"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Religiusitas Indramayu di Persimpangan: Dari Masjid Megah ke Indeks Kejujuran

Mendiagnosis Paradoks Religiusitas

Ada jeda berbahaya antara keyakinan dan perilaku: formalisme ritual tanpa substansi etik. Literasi Al-Qur’an rendah—bukan sekadar “tidak bisa membaca”, tetapi “tidak memahami”—menciptakan ibadah yang kering makna. Di sisi lain, budaya malu dan sungkan mengalahkan budaya benar: pelanggaran diabaikan, integritas diredam agar “rukun”. Indikator religius mestinya berpindah dari kuantitas simbol (jumlah masjid, acara seremonial) ke kualitas akhlak sosial (jujur, tepat waktu, amanah, pelayanan publik).

Kalatida dan Kesepian Moral

“Zaman edan” melahirkan kesepian moral: orang yang konsisten dianggap nyeleneh. Jawabannya bukan heroisme individual, melainkan komunitas kebajikan—kelompok kecil yang menormalisasi integritas dalam keseharian. Perlindungan bagi pelapor pelanggaran, dukungan peer untuk ASN jujur, dan penguatan norma kolektif di lingkungan kerja serta masjid akan menggeser persepsi: dari “edan” ke “standar baru”.

Islamicity sebagai Cermin, bukan Cambuk

Indeks Islamicity pada intinya menakar praktik nilai, rule of law, keadilan, transparansi, perlindungan hak, pengembangan manusia, jujur, tanggungjawab, disiplin—lebih daripada simbol agama. Jika negara non-Muslim unggul, itu menunjukkan nilai-nilai tersebut universal dan bisa diterapkan tanpa label. Terjemahan lokalnya jelas: layanan publik yang bersih, jam pelayanan yang disiplin, laporan kas masjid transparan, pengelolaan zakat tepat sasaran, lalu lintas yang tertib, budaya antre, dan ucapan yang tidak berkhianat.

Empat Pergeseran Strategis untuk MUI

Ada 4 (empat) hal strategis yang bisa dilakukan oleh Pengurus MUI yang baru, menanggapi pernyataan Bupati di atas dan menyikapi pergeseran nilai yang sedang dihadapi masyarakat muslim kita. Berikut adalah empat hal strategis yang bisa dilakukan oleh Pengurus MUI Indramayu:

  • Pertama, Dari ritual ke literasi makna: Program “15 menit tafsir praktis” usai shalat, fokus pada makna lafaz shalat dan dampaknya pada perilaku harian.
  • Kedua, Dari simbol ke akhlak publik: Kode etik jamaah dan pengurus masjid: bersih, tepat waktu, antre, transparansi kas, audit etika berkala.
  • Ketiga, Dari ceramah ke ekosistem: Kemitraan MUI–Pemda–ASN–UMKM–sekolah untuk “Rantai Integritas”: SOP jujur di pelayanan, pelatihan akhlak kerja, mentoring etik bisnis, dan modul “bahasa ibadah” di sekolah.
  • Keempat, Dari penghakiman ke pendampingan: Alihkan energi dari mengadili ke menemani perubahan. Klinik akhlak dan konseling etika untuk pelanggar ringan; restorative approach yang memulihkan, bukan hanya menghukum.

Target 12 Bulan yang Terukur

Ada timeline yang harus dicapai dengan parameter target yang terukur, dan jelas. Maka ada beberapa target yang bisa dicapai dalam 12 bulan:

  • Pertama, Literasi Al-Qur’an: 10.000 warga dewasa mengikuti kelas baca Al-Qur’an dari nol.
  • Kedua, Transparansi masjid: 100 masjid menerapkan laporan kas bulanan di papan pengumuman dan kanal digital.
  • Ketiga, Indeks akhlak publik kelurahan: Ukur kejujuran, ketepatan waktu layanan, antre, kebersihan lingkungan, dan kepatuhan lalu lintas.
  • Keempat, Bahasa ibadah: Pelatihan imam-khatib tentang penjelasan makna bacaan shalat; dan
  • Kelima, Sekolah integritas ASN: Kurikulum singkat etika kerja berbasis kasus lokal.

Penutup: Kubah Tak Bisa Menutupi Akhlak yang Bocor

Kubah lebih besar tidak menutup lubang kejujuran. Indramayu butuh keberanian mengakui jurang antara simbol dan nilai, lalu menutupnya dengan sistem, kebiasaan, dan komunitas yang menumbuhkan akhlak. MUI bukan sekadar penjaga ortodoksi, melainkan mesin penerjemah nilai ke kebijakan mikro yang terasa di antrean, timbangan, jam kerja, dan laporan kas. Jika “Religius” ingin bermakna, jadikan kejujuran dan tanggung jawab sebagai ukuran utama—bukan hanya lafaz yang indah, tetapi perilaku yang tak berkhianat.

Rafitman

Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *