Perjalanan Relawan yang Diuji oleh Pungli
Relawan asal Provinsi Banten yang sedang melakukan perjalanan menuju Aceh Tamiang untuk membawa bantuan kepada para korban banjir bandang, menghadapi dugaan pungutan liar (pungli) saat melintasi wilayah Palembang. Kejadian ini menimbulkan kekecewaan dan kekhawatiran terhadap perlindungan yang seharusnya diberikan kepada relawan kemanusiaan.
Perjalanan panjang yang dimulai dari Kota Serang ini diisi dengan harapan bahwa bantuan yang dibawa akan sampai tepat waktu dan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. Relawan-relawan tersebut tidak hanya membawa logistik, tetapi juga membawa amanah dan kepercayaan publik yang sangat berharga.
Namun, di tengah perjalanan, rombongan relawan justru menghadapi pengalaman yang tidak menyenangkan. Mereka dilaporkan mengalami dugaan pungli dan intimidasi saat melintas di wilayah Kota Palembang, Rabu (7/1/2026). Peristiwa ini terjadi ketika mereka berhenti di sekitar Terminal Karya Jaya, sebuah titik yang seharusnya aman bagi kendaraan yang menjalankan misi kemanusiaan.
Relawan yang tergabung dalam beberapa organisasi seperti Fesbuk Banten News, Forum Potensi SAR Banten, Aksi Semangat Peduli, dan Petualang Rescue, bukan sekadar membawa barang. Mereka membawa semangat solidaritas dan kepedulian yang tinggi. Dugaan pemalakan tersebut dirasa seperti tamparan bagi nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.
Respons dari Wakil Ketua DPRD Banten
Kabar ini akhirnya sampai ke telinga Wakil Ketua DPRD Provinsi Banten, Eko Susilo. Ia merespons dengan keprihatinan yang tulus. Baginya, relawan kemanusiaan seharusnya mendapat perlindungan penuh, bukan hambatan tambahan di jalan.
“Sayang disayangkan ya, ini relawan kan sudah berniat baik, dari Banten membawa bantuan untuk korban bencana banjir di Aceh. Bukannya dijaga, dilindungi, malah dipalak, dikenai pungli,” ujar Eko.
Ia berharap kejadian serupa tidak kembali terulang, karena setiap menit perjalanan relawan adalah waktu berharga bagi korban bencana di lokasi tujuan. “Semoga relawan-relawan asal Banten dimudahkan dalam misinya, diselamatkan selama di perjalanan, dan pulang kembali ke Banten dalam keadaan yang baik,” tambahnya.
Video Viral dan Klarifikasi Dishub Palembang
Peristiwa ini mencuat ke ruang publik setelah sebuah video dugaan pemalakan beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, terlihat kendaraan pembawa bantuan dihentikan di depan Terminal Karya Jaya, Palembang.
Dinas Perhubungan Kota Palembang memberikan klarifikasi terkait kejadian ini. Kepala Dishub Kota Palembang, Agus Supriyanto, menegaskan bahwa pelaku pungli bukan berasal dari instansinya. Ia menjelaskan bahwa petugas Dishub di Terminal Karya Jaya memang menjalankan tugas pengawasan angkutan barang berat sesuai Perwali Nomor 26 Tahun 2019. Namun, tugas tersebut tidak pernah dimaksudkan untuk menghambat apalagi memalak kendaraan bantuan kemanusiaan.
Agus juga menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan konfirmasi bersama di kantor BPTD Sumsel terkait permasalahan tersebut. Ia menegaskan bahwa permasalahan itu memang terjadi dan dilakukan oleh salah satu pegawai yang ada di BPTD.
BPTD Sumsel Akui dan Minta Maaf
Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Sumatera Selatan akhirnya angkat bicara. Permohonan maaf disampaikan secara terbuka, sekaligus pengakuan bahwa oknum pelaku berasal dari institusi mereka.
“Saya mengucapkan permohonan maaf. Seyogyanya Kepala Balai yang hadir di sini, namun beliau sedang dalam perjalanan. Kami akan melakukan klarifikasi terhadap video yang viral. Memang benar, dari informasi yang kami terima, petugas tersebut berasal dari BPTD Sumatera Selatan,” ujar Kepala Seksi Lalu Lintas Jalan, Sungai, Danau, Penyeberangan, dan Pengawasan BPTD Kelas II Sumsel, Milfer Jonely.
Ia menegaskan bahwa kasus ini tidak akan dibiarkan berlalu begitu saja. “Selanjutnya akan kami dalami keterlibatan mereka dalam dugaan pungli ini dan kami akan melakukan penindakan tegas terhadap petugas yang bersangkutan,” tegasnya.
Di tengah bencana yang masih menyisakan luka di Aceh Tamiang, peristiwa ini menjadi pengingat pahit, bahwa di jalan panjang kemanusiaan, niat baik pun masih bisa diuji. Namun justru dari respons dan penindakan tegaslah, kepercayaan publik kembali dipertaruhkan.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











