Perempuan Muda yang Menyalakan Cahaya di Desa Pukuafu
Pagi itu, di sebuah desa yang seolah berada di ujung peta negeri, seorang perempuan muda mengetuk pintu rumah-rumah. Suaranya pelan, sopan, tetapi penuh keyakinan. Jemarinya menari di atas kertas putih, mendata satu per satu warga pekerja rentan yang membutuhkan perlindungan kerja. Kabut turun seperti tirai tipis menutup Desa Pukuafu pagi itu. Awan berbaris rapi dan dari kejauhan, ombak selatan bernyanyi dengan gemuruh lembut. Di tengah lanskap yang tampak sunyi namun penuh kehidupan itulah, lahir sebuah gerakan kecil yang menyala dari hati seorang perempuan muda bernama Ermi Daik (31), Kepala Desa (Kades) Pukuafu.
Desa Pukuafu: Ujung Angin yang Menjaga Orang-Orangnya
Desa Pukuafu berada di Kecamatan Landu Leko, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Perjalanan menuju desa seluas hampir 50 kilometer persegi itu memakan waktu dua jam dari pusat ibukota kabupaten, Kota Ba’a. Di desa yang akrab dengan angin laut, karang tua, dan kebijaksanaan turun-temurun, Pukuafu pernah meraih Paritrana Award 2024 di tingkat Provinsi NTT. Namun, kisah yang membawa nama Pukuafu bersinar lebih terang tidak dimulai di panggung mewah mana pun. Ia lahir dari bale-bale bambu, dari obrolan di teras rumah, dari sela-sela waktu para nelayan merapikan jaring dan petani menutup ladangnya.
“Kalau kita tidak jaga pekerja di desa, siapa lagi?” kata Ermi saat dijumpai, Sabtu (29/11/2025) pagi. Masih belum genap berusia 35 tahun, Ermi berdiri teguh layaknya karang yang telah menyaksikan ratusan musim.
Ia memilih cara memimpin yang paling sederhana yaitu mendengarkan. Ia menyapa warga dengan bahasa keluarga, bukan bahasa undang-undang. Kata ‘perlindungan’ ia terjemahkan sebagai ketenangan hati. ‘Ketenagakerjaan’ ia turunkan menjadi pegangan ketika musibah datang. Dan perlahan, desa itu menyala. Seakan angin selatan ingin menunjukkan bahwa cahaya bisa bersinar dua kali di tempat yang sama.
Seratus Nyawa yang Kini Lebih Tenang
Bagi sebagian orang, angka mungkin hanya angka. Namun bagi Ermi, “seratus” berarti seratus malam tidur lebih nyenyak bagi seratus pekerja rentan di desanya. “Seratus masyarakat rentan sudah mendapat perlindungan jaminan sosial. Kami akan berusaha menambah jumlah ini,” ungkapnya. Di balik angka itu, dikatakan Ermi, ada seorang nelayan yang tak lagi cemas saat laut mengganas. Ada seorang buruh kebun yang tahu ia tidak sendirian jika jatuh sakit. Ada seorang tukang bangunan yang akhirnya punya pegangan ketika nasib tak berpihak.
Bagi kades jebolan Fakultas Hukum Universitas Kristen Artha Wacana Kupang ini, itulah makna kepemimpinan, memastikan orang-orang tetap berdiri bahkan ketika badai mendekat.
Perempuan yang Menjaga Pagi di Selatan Negeri
Di ujung selatan Indonesia, tempat angin kerap tiba lebih cepat daripada kabar, Ermi Daik memimpin dengan hati. Ia berjalan dari rumah ke rumah, menyimak cerita warganya satu per satu, memetakan lara sekaligus harapan mereka. Ermi bukan hanya kepala desa. Ia adalah penjaga pagi orang yang memastikan cahaya tetap menyala ketika malam dingin mendekat. Setiap matahari terbit di balik laut Rote seolah membawa pesan bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari tempat yang ramai, tetapi dari sudut sunyi yang dihuni hati-hati yang gigih.

Dari tanah yang dikelilingi angin dan garis laut, Ermi membuktikan bahwa perlindungan kerja bukan hanya soal regulasi. “Ini adalah soal kita menjaga manusia lain tetap berdiri, soal memastikan tidak ada pekerja yang jatuh sendirian,” katanya. Ermi menyalakan cahaya itu, cahaya yang memancar hingga ke panggung provinsi, hingga ke hati orang-orang yang mendengarnya.
Cahaya Pukuafu di Panggung Provinsi NTT
Senin (21/7/2025), Ballroom Harper Hotel Kupang dipenuhi tepuk tangan, lampu, dan pidato. Di panggung itulah BPJS Ketenagakerjaan Provinsi NTT menyerahkan Paritrana Award 2024, sebuah penghargaan yang salah satu inspirasinya datang dari sebuah desa yang jauh di selatan Indonesia. Di tangan Ermi, trofi itu terpanggul sederhana namun artinya besar. Bagi 480 warga Pukuafu, penghargaan itu bukan sekadar piala, namun janji yang diwujudkan bahwa pekerjaan mereka, betapapun kecil, tak akan dibiarkan tanpa perlindungan.
Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, berdiri bangga atas prestasi tersebut. Ia menyebut bahwa dari desa sejauh Pukuafu pun, perubahan besar dapat tumbuh. Menurutnya, apresiasi ini menguatkan motivasi dan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung penuh pelaksanaan jaminan sosial ketenagakerjaan, terutama bagi pekerja di sektor informal dan rentan.
Paulus juga menyampaikan komitmen untuk terus meningkatkan partisipasi dan keberlanjutan program jaminan sosial ketenagakerjaan di Kabupaten Rote Ndao, serta menyambut baik sinergi antara pemerintah provinsi, BPJS Ketenagakerjaan, dan seluruh pemangku kepentingan dalam memperkuat perlindungan tenaga kerja.
Sementara itu, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan pentingnya kehadiran negara bagi pekerja rentan. “Jika pekerja informal mengalami musibah, itu bisa menjadi mimpi buruk. Ini sudah menjadi tugas negara untuk memberikan perlindungan yang baik,” tuturnya. Dengan menjangkau 100 ribu pekerja rentan, Pemerintah Provinsi NTT mengambil langkah awal yang besar. Melki mengajak seluruh bupati, wali kota, dan DPRD untuk bersatu dan bergotong royong agar pekerja rentan di setiap daerah dapat memperoleh perlindungan yang layak.
Kepala BPJS Ketenagakerjaan NTT, Wawan Burhanuddin, mengemukakan, Paritrana Award bukan sekadar seremoni, melainkan evaluasi atas komitmen daerah dalam memperluas perlindungan sosial ketenagakerjaan. Dijelaskan lebih lanjut, Paritrana Award juga bukan hanya sebuah bentuk apresiasi, tetapi juga instrumen yang mendukung pencapaian target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD).
Wawan mengungkapkan, peran pemerintah kabupaten/kota di seluruh wilayah NTT menjadi krusial untuk memastikan seluruh tenaga kerja, khususnya penerima insentif dan kelompok pekerja rentan terakomodasi dalam skema BPJS Ketenagakerjaan. Adapun bertepatan di hari Paritrana Award 2024, Pemerintah Provinsi NTT kembali meluncurkan program perlindungan bagi 100.000 pekerja rentan di sektor informal. Langkah ini menjadi upaya penting dalam mewujudkan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih inklusif di NTT.











