnya tidak diperbolehkan beroperasi di jalan raya maupun di lingkungan permukiman karena telah mengalami perubahan bentuk kendaraan. “Pengoperasiannya hanya diperbolehkan di kawasan wisata atau area tertutup,” kata dia. Namun di lapangan, keberadaannya kerap ditoleransi karena diminati anak-anak dan menjadi hiburan murah bagi warga.
“Yang paling kami perhatikan itu kalau sudah masuk jalan raya besar, karena risikonya tinggi,” ujar Emiral.
Antara Larangan dan Kebutuhan Hidup
Bagi para pengemudi, larangan tanpa solusi hanya akan mempersempit ruang hidup mereka. Soleh dan Kamal sama-sama berharap ada pendekatan yang lebih manusiawi. “Kalau dilarang, ya kami nurut. Tapi kami juga butuh makan,” kata Kamal. Ia berharap pemerintah tidak hanya menegakkan aturan, tetapi juga memberikan pembinaan atau alternatif pekerjaan. “Kasih solusi, jangan cuma larangan,” ujar dia.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”











