"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Budaya  

Juru Kunci Makam Sunan Gunung Jati Bantah Adanya Lorong ke Mekkah: Wali Tidak Ajarkan yang Tak Logis

Penjelasan Resmi Mengenai Lubang di Kompleks Makam Sunan Gunung Jati

Beberapa waktu lalu, sebuah lubang kecil di kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati, Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, menjadi perbincangan publik. Bukan karena bentuknya yang mencolok, melainkan karena cerita yang mengiringinya: lubang itu disebut-sebut sebagai jalan yang dahulu digunakan Sunan Gunung Jati untuk menginjakkan kaki di Mekkah.

Cerita tersebut viral di media sosial dan menyedot perhatian para peziarah. Namun, klaim yang berkembang itu langsung diluruskan oleh Nasirudin, Juru Kunci Komplek Pemakaman Sunan Gunung Jati Cirebon. Ia menegaskan bahwa narasi tentang lorong ke Mekkah sama sekali tidak benar.

“Ini yang kemarin viral itu sebenarnya salah total. Cerita bahwa tempat itu tembus ke Mekkah, atau seperti lorong gaib, itu tidak benar,” ujar Nasirudin saat diwawancarai, Jumat (9/1/2026).

Penyebab Viralnya Informasi Keliru

Nasirudin menjelaskan, informasi keliru tersebut dipicu oleh penjelasan seorang pemandu ziarah yang belum berkompeten. Menurutnya, pemandu tersebut masih dalam tahap belajar sehingga tidak memahami sejarah secara utuh.

“Yang memviralkan itu seorang pemandu ziarah yang memang baru belajar. Karena itu saya mengimbau kepada para peziarah: carilah pemandu yang memang kompeten, petugas resmi kami yang memakai pakaian adat. Tanyakan langsung kepada juru kunci supaya sejarahnya tidak viral dalam arti salah,” ucapnya.

Sebagai Jeneng Astana Gunung Jati—jabatan struktural juru kunci yang membawahi 121 pengurus makam, Nasirudin menekankan bahwa seluruh petugas resmi di kawasan makam selalu siaga 24 jam untuk memberikan penjelasan kepada para peziarah.

Arti Sebenarnya dari Istilah “Puser Bumi”

Ia juga meluruskan makna istilah “Puser Bumi” yang kerap dilekatkan pada lokasi tersebut. Menurutnya, Puser Bumi bukanlah pusat dunia, apalagi sebuah lorong menuju tempat lain.

“Yang dinamakan Puser Bumi itu bukan pusat dunia. Itu hanya titik nol dari perbukitan yang ada di Astana Gunung Jati. Jadi bukan Puser Bumi yang isinya dunia, apalagi lorong ke Mekkah,” jelas dia.

Lebih jauh, Nasirudin menegaskan bahwa para Wali tidak pernah mengajarkan hal-hal yang berada di luar nalar manusia.

“Wali itu bersyariat. Hakikat, tarekat, dan makrifat itu urusan pribadi masing-masing. Tetapi Wali tidak mengajarkan sesuatu yang di luar akal manusia,” katanya.

Menurutnya, lokasi yang kini ramai diperbincangkan itu sejatinya merupakan tempat spiritual yang memiliki fungsi berbeda dari klaim yang berkembang di media sosial.

“Tempat itu adalah tempat munajat, tempat istikamah, tempat beliau untuk mengingat kepada Yang Maha Kuasa. Tujuannya untuk mendapatkan ketenangan batin, bukan sebagai lorong menuju Mekkah,” ujarnya.

Cerita yang Salah

Ia pun kembali menegaskan, bahwa cerita tentang lubang tembus Mekkah merupakan kesalahan besar.

“Jadi, tidak benar bahwa Puser Bumi ini adalah lorong yang menuju ke Mekkah. Itu salah besar, karena Wali tidak mengajarkan seperti itu,” ucap Nasirudin.

Klarifikasi ini menjadi penanda penting di tengah derasnya arus informasi digital, ketika cerita spiritual dengan cepat menyebar tanpa verifikasi. Bagi Nasirudin, menjaga kemurnian sejarah dan ajaran para Wali adalah bagian dari amanah yang harus dijaga di kompleks pemakaman yang menjadi salah satu pusat ziarah terbesar di Cirebon.

Lubang Berpagar Besi

Sebelumnya, sebuah lubang persegi di kawasan pemakaman Sunan Gunung Jati, Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, mendadak menjadi perbincangan publik. Bukan karena ukurannya, melainkan karena cerita yang menyertainya: lubang tersebut digadang-gadang sebagai “jalan” yang konon dahulu digunakan Sunan Gunung Jati untuk menginjakkan kaki di Mekkah, Arab Saudi.

Kisah itu ramai setelah sebuah video diunggah akun Instagram @reset.feeds. Dalam rekaman tersebut, kamera menyorot sebuah lubang berpagar besi di kompleks pemakaman yang dikenal sebagai salah satu situs ziarah paling ramai di Cirebon. Lubang itu berbentuk persegi dengan perkiraan diameter sekitar satu meter. Di dalamnya tampak tumpukan batu alam berukuran besar, dengan beberapa bunga tabur di atasnya.

Di awal video, seorang pria berbaju batik dan berpeci—yang disebut sebagai pemandu peziarah—memberikan penjelasan kepada para pengunjung. Melalui teks dan suara dalam video, disebutkan bahwa lubang tersebut dipercaya sebagai “jalan menuju Mekkah” yang dahulu digunakan oleh Sunan Gunung Jati. Kerumunan peziarah terlihat antusias, ponsel-ponsel terangkat mengabadikan sudut lubang yang sarat cerita itu.

Namun, tidak semua orang menelan cerita tersebut bulat-bulat. Dedi Oded Haryadi (49), warga Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, yang dimintai tanggapan, memilih bersikap di tengah—antara percaya dan tidak.

“Kalau dibilang percaya atau tidak, ya… percaya atau tidak. Karena zaman dulu itu kan para Wali juga mempunyai ilmu yang lebih tinggi. Bisa saja seperti itu. Tapi sekarang kan zaman sudah modern, jadi masih abu-abu lah, antara percaya dan tidak,” ujar Dedi, Jumat (9/1/2026).

Menurutnya, secara logika kondisi fisik lubang yang sempit sulit dibayangkan bisa menjadi jalur menuju tempat sejauh Mekkah.

“Ruang segitu dan tembusnya ke mana itu kan kita juga nggak tahu. Apakah itu hanya lubang biasa atau saluran air, kita juga nggak tahu,” ucapnya.

Meski begitu, Dedi tetap menghormati kepercayaan yang hidup di masyarakat.

“Kalau zaman dulu, para Wali itu ilmunya sangat tinggi. Ya bisa saja. Jadi kembali ke masing-masing manusianya, percaya atau tidaknya,” katanya singkat.

Kisah tentang lubang di makam Sunan Gunung Jati ini menambah deretan cerita mistis dan spiritual yang kerap melekat pada situs-situs sejarah di Cirebon. Di tengah derasnya arus informasi digital, sebuah lubang kecil di tanah makam pun mampu memantik diskusi besar: antara keyakinan, tradisi dan nalar modern.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *