"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Budaya  

Jejak Sumur Bor 83: Bantu Air Bersih untuk Rumah Ibadah NTT

Sejarah dan Perkembangan Yayasan Sumur Bor 83

Yayasan Sumur Bor 83 memiliki rekam jejak yang luar biasa dalam membangun puluhan sumur bor untuk kebutuhan umat di berbagai rumah ibadah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Yayasan ini didirikan oleh para alumni Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Kupang angkatan 1983. Mereka mengadakan reuni dan menyalurkan bantuan untuk masyarakat di berbagai daerah di NTT.

Awalnya, reuni alumni SMPN 2 Kupang angkatan 83 menjadi awal dari inisiatif ini. Salah satu tokoh penting, Pak Orias Moedak, memiliki inisiatif untuk menyumbangkan sumur bor di SMPN 2 Kupang. Namun, dana yang tersisa kemudian digunakan untuk membantu wilayah lain seperti Rote dan Timor Tengah Selatan pada tahun 2017.

Dari situ, kata Sonny G.S. Pellokila, Pengawas Yayasan Sumur Bor 83, pada suatu pertemuan terpisah, Pak Orias Moedak berbicara tentang aksi para alumni 83 SMPN 2 Kupang kepada sejumlah kenalan dan kerabat. Respons yang diperoleh sangat positif, dan banyak orang ingin ikut berkontribusi dalam gerakan kemanusiaan tersebut.

Pada saat itu, belum ada yayasan resmi. Namun, karena banyak teman Pak Orias yang tertarik, mereka sepakat untuk membentuk yayasan agar lebih mudah dalam pertanggungjawaban. Nama yayasan pun tetap menggunakan tahun angkatan dan bentuk kegiatan, sehingga dinamai Yayasan Sumur Bor 83.

Setelah struktur yayasan dibentuk, pengurus menetapkan target bantuan. Syarat utama adalah bahwa sumur yang disumbangkan harus diterima oleh rumah ibadah tanpa biaya sedikit pun. Namun, syarat tambahan juga diberlakukan, yaitu sumur harus berada di lingkungan rumah ibadah dan dapat dimanfaatkan oleh warga sekitar.

Harapan dari yayasan ini adalah agar masyarakat atau jemaat di rumah ibadah tersebut bisa terbantu dalam kebutuhan sehari-hari. Bahkan, setelah pengerjaan, survei dilakukan untuk memastikan semua syarat terpenuhi.

Hingga saat ini, total sumur bor yang telah dibangun sebanyak 87, dengan penyebaran di beberapa wilayah seperti Rote Ndao (8 sumur), Semau (3 sumur), Timor Tengah Selatan (9 sumur), Kabupaten Kupang (29 sumur), Sabu Raijua (7 sumur), Kota Kupang (12 sumur), serta sisanya berada di pulau Flores hingga Lembata.

Kondisi sumur masih beroperasi dan beberapa di antaranya mulai masuk tahap pembuatan kebun-kebun. Yayasan Sumur Bor 83 juga memberikan bantuan di Gereja Haukoto Kelurahan Fatukoa Kota Kupang. Mereka memilih rumah ibadah sebagai lokasi agar tidak terjadi konflik jika sumur dibangun di area pribadi.

Mereka sepakat untuk memberikan sumur ke rumah ibadah, sehingga tidak ada yang mengklaimnya sebagai milik sendiri. Selain kebutuhan rumah ibadah, sumur ini juga dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.

Program ini akan terus dilanjutkan, termasuk memberikan bantuan lain seperti solar cell untuk mengurangi beban listrik rumah ibadah. Rencana dari Pak Orias adalah ketika jumlah titik mencapai 100, maka akan digunakan solar cell untuk mendukung penggunaan air bersih.

Masyarakat yang ingin mendapatkan bantuan cukup menyampaikan surat permohonan ke Yayasan Sumur Bor 83. Tim akan melakukan survei ke lokasi untuk memastikan syarat teknis terpenuhi.

Yayasan Sumur Bor 83 berharap sumur yang telah dibangun dapat digunakan dengan baik, terlebih dalam hal pemberdayaan umat. Mereka menilai cukup sulit untuk mendapatkan bantuan seperti ini.

Adapun pengurus Yayasan Sumur Bor 83 terdiri dari beberapa orang, antara lain: Orias P. Moedak sebagai pembina, Sonny G.S. Pellokila sebagai pengawas, Benny R. Pellu sebagai Ketua, Dina R.T. Djawa sebagai Sekretaris, serta Bendahara Rosaline Cahyani.


Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *