Isu Pemotongan Upah Pematung di Proyek Patung Mekotek: Fakta dan Penjelasan
Beberapa waktu terakhir, isu dugaan pemotongan upah pematung dalam proyek pembuatan Patung Mekotek di Desa Munggu, Badung, menjadi perbincangan hangat di media sosial. Informasi ini menimbulkan reaksi negatif dari berbagai pihak, termasuk para pematung yang terlibat dalam proyek tersebut.
Namun, informasi yang beredar dinilai tidak benar. Koordinator pematung, I Nyoman Ardana, menyatakan bahwa seluruh pematung menerima pembayaran sesuai kesepakatan. “Untuk pembayaran memang disalurkan ke tiang selaku koordinator. Tidak ada pemotongan itu,” tegasnya.
Ardana menjelaskan bahwa kontrak khusus untuk pembuatan patung saja dianggarkan sebesar Rp 500 juta dan sudah sesuai dengan pengerjaan maupun mekanisme pembayaran. “Karena saat pembayaran gaji tukang, saya baru minta uang, sementara untuk beli bahan, saya juga minta uang. Kami kan pekerja istilahnya,” tambahnya.
Ardana mengaku kaget dan heran mengapa isu pemotongan upah bisa muncul di media sosial. Menurutnya, semua proses pembayaran dilakukan secara terbuka antara para pekerja. “Berita itu tidak benar. Saya cukup kaget, saya kerja dengan teman-teman di sini kok bisa ada berita seperti ini, kan aneh. Semuanya fair, tidak ada pemotongan seperti itu,” katanya lagi.
Ia berharap isu tersebut tidak mencemarkan nama baik para pematung yang telah bekerja keras menyelesaikan karya mereka. “Kita sudah berkarya. Kita sudah kerja maksimal, terus diisukan seperti ini kan jelek rasanya,” jelasnya.
Penjelasan Pemerintah Kabupaten Badung
Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Pariwisata akhirnya angkat bicara mengenai isu pemotongan upah pematung pada proyek Taman Mekotek di Desa Munggu, Mengwi. Dispar menilai semua itu sudah diserahkan kepada rekanan dan sudah dibayarkan sesuai kontrak kerjasama.
Kepala Dinas Pariwisata Badung, I Nyoman Rudiarta, menampik soal isu pemotongan upah pematung di Desa Munggu. Menurutnya, mekanisme pembayaran dilakukan sepenuhnya berdasarkan spesifikasi, teknis, dan kualitas pekerjaan. “Terkait yang disampaikan pemotongan seperti apa, itu mekanismenya bersama penyedia. Kami tidak ada pemotongan, yang jelas kami ingin apa yang menjadi spek teknis kegiatan, baik kualitasnya, tingginya, dan sebagainya,” kata Rudiarta.
Pihaknya mengakui jika pengerjaan dan pembayaran sepenuhnya dipertanggungjawabkan oleh penyedia atau rekanan, mengingat pekerja menjadi pengerja pemenang tender. “Beberapa pematung sempat konfirmasi ke kami terkait berita ini, mereka merasa keberatan kok ada seperti ini. Dari awal kami sudah koordinasi dengan pihak desa, LPM, dan juga desa adat,” ucapnya.
Lebih lanjut dirinya menyebutkan pembangunan Patung Mekotek merupakan usulan yang telah dirancang sejak musrenbangdes hingga proses penganggaran sampai di Dinas Pariwisata Badung. Usulan ini bahkan sudah dirancang sejak tahun 2013 sebagai ikon desa wisata Munggu.
Penjelasan dari Penyedia Kontraktor
Sementara itu, penyedia dari PT Genta Winangun, I Wayan Sarna, menyebutkan seluruh pengerjaan mengikuti gambar dan spesifikasi teknis, dan tenaga lokal dipilih agar tercipta chemistry antara konsep budaya dan kebutuhan teknis pembuatan patung. “Kami dari penyedia sempat dihubungi oleh pematung, dalam hal ini yang menjadi koordinator pematung. Dia merasa kaget kenapa ada pemberitaan seperti ini. Saya tanya siapa yang mengatakan, mereka juga tidak tahu, jadi serba bingung dengan pemberitaan seperti ini,” terangnya.
Namun Sarna menduga, isu pemotongan tersebut kemungkinan muncul karena adanya tambah-kurang pekerjaan dalam konstruksi. Tambah kurang pekerjaan ini dilakukan karena adanya pengukuran ulang di lapangan yang menyesuaikan dengan kondisi lahan, sehingga menyebabkan beberapa bagian berkurang dan otomatis menyesuaikan biaya. Perubahan itu, kata Sarna, mungkin disalahpahami sebagai pengurangan upah.
“Jadi terkesan ada pembayaran pekerjaan yang dikurangi. Itu menurut persepsi saya. Tidak utuh seperti perencanaan awal, karena dilakukan pengukuran ulang kembali, menyesuaikan situasi kondisi di lapangan. Ada pergeseran tempat seperti itu yang mengakibatkan perubahan biaya. Di situ lah ada kesan ada pemotongan biaya, padahal sebenarnya mengikuti riil kerja saja,” jelasnya.
Diakui untuk pembayaran pematung pihaknya langsung berkoordinasi dengan koordinator. Sehingga semua pembayaran upah dibayarkan ke koordinator pematung. “Jadi ada koordinatornya. Itu yang kita berikan sekali, sesuai pengerjaannya. Bukan diberikan satu-satu, koordinatornya ada,” imbuhnya.
Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”











