Posisi Strategis Jawa Timur dalam Ekosistem BUMN
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak menyatakan bahwa Jatim layak menjadi salah satu fokus investasi Danantara. Ia menjelaskan bahwa posisi strategis Jawa Timur terhadap ekosistem BUMN membuat provinsi ini memiliki potensi besar untuk mendukung perekonomian nasional.
Dalam sebuah forum Round Table Discussion (RTD) bertajuk “Peta Baru Ekonomi Pasca Reformasi BUMN: Jawa Timur Dapat Apa?” di Surabaya, Emil menggarisbawahi pentingnya kehadiran Danantara dalam memperkuat struktur ekonomi Jawa Timur. Ia berharap kehadiran perusahaan ini tidak hanya memberikan revenue kepada perusahaan negara, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat daerah.
Sumbang Perekonomian Indonesia
Dari sisi populasi, Jawa Timur memiliki penduduk sebanyak 42 juta jiwa. Dari sisi ekonomi, Jatim menyumbang 14,54 persen terhadap perekonomian Indonesia. Menurut Emil, Jatim tercatat sebagai penyumbang perekonomian terbesar kedua di Pulau Jawa.
Dalam struktur ekonomi, industri pengolahan menjadi motor utama dengan kontribusi 31,6 persen terhadap PDRB Jawa Timur. Namun, ia menyoroti ketimpangan tenaga kerja di sektor tersebut dibandingkan bidang lainnya. Serapan tenaga kerja di industri pengolahan hanya mencapai 14,95 persen dan berada di peringkat ketiga.
Penyerapan Tenaga Kerja Tertinggi di Sektor Pertanian
Sementara itu, penyerapan tenaga kerja tertinggi justru ada di sektor pertanian dengan angka 32,08 persen. Emil menegaskan bahwa hal ini menjadi alasan mengapa Jawa Timur membutuhkan investasi di sektor sekunder dan tersier. Ia berharap banyak korporasi mencatatkan aktivitas ekonomi di Jawa Timur, bukan hanya di Jakarta.
“Apakah perusahaan yang mayoritas operasinya di Jawa Timur akuntansinya masih dicatat di Jakarta? Harapan kami itu bisa direvisi,” ujarnya.
Emil juga menjelaskan bahwa banyak BUMN yang kuat di Jawa Timur, baik perusahaan di bidang transportasi, perkebunan, maupun bidang lainnya. Peran Jawa Timur dalam logistik nasional juga sangat besar. Delapan puluh persen logistik di Indonesia timur terkoneksi lewat Tanjung Perak.
Namun, hal tersebut tidak berimplikasi langsung pada perekonomian daerah. Banyak BUMN strategis seperti PT PAL di Surabaya, Pelindo di Tanjung Perak, dan PTPN di Banyuwangi hadir di Jawa Timur. Bahkan, PTPN mengelola lebih dari separo lahan tebu Indonesia.
Danantara Mulai Lirik Jatim di Berbagai Sektor
Selama ini, deviden menjadi pemasukan pusat sedangkan daerah tidak mendapat implikasi secara langsung. Emil berharap dividen yang ditarik tidak membuat BUMN di Jawa Timur kehilangan kemampuan berinvestasi untuk mengembangkan operasinya di sini.
Danantara sudah mulai melirik Jawa Timur melalui berbagai sektor, seperti teknologi waste-to-energy dan pengembangan peternakan. Investasi Danantara di peternakan bertujuan untuk memperkuat produksi susu, ayam, dan sapi.
“Danantara bisa masuk ke proyek waste-to-energy di Malang Raya karena mereka menerbitkan patriot bond dengan biaya modal (kupon mini) hanya dua persen. Itu luar biasa,” ujarnya.
Menurut Emil, pola baru ini lebih fleksibel dan memungkinkan Danantara masuk ke proyek yang secara komersial kurang menarik bagi swasta. Danantara tidak seperti investor swasta yang uangnya bisa lari ke mana saja. Mereka berinvestasi di Indonesia, di tempat yang diperintahkan untuk mendukung kedaulatan pangan, energi, dan infrastruktur.
Pentingnya Fokus Investasi
Emil menegaskan pentingnya menjaga fokus investasi agar Jawa Timur tidak tertinggal. “Harapan kami sederhana: Gross Capital Formation bertambah, jangan berkurang,” katanya.
Ia memastikan bahwa komunikasi dengan Danantara berjalan intens. “Kami aktif berkoordinasi. Kami ingin proyek yang linear dengan operasi BUMN di Jawa Timur tetap dapat investasi. Itu skenario yang kami yakini,” tambahnya.
Ruang Dialog Independen
Selain Emil Dardak, acara ini turut mengundang Mukhamad Misbakhun selaku Ketua Komisi XI DPR RI, Prof. Dr. Imron Mawardi (Dosen Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga), serta pakar Ferry Latuhihin (Pakar Ekonomi) sebagai pembicara.
RTD ini menjadi ruang dialog independen untuk mengurai dampak reformasi BUMN terhadap pemerataan ekonomi daerah, khususnya Jawa Timur yang terkenal sebagai salah satu pusat pertumbuhan terbesar di Indonesia.
Reformasi BUMN yang mencakup restrukturisasi, efisiensi, dan perubahan model tata kelola dinilai membawa konsekuensi langsung terhadap distribusi investasi dan peluang ekonomi di tingkat lokal.
“Dalam pemerintahan Prabowo Subianto, sebuah keputusan politik lahir bernama Danantara, identitas baru ekosistem BUMN. Danantara diharapkan menjadi jalan keluar, bukan sebaliknya,” kata Direktur Eksekutif Nagara Institute Akbar Faizal.
“Kami mengambil peran memediasi pemikiran publik tentang apakah kehadiran Danantara sebuah jalan keluar atau justru tetap sebuah problem. Nagara Institute melakukan kajian untuk didiskusikan dengan para pemikir, pembuat kebijakan, dan kritikus kebijakan,” tambahnya.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











