"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Budaya  

Kisah Harmoko, Pahlawan yang Dihormati Keluarga dan Tetangga Bandung

Kehidupan Seorang Petugas Pemadam Kebakaran di Bandung



Harmoko (32), seorang petugas pemadam kebakaran di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung, telah mengabdikan delapan tahun hidupnya untuk pekerjaan yang penuh risiko. Selama masa pengabdiannya ini, ia merasa bangga karena menjadi bagian dari para petarung api “Fire Fighter”. Tulus serta ikhlas melayani berbagai aduan bahkan menyelamatkan nyawa seseorang menjadi bahan bakar dirinya agar terus semangat dalam bertugas.

Awalnya, pekerjaan ini tidak pernah terpikir oleh Harmoko saat tahun 2017. Yang ia ketahui tentang pemadam kebakaran hanyalah soal memadamkan api semata. Namun, setelah banyaknya pengalaman selama bekerja bersama tim, ia mulai memahami bahwa tugasnya lebih dari sekadar memadamkan api.

“Saya awalnya tidak pernah membayangkan bisa jadi pemadam kebakaran. Tapi itu kerjanya mungkin hanya memadamkan api saja,” ujar Harmoko saat diwawancarai.

Ternyata, menjadi petugas Damkar membuatnya harus berkutat dengan banyak aduan evakuasi, penyelamatan, dan bahkan situasi ekstrem yang tidak hanya terkait kebakaran. Hal-hal tersebut menjadi hal menyenangkan baginya sebagai laki-laki yang menyukai tantangan.

“Oh, ternyata menyelamatkan orang bukan hanya tentang kebakaran. Bisa dari evakuasi orang atau minta tolong dengan konteks di luar batas kemampuan mereka. Dari situ saya mulai terpacu, ‘Oh, seru nih’. Banyak tantangan yang selama ini tidak pernah saya pikirkan,” tambahnya.

Selain tantangan, kehangatan dan kedekatan dengan masyarakat juga menjadi alasan Harmoko merasa pekerjaan ini menyenangkan. Doa-doa baik, senyum masyarakat saat berhasil menjalankan tugas, dan apresiasi mereka menjadi motivasi baginya.

“Saya bangga jadi pemadam kebakaran karena banyak doa-doa baik yang saya terima ketika bekerja. Contohnya, kita membantu orang atau semoga sehat selalu dilindungi itu membuat saya termotivasi ingin membantu masyarakat,” tutur Harmoko.

Namun, kehangatan tersebut tidak lepas dari suka duka yang ia rasakan sebagai fire fighter. Tidak jarang ia merasakan duka jika ada rekan yang tidak selamat atau celaka saat berusaha memadamkan api atau melakukan penyelamatan. Bahkan, ia pernah melihat temannya meninggal dalam tugas.

“Duka saya mungkin ketika kejadian kebakaran, ada rekan yang meninggal karena tertimpa reruntuhan. Ada juga anggota yang sakit jantung akibat dampak kebakaran. Hal-hal seperti itu membuat saya sadar bahwa jadi pemadam kebakaran memiliki dampak jelek juga,” ujarnya.

Meski dihadapkan pada risiko tinggi, Harmoko merasa sangat senang karena mendapat gelar pahlawan dari keluarga dan tetangganya. Istrinya sering dipuji oleh tetangga dengan nada “Alhamdulillah sekarang suaminya sudah menjadi damkar”. Ini membuatnya bangga dan bahagia.

“Ibarat satu kali mendayung dua pulau terlampaui. Saya berhasil menjadi pahlawan bagi masyarakat dan kebanggaan bagi keluarga,” katanya.

Ia menganggap hal-hal baik ini sebagai rezeki dan timbal balik positif atas pengabdian dirinya dalam menjalankan tugas. “Semoga keluarga saya juga banyak yang membantu atau melindungi,” tambahnya.

Harmoko juga tidak menampik bahwa semua apresiasi ini adalah hasil dari kepercayaan publik yang meningkat terhadap pemadam kebakaran. Ia pernah mendengar istilah UUD (ujung-ujungnya Damkar) secara langsung dari masyarakat.

“Sekarang ada peribahasa ‘UUD ujung-ujungnya damkar’ yang disebutkan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Harmoko, menjadi Damkar membutuhkan keberanian dan jiwa yang kuat dalam membantu masyarakat. Apalagi, Damkar digaji langsung oleh pemerintah.

“Kita sudah digaji oleh pemerintah, kita sudah diberi tanggung jawab, bahkan disumpah bahwa bekerja penuh rasa tanggung jawab dan keikhlasan. SOP respon cepat harus diutamakan,” ujarnya.

Jika penanganannya sulit atau di luar batas kemampuan, ia biasanya berkoordinasi dengan pihak-pihak yang bisa membantu. “Kita harus saling bantu, karena tujuan utamanya adalah keselamatan masyarakat,” pungkas Harmoko.

Eka Syaputra

Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *