Sejarah dan Keberlanjutan Nandong Smong di Pulau Simeulue
Di Pulau Simeulue, Aceh, terdapat kearifan lokal yang masih dilestarikan, yaitu Nandong Smong. Nandong Smong merupakan sebuah syair yang dinyanyikan sebagai buaian tidur bagi bayi-bayi di pulau tersebut. Syair ini ternyata mengandung pesan penting tentang tsunami dan cara mitigasi untuk menyelamatkan diri sebelum bencana datang.
Syair Smong ditulis dalam bahasa Devayan dan menjelaskan secara rinci kriteria tsunami yang diawali dengan gempa kuat, surutnya air laut, dan kemudian datangnya ombak besar. Dalam masyarakat Simeulue, nenek moyang kita mengajarkan untuk segera melakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi dan menjauhi laut sebagai tindakan mitigasi. Sejarah mencatat bahwa tsunami di Pulau Simeulue terjadi pada tahun 1907, lalu kembali terjadi setelah 97 tahun, tepatnya pada tahun 2004. Teori menyatakan bahwa tsunami dapat terjadi dalam siklus seratus tahun sekali.
Dampak nyata keberhasilan mitigasi melalui syair Smong adalah rendahnya korban jiwa akibat tsunami 2004 di Pulau Simeulue, di mana diperkirakan hanya 10 jiwa meninggal dunia. Namun, kerusakan dan kerugian harta benda tidak dapat dihindari kecuali kita menerapkan pembangunan yang tidak mengganggu buffer zone area atau wilayah penyangga tsunami.
Peran Nandong Smong dalam Mitigasi Bencana
Nandong Smong juga memiliki makna spiritual yang dalam. Dalam Sejarah Nabi Nuh as, diceritakan bahwa sang Nabi membuat kapal besar yang mengundang cemoohan masyarakatnya, bahkan ada yang mengotorinya. Sejatinya Allah swt telah membuktikan kemahakuasaan-Nya untuk mendatangkan bencana air bah di muka bumi dan menenggelamkan semuanya, hatta gunung sekalipun.
Sebagai manusia, kita cepat sekali lupa. Untuk itulah, nasehat-nasehat harus dijadikan budaya agar kita tetap waspada. Pembangunan pasca tsunami 2004 tidak mengindahkan konsep-konsep mitigasi bencana yang tepat, terutama pemanfaatan buffer zone untuk wilayah pemukiman penduduk.
Perubahan Budaya dan Kehidupan Masyarakat
Kehidupan kita juga seperti menjauh dari Tuhan, terlihat nyata dari berbagai bentuk dekadensi moral yang terjadi. Angka korupsi yang tinggi, suburnya mafia dan lintah darat di tengah masyarakat, penyalahgunaan narkoba, dan bahkan kejahatan seksual.
Padahal kita berada di provinsi yang kononnya menerapkan syariat Islam. Kasus lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan HIV meningkat. Mirisnya lagi pelaku LGBT ditemukan di kalangan mahasiswa dan kasus HIV juga menyasar generasi berusia 11-30 tahun. Berdasarkan pengalaman menjadi dosen selama 22 tahun, saya melihat perubahan nyata budaya menuntut ilmu menjadi menuntut nilai atau ijazah. Sungguh suatu fenomena yang sangat berbahaya, yang akan menghancurkan masa depan kita.
Tsunami Darat di Tahun 2025
Di penghujung November 2025, Allah swt telah mengirimkan tsunami darat dari arah gunung. Diawali dengan adanya badai ex-siklon senyar yang membawa angin kencang dan curah hujan yang tinggi, berbagai wilayah di dataran tinggi Aceh habis tersapu air bah yang turun dari gunung. Aliran sungai yang sebelumnya syahdu berubah irama menjadi bandang yang meluluhlantakkan apa saja yang dilaluinya.
Aliran air yang kencang dengan debit yang tinggi, ditambahi dengan banyaknya gelondong-gelondong raksasa hasil pembalakan hutan menjadi agen perusak yang sangat dahsyat, menghancurkan jalan dan jembatan serta berbagai infrastruktur lain seperti tower listrik dan tower telekomunikasi. Aliran banjir membawa jasad manusia dan hewan, puing-puing bangunan, dan kendaraan.
Penyebab dan Konsekuensi Tsunami Darat
Kesan tsunami darat kali ini terasa sangat dahsyat sebagai akumulasi dari perbuatan kita yang tidak bertanggung jawab dalam mengeksploitasi sumber daya alam Aceh. Dikabarkan adanya illegal logging, deforestation besar-besaran yang merusak keseimbangan alam, dan adanya kegiatan penambangan. Alih fungsi lahan hutan sebagai kebun kelapa sawit diduga juga dilakukan tanpa pertimbangan AMDAL yang berintegritas.
Dalam kurun 10 tahun, pulau Sumatera telah kehilangan 10 juta hektare lahan hutan, atau dapat kita katakan bahwa laju deforestasi di Pulau Sumatera mencapai 1 juta hektare per tahun.
Langkah-Langkah untuk Menangani Bencana
Kini, dengan teguran Tuhan dari tsunami 2004 ke tsunami 2025, mungkinkah kita tersadar dan segera berbenah diri? Pertama adalah apakah kita dapat menjadikan momen musibah ini sebagai titik hijrah, peningkatan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt? Kedua, bagaimana kita bersikap untuk tidak memperparah keadaan dan berempati membantu sesama.
Penggalangan donasi dapat kita lakukan untuk didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Proses penyaluran perlu diperhatikan untuk melibatkan pihak-pihak berkompetensi seperti BPBD dan BPBA, terutama sekali untuk menembus daerah terisolir, atau bahkan menggunakan keahlian Tentara Nasional Indonesia (TNI). Persatuan dan kesatuan sangat dibutuhkan melalui koordinasi (sinkronisasi) yang tepat dan terpusat, sehingga semua korban dapat menerima bantuan secara cepat dan tepat.
Masa Depan yang Lebih Baik
Peran Pemerintah Aceh dan Pemerintah Daerah sangat penting dalam memastikan sistem sinkronisasi ini. Metode penanganan darurat bencana dan rehab rekon yang tepat lebih penting daripada meributkan status bencana. Tanpa sinkronisasi, kita akan gagal menyelesaikan penanggulangan darurat pascabencana, sekalipun waktunya diperpanjang.
Selanjutnya kita akan masuk ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Dalam Pembangunan rehab-rekon, kita perlu memasukkan unsur mitigasi bencana tsunami darat sehingga proses rehab-rekon berjalan dengan tuntas, dan menghasilkan pembangunan yang lebih baik dari sebelumnya.
Para seniman dapat berkontribusi membuat nandong tsunami darat untuk dapat dituturkan kepada generasi berikutnya. Pemerintah perlu memasukkan program rehab-rekon yang menerapkan mitigasi bencana di masa depan, pencegahan illegal logging dan penambangan yang tidak memenuhi AMDAL dan mengendalikan segenap aktivitas di tengah masyarakat seperti harga barang dan jasa.
Para ilmuwan (‘alim) dapat memberikan rekomendasi terkait desain bangunan yang tahan bencana, pola rehabilitasi dan reklamasi lahan, inovasi pemanfaatan limbah bencana dan seterusnya. Para ulama dapat memberikan kontribusi terkait larangan menaikkan harga barang secara tidak wajar pasca bencana, larangan bersikap parasit atau lintah darat di tengah masyarakat, larangan merusak sumber daya alam, kewajiban menjaga kebersihan lingkungan, dan seterusnya.
Mari semua elemen masyarakat bersatu padu untuk pembangunan yang lebih baik.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











