"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Budaya  

Makanan lokal yang belum dikenal dunia

Makanan Lokal yang Menyimpan Kenikmatan Tak Terduga

Kuah kental berwarna kuning dengan asap yang mengepul di panci berukuran sedang itu mengeluarkan aroma khas yang menggoda. Suara mendidih dan harum aneka rempah seperti kunyit, cengkeh, pala, jahe, lengkuas, serai, juga ada daun jeruk dan daun salam memberikan sensasi tersendiri.

Salah satu makanan lokal yang selalu tersedia saat lebaran tiba, Opor Ayam. Selalu dinantikan keberadaannya. Makanan yang khas ini entah diciptakan oleh siapa pada awalnya, tetapi yang jelas membuat penikmatnya selalu menantikan kehadirannya.

Selain Opor Ayam, ada Soto, Sambal, Pepes, Bothok, Nasi Goreng, Bakmi Goreng, Urap, Pecel, dan masih banyak lagi. Sederet makanan ini memiliki rasa yang berbeda satu sama lain, tetapi punya benang merah yang mirip. Makanan lokal.

Sebagai orang Indonesia, tidak memungkiri, makanan-makanan di atas tidak lebih populer dari beberapa makanan kekinian yang ngebrand hari-hari ini. Dari segi rasa dan kelengkapan bumbu, deretan makanan yang disebutkan itu sangat kaya. Tidak sepo, tidak anyep, tapi sangat kaya rasa, tastefull!

Rempah yang digunakan sebagai bumbu masakan berhasil mengundang selera makan. Boleh dibilang, makanan-makanan tersebut memberikan sensasi inderawi yang beragam dan lengkap. Rempah yang memberikan sensasi aromatik khas, dan ini membantu kita untuk bergegas menghabiskan makanannya hingga suapan terakhir.

Rasanya pasti sebagian besar kita sepakat penuh memberikan label lezat dan punya nilai gizi tinggi pada banyak makanan lokal kita. Tetapi bisa jadi banyak dari generasi masa kini mulai kurang bahkan tidak familiar. Keakraban pada makanan lokal kita mungkin bisa dimulai dari kebiasaan mengonsumsinya sedini mungkin.

Obrolan ringan mengenai tradisi kuliner kita bisa diturunkan agar generasi berikutnya punya rasa memiliki juga. Mengenalkan makanan lokal sebagai bagian dari jati diri adalah sebuah cara membondingkan generasi saat ini. Bonding penting sebelum nantinya membrandingkan makanan-makanan ini ke tataran mancanegara.

Rindu bahwa dunia internasional menjadi target pasar makanan kita, sama seperti selama ini, kita kerap menjadi pasar bagi produk-produk luar. Bukan anti makanan luar, tetapi adalah sebuah upaya bangga terhadap produk lokal terlebih dahulu sehingga kemudian punya sense of belonging.

Rasa memiliki sangat penting sehingga punya keinginan untuk melindungi, mengenalkan, mengembangkan, makanan-makanan tersebut karena hal itu bagian dari diri. Sebenarnya bukan ingin berkompetisi dengan makanan dari luar karena masing-masing punya cita rasa yang khas. Namun demikian, kebanggaan akan memberi arah bagaimana sikap dan cara tindak kita pada makanan-makanan tersebut.

Jujur saja, menulis artikel ini juga cara saya untuk menguliti diri dan mengevaluasi diri atas keberadaan makanan lokal dalam cara pandang saya. Mulai melatih kesadaran ketika memasak dan merenungkan tiap racikan bumbu dan bahan komposisi makanan lokal yang saya olah, bahwa ternyata luar biasa ya, mulai dari bahan hingga proses memasak dan menyajikannya. Angkat dua jempol buat makanan lokal kita. Mulai dari diri sendiri dan keluarga terdekat untuk mengapresiasi. Gerakan sudah dimulai.

Banyak rekan-rekan pengusaha kuliner yang mengusung makanan-makanan tradisional dalam core menunya. Sepakat untuk upaya mengembangkan makanan lokal dari cara penyajian sehingga lebih higienis kemudian kemasan. Upaya promosi bisa dilakukan dengan menambahkan cerita yang berkaitan dengan proses pembuatan, asal daerah yang membuat, dan sejarah bagaimana makanan itu bisa diturunkan atau dikenalkan.

Sebagai contoh, ada dessert yang bernama Manuk Nom. Makanan ini adalah makanan kesukaan Sultan Hamengku Buwono ke VII dan VIII yang kemudian saat ini dikenalkan pada masyarakat luas dalam menu sebuah restoran di Kota Yogyakarta. Jika mau digali lebih dalam, begitu luas dan lebar daftar menu makanan-makanan kreasi lokal kita.

Tentu membanggakan, jika wisatawan asing memposting street food Indonesia ketika berkunjung ke negara ini dan memviralkan di media sosial mereka. Seperti banyak wisatawan dari Indonesia yang bangga ketika jajan street food di luar negeri dan mengabadikannya di medsos mereka. Ini sebuah upaya promosi murah meriah. Namun demikian, hal itu juga harus dibarengi dengan kitanya yang gak gagap dengan makanan-makanan lokal kita sendiri.

Bisa kita sebutkan kekayaan ragam makanan kita, mulai dari beragam Soto di berbagai daerah. Mulai dari Soto Betawi hingga Soto Banjar. Dari Soto Bandung hingga Soto Kudus. Kemudian juga ada Bubur Tinotuan, Papeda hingga Bubur Sumsum.

Selanjutnya ada Sate Klathak hingga Sate Kere. Kemudian Nasi Jamblang hingga Nasi Uduk. Bukan hanya itu, ada ragam sambal, mulai dari Sambal matah hingga Sambal Tumpang sebagai bagian dari kekayaan kuliner lokal kita. Lezat dan nilai gizi serta keunikan tiap makanan menjadi sebuah kebanggan dalam diri yang terwujud dalam jati diri yang terus lestari.

Terima kasih.
26 Desember 2025

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *