Petani di Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus: Semangat Bertani yang Tak Pernah Padam
Petani menjadi pilar utama dalam menjaga ketersediaan pangan di suatu daerah. Di Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah, petani memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas produksi pangan. Wilayah ini dikenal sebagai sentra pertanian, terutama untuk tanaman padi. Lebih dari 80 persen wilayah Undaan berupa area persawahan yang menjadi potensi besar dalam memenuhi kebutuhan pangan.
Di tengah tantangan seperti banjir saat musim hujan, semangat petani tidak pernah padam. Mereka memiliki slogan khusus untuk menjaga motivasi bertani. Setiap masa tanam tiba, persaingan antar petani tidak lagi menjadi halangan. Justru, mereka saling berlomba meningkatkan produktivitas padi dari lahan yang ada dengan mengoptimalkan penggunaan pupuk.
Salah satu contohnya adalah Darwoto (65), seorang petani berpengalaman dari Desa Undaan Tengah. Ia telah terjun dalam dunia pertanian sejak tahun 1989, lebih dari 35 tahun lalu. Baginya, menjadi petani bukan hanya sekadar pekerjaan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab untuk mendukung swasembada pangan.
Di Desa Undaan Tengah, terdapat sekitar 534 hektare lahan pertanian dengan ratusan petani yang terlibat. Darwoto mengelola sekitar 4 hektare sawah. Pada awalnya, pemakaian pupuk masih terbatas dan tidak proporsional, sehingga hasil panen berkisar antara 4-5 ton gabah per hektare.
Seiring waktu, edukasi dan pengetahuan tentang pertanian membuka wawasan baru bagi petani. Penggunaan pupuk yang tepat menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas. Dengan intensifikasi, petani bisa meningkatkan hasil panen dari lahan yang sama.
“Luasan lahan tetap, tapi kita bisa meningkatkan hasil produksi melalui intensifikasi,” ujar Darwoto. “Pupuk menjadi kunci, jadi harus sesuai kebutuhan, tidak asal-asalan.”
Dengan pemupukan yang tepat, hasil panen bisa mencapai 7-8 ton per hektare. Namun, ini memerlukan kesadaran petani untuk belajar kapan waktu yang tepat untuk pemupukan dan seberapa banyak pupuk yang dibutuhkan.
Selain pupuk, nutrisi juga sangat penting dalam memaksimalkan hasil panen. Darwoto menjelaskan, langkah-langkah seperti memperbanyak anakan tanaman, menjaga pola tanam yang baik, serta memberikan nutrisi tambahan bisa membantu meningkatkan kualitas biji padi.
Tantangan dalam bertani tidak hanya terletak pada penggunaan pupuk, tetapi juga pada dinamika harga pupuk yang sering kali fluktuatif. Harga pupuk yang tinggi membuat petani harus lebih waspada dalam mengatur anggaran. Darwoto berharap pemerintah terus melibatkan diri dalam mengintervensi harga pupuk agar tetap ramah di kantong petani.
“Ketika harga pupuk naik, kita harus mengencangkan ikat pinggang. Tapi ketika harga turun, ikat pinggang akan melonggar secara alami,” kata Darwoto.
Saat ini, lahan sawah yang dikelola Darwoto mampu menghasilkan panen padi sebesar 7-8 ton per hektare. Ini merupakan kenaikan hampir dua kali lipat dari hasil sebelumnya. Selain menggunakan pupuk phonska dan urea, ia juga memanfaatkan pupuk nutrisi untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Proses pemupukan dilakukan tiga kali dalam setiap masa tanam. Pertama, usia tanaman 12 hari dengan menggunakan urea, phonska, dan phosgreen. Kedua, usia 25 hari dengan urea dan phosgreen. Ketiga, usia 35 hari dengan NPK.
Dengan siklus tersebut, padi yang ditanam Darwoto siap dipanen pada usia 92 hari, asalkan pasokan air cukup. “Jika air kurang, hasil panen juga akan berkurang,” tegasnya.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











