Momen Tahun Baru yang Penuh Makna
Momen tahun baru selalu menjadi momen yang bermakna. Ia menjadi tanda awal harapan dan semangat baru bagi banyak orang. Dalam perayaan ini, masyarakat dari berbagai daerah memilih cara-cara unik untuk merayakan, salah satunya dengan berbagi kata-kata puitis kepada orang terkasih.
Menyambut tahun baru dengan puisi-puisi karya penyair terkenal tanah air bisa menjadi pilihan yang sangat tepat. Berikut adalah 11 puisi yang cocok untuk membuka tahun baru dengan makna yang dalam.
1. Tahun Baru
Karya: Yudhistira A.N.M.Massardi
Aku mencari puisi Tahun Baru di kalender 2016, belum ketemu
Ingin kutambahkan beberapa kata di sana
Tentang yang lalu, tentang menunggu, tentang sesuatu yang tak tentu
Ingin kutuliskan sesuatu yang bukan Senin sampai Minggu
Bukan juga 1 sampai 31
Aku ingin menulis tentang Kamu
Pemilik segala yang silam maupun yang datang
Aku ingin bisa terus bersyukur
Untuk semua yang kudapat, untuk semua yang tak sempat
Setidak-tidaknya malam nanti
Sebelum jam baru mengubah arloji jadi kembang api
“Sayangku, mohonlah sesuatu, selagi ada waktu,” katamu
“Sudah kumohon pada-Nya, agar kita bisa melewati Januari hingga Desember”
“Dalam cinta?”
“Dalam cinta dan alpa”
“Apakah ada jeda?”
“Akan ada menopause. Akan ada petasan!”
Ah, Tahun Baru akan selalu datang
Sambil meniup terompet dan menyalakan langit malam
Mengantarkan pantai dan gunung-gunung
Kepada para peziarah dan turis lokal
Memacetkan jalan hingga langit jingga
“Apakah kita melupakan sesuatu?
Seperti sepasang sepatu menyesatkan tamu?”
“Ah, kamu terlalu parno! Tenang saja.
Sang waktu ibarat borgol: ia selalu menepati janji sampai kita mati!”
“Ah, kenapa bicara mati?”
“Selamat Tahun Baru sayangku. Selamat menempuh hidup baru!”
“Kalau mati?”
“Mungkin mejan. Ganti sumbunya!”
Bekasi, 31 Desember 2015
2. AKU
Karya: Chairil Anwar
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
3. Derai-Derai Cemara
Karya: Chairil Anwar
cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
4. Dengan Puisi, Aku
Karya: Taufiq Ismail
Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya.
5. Doa Untuk Anak Cucu
Karya: W.S Rendra
Bismillaahir rahmaanir rahiim.
Ya, Allah.
Di dalam masa yang sulit ini,
di dalam ketenangan
yang beku dan tegang,
di dalam kejenuhan
yang bisa meledak menjadi keedanan,
aku merasa ada muslihat
yang tak jelas juntrungannya.
Ya, Allah.
Aku bersujud kepada-Mu.
Lindungilah anak cucuku.
Lindungilah mereka
dari kesabaran
yang menjelma menjadi kelesuan,
dari rasa tak berdaya
yang kehilangan cita-cita.
6. Aku tulis pamplet ini
Karya: W.S Rendra
Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng-iya-an.
Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi.
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki,
menjadi mara-bahaya,
menjadi isi kebon binatang.
7. Sajak Sebatang Lisong
Karya : W.S Rendra
Menghisap sebatang lisong,
melihat Indonesia Raya,
Mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang
berak di atas kepala mereka.
Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.
8. Yang fana adalah Waktu
Karya: Sapardi Djoko Damono
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu. Kita abadi.
9. Pada Suatu Hari Nanti
Karya: Sapardi Djoko Damono
pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi…
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri…
pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi…
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati…
pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi…
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari…
10. Sajadah Panjang
Karya: Taufiq Ismail
Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati
Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini
Diselingi sekedar interupsi
Mencari rezeki, mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara azan
Kembali tersungkur hamba
11. Selamat Tahun Baru kawan
Karya : KH. Mustofa Bisri
Kawan sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri
Bercermin firman Tuhan,sebelum kita dihisabNya
Kawan siapakah kita ini sebenarnya?
Muslimkah,mukminin,muttaqin,
kholifah Alloh,umat Muhammadkah kita?
Khoirul ummatinkah kita?
Atau kita sama saja dengan makhluk lain atau bahkan lebih rendah lagi.
Hanya budak perut dan kelamin
Iman kita kepada Alloh dan yang ghaib Rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan Lebih pipih dari kain rok perempuan











