"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Budaya  

Hari Amal Bakti Kemenag ke 80: Pesan Damai HKY Kota Tasikmalaya untuk Jawa Barat Melalui Angklung

Pemandangan yang Menggetarkan Hati dalam Peringatan Hari Amal Bakti Kemenag ke-80

Di tengah perayaan Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama ke-80 tingkat Provinsi Jawa Barat yang berlangsung di Kota Tasikmalaya, terdapat pemandangan yang menggetarkan hati. Bambu, yang biasanya hanya dianggap sebagai benda mati, kini menjadi saksi bisu dari sebuah simfoni perdamaian yang indah. Di bawah langit Jawa Barat, perbedaan nada bukanlah pemisah, melainkan bagian penting dari sebuah harmoni yang menyatukan semua.

Saat denting angklung menyambut langkah para tamu kehormatan dalam acara puncak HAB Kemenag ke-80 yang diselenggarakan di Alun-Alun Dadaha Kota Tasikmalaya pada hari Ahad, 20 Desember 2025, kita melihat wajah Indonesia yang sesungguhnya. Sambutan ini tidak hanya menggunakan suara, tetapi juga rasa, hormat, dan kasih yang melampaui batas-batas dinding gereja.

Grup Angklung Gereja Katolik Hati Kudus Yesus (HKY) Tasikmalaya hadir bukan sekadar sebagai pengisi acara, melainkan sebagai simbol hidup dari tema besar kerukunan umat beragama. Mereka membawa pesan perdamaian melalui musik bambu yang dinamis dan penuh makna.

Persaudaraan di Panggung Jawa Barat

Keikutsertaan Grup Angklung HKY dalam gelaran HAB Kemenag ke-80 menjadi sorotan utama. Di bawah langit Jawa Barat, jemari para anggota grup yang mayoritas lansia, menggoyangkan angklung dengan penuh penghayatan. Penampilan mereka menjadi bukti nyata bahwa agama dan budaya adalah dua sayap yang menerbangkan pesan perdamaian ke seluruh penjuru.

“Kehadiran kami di sini adalah bentuk syukur. Angklung adalah bahasa cinta kami untuk Tuhan dan sesama, sekaligus penghormatan kami pada semangat Hari Amal Bakti yang menekankan kerukunan,” ujar Aloysius S. Poerwanto, S.Pd, salah satu tokoh di Gereja HKY.

Grup Angklung Gereja Hati Kudus Yesus (HKY) Tasikmalaya, yang dibentuk pada 19 Februari 2024 dan beranggotakan 32 orang, tampil sebagai performance dalam gelaran HAB Kemenag ke-80 tingkat Provinsi Jawa Barat sebagai wujud nyata kerukunan dan toleransi antar umat beragama. Kelompok yang didominasi oleh lansia berusia 60 hingga 75 tahun ini tidak hanya hadir untuk menyambut tamu kehormatan, tetapi juga untuk membawa pesan moderasi beragama melalui harmoni musik bambu yang melampaui sekat-sekat perbedaan.

Penampilan apik Group Angklung Gereja Hati Kudus Yesus dibawah conductor Yani Rahayu Wibowo dimulai dengan membawakan lagu bernuansa kebangsaan seperti Bagimu Negeri, Ibu Pertiwi, Bangun Pemuda Pemudi, Maju Tak Gentar, dan Manuk Dadali. Hadirin terbius saat Lagu Ini Rindu dari Almarhum Farid Hardja mengguncangkan panggung. Para penonton dengan spontan ikut bernyanyi mengikuti alunan angklung yang dinamis.

Tak berhenti disitu, penonton kembali terpesona saat lagu religi Tombo Ati (Opik) dan lagu Yalal Wathan dimainkan. Lagu Ya Lal Wathan sendiri adalah lagu kebangsaan yang populer di Indonesia, khususnya di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Lagu ini diciptakan oleh Kiai Wahab Hasbullah, seorang ulama besar dan salah satu pendiri NU, sebagai bentuk kecintaan dan semangat nasionalisme terhadap tanah air.

Filosofi Bambu: Tak Bisa Berbunyi Sendirian

Narasi yang dibawa oleh grup ini sangat mendalam. Mereka menunjukkan bahwa filosofi angklung selaras dengan semangat Kementerian Agama. Angklung tidak bisa berbunyi indah jika hanya sendirian; ia membutuhkan getaran dari nada lain untuk menciptakan simfoni.

Setiap getaran bambu yang mereka mainkan dalam peringatan HAB ini melambangkan satu jiwa yang saling menopang. Jika satu nada tidak selaras, maka keindahan melodi akan hilang. Inilah cara umat HKY Tasikmalaya menerjemahkan moderasi beragama: sebuah kebersamaan yang kokoh di tengah perbedaan nada dan keyakinan.

Jembatan Perdamaian dari Kota Santri

Partisipasi dalam HAB Kemenag ke-80 ini mempertegas peran Grup Angklung HKY sebagai duta perdamaian. Kehadiran mereka di panggung resmi pemerintah tingkat provinsi ini menjadi oase dialog lintas iman yang menyejukkan.

Usai acara, Ketua Group Angklung Gereja Hati Kudus Yesus yakni Inggriani Permana menyampaikan bahwa Group Angklung Katolik Hati Kudus Yesus (HKY) Kota Tasikmalaya menyatakan bahwa kelompok angklung yang beranggotakan para lansia ini tetap kompak dan berdaya upaya untuk terus maju, melatih otak agar tidak cepat pikun, serta berharap dapat terus mengekspresikan diri di tengah masyarakat melalui kesenian.

Hal yang sama disampaikan oleh salah satu anggota Group Angklung Gereja HKY, Kennie Heryanto. Ia mengaku senang bisa bergabung dengan Group Angklung Gereja HKY ini. “Senang sekali bisa menjadi bagian dari keluarga angklung HKY. Melalui wadah ini, saya belajar bahwa usia bukanlah halangan untuk terus berkarya dan bermanfaat bagi gereja maupun masyarakat. Dengan mempelajari berbagai jenis lagu, kita tidak hanya bermain musik, tetapi juga sedang merajut harmoni dalam keberagaman dan toleransi.”

Group Angklung Gereja HKY membuktikan bahwa di Jawa Barat, harmoni bukan sekadar slogan, melainkan sesuatu yang bisa didengar, dirasakan, dan dinikmati melalui ayunan angklung. Melalui momen HAB ke-80 ini, Grup Angklung HKY Kota Tasikmalaya telah mengetuk pintu hati setiap insan untuk terus merajut tenun kebangsaan dengan penuh kerendahan hati dan persaudaraan.

Di tanah Tasikmalaya yang religius, mereka membuktikan bahwa menjadi beriman tidak berarti meninggalkan jati diri Sunda. Saat lagu-lagu nasional dan daerah berkumandang dari rahim bambu di tangan para lansia gereja, sekat-sekat perbedaan seolah luruh berganti rasa bangga akan kekayaan budaya bangsa.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *