Kehadiran dan Kepekaan di Tengah Bencana
Di tepi jalanan yang baru saja surut, puluhan bocah pengungsi duduk melingkar di atas aspal basah. Mereka makan dengan lahap dari nampan baja yang berisi paket MBG, sebuah adegan sederhana namun penuh makna tentang kehadiran dan kepedulian di tengah puing-puing bencana.
Deru perahu karet melaju di antara batang-batang pohon kelapa sawit yang separuh tenggelam oleh air bah berwarna cokelat keruh. Tim penyelamat, dengan seragam BPBD dan pelampung oranye menyala, bergerak cepat menembus arus deras, membawa harapan bagi para penyintas yang terisolasi.
Respons Cepat dalam Situasi Darurat
Derasnya air bah dan longsor yang melanda Aceh dalam beberapa hari terakhir menciptakan situasi darurat yang menuntut respons cepat dan tepat. Di tengah bencana, program gizi nasional menjadi jangkar penyelamat. Sebanyak 52 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Aceh mengambil langkah cepat, mengalihkan seluruh distribusi rutin mereka untuk fokus pada korban yang terdampak.
Hingga Sabtu, 29 November 2025, pukul 12:35 WIB, tercatat sudah 185.049 paket Makan Bergizi Gratis (MBG) berhasil disalurkan kepada para korban di titik-titik pengungsian. Angka ini membuktikan efektivitas jaringan pelayanan gizi yang kini bertransformasi menjadi dapur darurat kemanusiaan.
Prioritas Utama dalam Penanganan Gizi
Mustafa Kamal, Kepala Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Aceh, menegaskan bahwa kecepatan respons ini dilakukan karena bencana telah melanda 11 kabupaten/kota. “Dari 11 kabupaten/kota yang terdampak banjir terdapat 52 SPPG yang beroperasi. Total paket MBG yang didistribusikan pada tanggal 26, 27, dan 28 November ini kepada korban banjir sebanyak 185.049 ribu paket MBG,” ujar Mustafa Kamal dalam keterangan resminya, Sabtu.
Distribusi di Tengah Jaringan yang Terputus
Pengalihan fungsi ini dilakukan karena sekolah-sekolah yang menjadi penerima manfaat rutin MBG terpaksa diliburkan. Gedung-gedung sekolah di banyak wilayah kini beralih fungsi menjadi posko pengungsian atau mengalami kerusakan akibat banjir dan longsor.
Distribusi masif paket MBG ini menunjukkan adanya prioritas yang kuat terhadap penanganan gizi korban di masa kritis. Berikut adalah rincian distribusi paket MBG yang telah berhasil menembus sejumlah wilayah:
- Kabupaten Bireun: 101.817 paket
- Subulussalam: 8.115 paket
- Kabupaten Aceh Utara: 7.949 paket
- Lhokseumawe: 7.700 paket
- Kabupaten Pidie: 3.202 paket
- Kabupaten Aceh Tengah: 772 paket
- Total Sementara (sebagian daerah): 129.555 paket
Kendati demikian, perjuangan tim distribusi menghadapi medan yang sulit dan jaringan yang terputus. Mustafa Kamal juga mencatat adanya enam daerah di Aceh yang masih sulit dijangkau untuk disalurkan bantuan paket MBG, yaitu: Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Langsa, Kabupaten Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Tenggara, dan Kabupaten Bener Meriah.
Instruksi Presiden sebagai Komando Aksi Cepat
Aksi cepat dan pengalihan fungsi dapur MBG di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat ini merupakan implementasi langsung dari arahan puncak. Sejak hari pertama bencana melanda Sumatera, Presiden RI Prabowo Subianto langsung menginstruksikan seluruh jajarannya, termasuk BGN, untuk mempercepat pemulihan.
Presiden Prabowo menekankan pentingnya semua korban bencana tertangani dengan baik, dan pemenuhan gizi menjadi salah satu pilar utama penanganan darurat.
Kolaborasi yang Menegaskan Prinsip Agility
Kolaborasi antara program gizi nasional dan respons bencana ini menegaskan prinsip agility dan komitmen negara. Kecepatan 52 SPPG dalam mendistribusikan ratusan ribu paket MBG di tengah krisis menjadi narasi kuat tentang bagaimana jaringan program pemerintah dapat bertransformasi menjadi garis depan pertolongan kemanusiaan.
Dengan fokus yang jelas dan instruksi yang kuat dari Presiden Prabowo, BGN Aceh terus berupaya mencari jalan untuk menembus enam kabupaten yang masih terisolasi, memastikan setiap korban bencana mendapatkan hak dasar mereka: makan bergizi gratis.











