Perayaan Milad ke-41, Haul ke-29 KH. Moch. Toha, dan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Al Aqsho
Pondok Pesantren Al Aqsho di Sukabetah, Kecamatan Sukaasih, Kota Tasikmalaya, menggelar rangkaian acara yang khusus dalam memperingati Milad ke-41, Haul ke-29 al-maghfurlah KH. Moch. Toha, serta peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Acara puncak digelar pada malam Kamis, 1 Januari 2026, menjadi momen penting untuk merefleksikan perjalanan panjang lembaga pendidikan Islam ini sejak pertama kali didirikan.
Acara dimulai dengan Tahlil Akbar yang dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat dan santri. Diiringi oleh Group Hadroh Al Hadad yang dipimpin oleh Ustadz Alfan Misbahul Anam, suasana semakin khidmat dan penuh makna. Selanjutnya, Trio Qori membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an, menambah kesan spiritual dari perayaan tersebut.
Sejarah dan Estafet Perjuangan
Pimpinan Pondok Pesantren Al Aqsho, KH. Yeyeh Moch. Abdul Jabbar, menjelaskan bahwa nama “Al Aqsho” berasal dari nama kakek beliau, Raden Muhammad Aqsho, seorang tokoh asal Panjalu. Meskipun kini berkembang pesat di Sukabetah, awalnya gagasan pendirian pesantren ini lahir di Ciputat, Jakarta, saat keluarga pendiri bertugas di Departemen Agama Pusat.
Semangat dakwah terus diteruskan setelah wafatnya KH. Moch. Toha pada tahun 1996. Pengembangan unit pendidikan mulai dari TKA, TPA hingga Madrasah Diniyah Takmiliyah Ula (MDTU) dilakukan secara bertahap. Menurut KH. Yeyeh, anak adalah amanah Allah yang harus dibekali ilmu agama, terutama saat memasuki usia SMP.
Beliau juga menyampaikan apresiasi tinggi atas dukungan masyarakat dan para donatur. Keberlangsungan Al Aqsho selama empat dekade adalah hasil kerja keras kolektif. Tanpa dukungan tenaga, pikiran, dan materi dari jemaah, perjuangan ini tidak akan sampai pada titik sekarang.
Pesan Spiritual dari KH. Abdul Gani
Puncak acara diisi dengan Tabligh Akbar bersama KH. Abdul Gani dari Cipatujah. Dalam tausiyahnya, beliau menyoroti esensi dan keajaiban peristiwa Isra Mi’raj. Beliau menjelaskan bahwa peristiwa ini merupakan mukjizat agung yang membuktikan kekuasaan Allah SWT, sekaligus menegaskan kemurnian tauhid bahwa Allah Maha Suci dan tidak beranak maupun diperanakkan.
Dalam tinjauan sains, perjalanan ini melampaui segala batas logika manusia. Jika kecepatan suara hanya 25 km/detik dan kecepatan cahaya mencapai 300.000 km/detik, maka kecepatan perjalanan Rasulullah SAW dalam peristiwa Isra Mi’raj jauh di atas itu semua, bahkan melampaui kecepatan malaikat sekalipun. Hal ini dimungkinkan karena Allah SWT sendiri yang memperjalankan Baginda Rasulullah SAW.

Kepastian Perjalanan Roh dan Jasad
Secara teologis, terdapat keyakinan kuat bahwa perjalanan Isra Mi’raj dilakukan oleh Rasulullah SAW dengan roh sekaligus jasadnya. Melalui kajian ilmu alat dan ushul fiqh terhadap lafaz bi’abdihi dalam Al-Qur’an, dapat disimpulkan bahwa istilah “hamba” merujuk pada kesatuan utuh antara roh dan fisik, bukan sekadar roh belaka. Oleh karena itu, umat Islam tidak perlu ragu terhadap keabsahan peristiwa ini secara lahir dan batin.
Menepis Tuduhan Bidah dalam Syiar Islam
Peringatan hari besar Islam, seperti Isra Mi’raj, tahlil, maupun pembacaan selawat, sering kali mendapatkan tudingan bidah dari kelompok tertentu. Namun, esensi dari kegiatan-kegiatan tersebut justru berakar pada pengagungan ayat-ayat Al-Qur’an dan upaya meneladani akhlak mulia Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini merupakan sarana syiar untuk memperkuat kecintaan umat kepada Rasulullah, sehingga tidak sepatutnya dianggap sebagai penyimpangan agama.
Acara puncak yang diketuai oleh Ustadz Ihab Moch. Abdul Wahab, S.Pd.i. dihadiri juga oleh Ketua MUI Kelurahan Sukaasih, para ketua RW dan RT, para tokoh agama serta undangan kehormatan lainnya berakhir menjelang tengah malam. Dengan berakhirnya acara ini, terpancar harapan besar agar semangat yang terbangun di lingkungan Pesantren Al Aqsho terus menyala dalam sanubari setiap santri dan masyarakat sekitar.











