"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Budaya  

KUA Karangpilang Berangkat ke Gili Ketapang

Masa Magang yang Tidak Biasa

Pepatah “Tak kenal, maka tak sayang” memang terdengar sederhana, tapi justru dari kesederhanaan itulah ia menjadi begitu melekat di hati. Banyak hal berkesan dalam hidup yang awalnya kita anggap biasa saja. Awalnya hanya biasa, lalu jadi terbiasa, dan tanpa disadari perlahan berubah menjadi sesuatu yang luar biasa.

Hal yang sama juga terjadi dalam kisah magangku. Awalnya aku hanya mengira bahwa masa magang akan menjadi pengalaman yang biasa-biasa saja. Namun, ternyata kejadian itu justru menjadi momen yang sangat berharga dan membekas dalam ingatanku.

Pengalaman Magang di KUA Karangpilang

Di semester lima perkuliahan ku di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), aku harus menyelesaikan “Program Magang Berdampak” yang berlangsung selama empat bulan. Dengan pilihan tempat magang yang beragam, aku memilih untuk menjalani masa magang di KUA Karangpilang, Kota Surabaya.

KUA (Kantor Urusan Agama) adalah tempat yang sering kali dikaitkan dengan urusan pernikahan. Awalnya aku pun berpikir demikian. Namun, setelah menjalani magang selama empat bulan, pandangan itu berubah seketika. Ternyata, KUA tidak hanya mengurus pernikahan, tetapi juga banyak layanan lain seperti bimbingan perkawinan, pengurusan wakaf, konsultasi permasalahan rumah tangga, hingga keterlibatan aktif dalam kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat.

Aktivitas yang Padat Merayap

Magang di KUA Karangpilang di bawah pimpinan H. Mastur Musyafak, S.H.I., M.Ag. dengan total 11 pegawai membuatku benar-benar paham bahwa aktivitas di KUA nyaris nggak pernah sepi. Kegiatannya beragam dan berjalan setiap hari. Bahkan, saking aktifnya, KUA Karangpilang baru saja mendapat apresiasi sebagai KUA teraktif se-Kota Surabaya.

Dari momen-momen sederhana inilah, kebersamaan terasa semakin erat. Duduk berdampingan, tertawa bersama, dan berbagi cerita tanpa beban membuat hubungan para pegawai KUA dengan mahasiswa magang semakin dekat dan lekat. Hubungan yang awalnya sekadar rekan kerja pun tumbuh menjadi ikatan hangat, akrab, dan penuh cerita.

Liburan Bersama di Gili Ketapang

Di tengah kesibukan kantor, selalu ada ruang untuk obrolan santai yang biasanya muncul saat waktu istirahat. Awalnya sih iseng-iseng membahas liburan akhir tahun, sekadar wacana pelepas penat. Ehh, siapa sangka, obrolan santai itu justru berujung pada liburan sungguhan. Kali ini bukan sekadar wacana, tapi benar-benar kisah nyata.

Sebagai bentuk reward setelah bekerja keras selama ini, para pegawai pun sepakat untuk jalan-jalan sejenak, sekadar merefresh pikiran dari rutinitas pekerjaan. Destinasi yang dipilih adalah Gili Ketapang, sebuah pulau kecil di Probolinggo, Jawa Timur yang sangat cocok untuk melepas penat sambil menikmati suasana laut yang terhampar luas sejauh mata memandang.

Perjalanan Menuju Gili Ketapang

Pagi-pagi buta kami sudah berkumpul di dalam kendaraan menuju Gili Ketapang. Perjalanan dari Surabaya ke Probolinggo memakan waktu kurang lebih dua jam. Sepanjang perjalanan diisi dengan obrolan ngalor-ngidul, tawa yang muncul tiba-tiba, dan candaan yang entah ke mana arahnya. Pokoknya, mengalir begitu saja.

Setelah beberapa saat puas menikmati pemandangan lautan lepas yang terhampar di depan mata dan merasakan sejuknya angin yang berhembus, tak terasa Pulau Gili Ketapang mulai terlihat jelas. Sambil bersiap turun, ku pandangi lautan jernih di bawah perahu yang menyingkap keindahan makhluk hidup di dalamnya. Ikan-ikan berenang bebas, terumbu karang berjejer indah, hingga bulu babi yang tampak jelas dari permukaan.

Snorkeling dan Kebersamaan

Snorkeling merupakan kegiatan berenang atau menyelam di permukaan air laut dangkal sambil menikmati keindahan bawah laut dengan peralatan dasar (masker selam, pipa pernapasan). Sebagai pelengkap momen, kami pun tak lupa berfoto di spot ikonik Snorkeling Jatim Gili Ketapang.

Usai puas berendam di air laut yang asin, snorkeling ala-ala, dan berfoto bersama, tentu saja keseruan belum berhenti sampai di situ saja. Kami pun lanjut tancap gass menaiki banana boat. Meski terik matahari menyapa tanpa ampun, semangat dan rasa bahagia tetap utuh untuk menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang satu ini, pesona lautan yang bisa membuat siapa saja jatuh cinta ketika memandangnya.

Kesimpulan

Perjalanan ke Gili Ketapang pun akhirnya terasa lebih dari sekadar healing. Semua ini bermula dari hari-hari magang yang awalnya biasa saja, lalu terbiasa dengan rutinitas dan kebersamaan di KUA Karangpilang, hingga tanpa disadari menjelma menjadi hubungan kekeluargaan yang luar biasa syahdunya.

Di titik inilah aku benar-benar percaya pada pepatah tak kenal, maka tak sayang. Dari magang yang tak pernah kuduga sebelumnya, tumbuh kebersamaan. Dari kebersamaan, lahirlah kenangan. Biasa, terbiasa, dan akhirnya …. luar biasa. Terima kasih banyak KUA Karangpilang atas kesempatan belajar dan kebersamaan yang mengesankan. KUA Karangpilang, benar-benar luar biasa dan penuh kenangan.

Eka Syaputra

Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *