"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Budaya  

Asal Usul Nama Jembatan Kabanaran dari Pandansimo, Terungkap Melalui Sejarah

Sejarah dan Makna Nama Jembatan Kabanaran

Jembatan Kabanaran, yang dulunya dikenal dengan nama Jembatan Pandasimo, memiliki makna sejarah yang dalam bagi masyarakat Yogyakarta. Nama jembatan ini diambil dari Desa Kabanaran, yang merupakan tempat perjuangan Sultan Hamengku Buwono I saat melawan penjajah Belanda. Perubahan nama ini dilakukan setelah adanya usulan dari Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, yang melakukan kajian sejarah terkait wilayah tersebut.

Jembatan Kabanaran berada di perbatasan area Sungai Progo, menghubungkan Desa Banaran di Kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo, dengan Desa Poncosari di Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul. Pada Rabu (19/11/2025), jembatan ini diresmikan langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto. Namun, setelah peresmian, banyak pihak, termasuk warga Yogyakarta, masih bertanya-tanya mengapa pemerintah memilih nama Kabanaran.

Asal Usul Pemberian Nama

Perubahan nama Jembatan Pandasimo menjadi Jembatan Kabanaran dilatarbelakangi oleh kajian sejarah yang dilakukan oleh Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan. Menurutnya, sekitar 80 persen jembatan berada di wilayah Kulon Progo, dan ia merasa bertanggung jawab atas sarana dan prasarana jembatan tersebut. Karena lokasi jembatan yang berada di Desa Kabanaran, Agung pun mengusulkan pemberian nama jembatan sesuai dengan nama desa tersebut.

Desa Kabanaran memiliki nilai historis yang kuat bagi masyarakat Yogyakarta. Daerah ini adalah pusat markas perjuangan Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I) ketika melawan Belanda. Setelah melihat kajian tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyetujui penamaan Jembatan Kabanaran.

Sejarah Perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono I

Pemberian nama Jembatan Kabanaran tidak lepas dari sosok dan keberhasilan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Ia merupakan raja pertama Keraton Yogyakarta. Selama hidupnya, beliau dikenal sebagai pahlawan yang melindungi rakyat. Nama asli beliau adalah Pangeran Mangkubumi, lahir pada 5 Agustus 1717. Ia lahir dengan nama Bendara Raden Mas (BRM) Sujono, putra Sunan Amangkurat IV dari garwa selir bernama Mas Ayu Tejawati.

Sejak kecil, BRM Sujono dikenal cakap dalam olah keprajuritan. Ia mahir berkuda dan bermain senjata. Selain itu, ia juga taat beribadah sambil menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Budaya Jawa. Dalam Serat Cebolek, tertulis tentang kebiasaan beliau yang rutin puasa Senin dan Kamis, salat lima waktu, dan mengaji Al Quran. Di situ juga dikisahkan bahwa beliau gemar mengembara dan memberikan pertolongan kepada yang lemah.

Diangkat Menjadi Pangeran Mangkubumi

Kemampuan BRM Sujono membuatnya diangkat menjadi Pangeran Lurah, yaitu pangeran yang dituakan di antara para putera Raja Yogyakarta. Pengangkatan itu terjadi setelah pamannya yang bernama Mangkubumi meninggal dunia pada 27 November 1730. Setelah dewasa, BRM Sujono menyandang nama yang sama dengan mendiang pamannya, yakni Pangeran Mangkubumi.

Perjuangan Melawan VOC

Era tahun 1740-an merupakan masa-masa berat bagi bumi Mataram. Pemberontakan merajalela, mulai dari Geger Pacinan yang dipimpin oleh Sunan Kuning dibantu Pangeran Sambernyawa. Akibatnya, keraton harus berpindah dari Kartasura ke Surakarta pada 17 Februari 1745.

Untuk memadamkan pemberontakan Sambernyawa, Raja Mataram saat itu, Susuhunan Paku Buwono II, mengadakan sayembara yang dimenangkan oleh Pangeran Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi kemudian ingin mengendalikan pesisir utara Jawa sebagai langkah strategis mengurangi pengaruh VOC di bumi Mataram. Namun, akibat penghianatan Patih Pringgoloyo yang didukung VOC, langkah Pangeran Mangkubumi gagal.

Pasukan Mangkubumi melakukan serangkaian gerakan militer di wilayah pesisir selatan dan daerah pedalaman yang kini masuk wilayah Kabupaten Bantul dan Kulon Progo. Jalur di sekitar Kalurahan Kabanaran, Kulon Progo, memiliki posisi geografis strategis, menghubungkan pesisir selatan dengan pusat-pusat kekuatan di pedalaman, sehingga menjadi ruang mobilisasi, tempat berkumpul pasukan, serta jalur pengungsian dan penyusunan strategi.

Penandatanganan Perjanjian Giyanti

Pada 1747, jumlah pengikut Pangeran Mangkubumi meningkat pesat menjadi 13.000 prajurit, di mana 2.500 orang di antaranya adalah prajurit berkuda. Kesetiaan dan kesediaan para pengikut untuk mengabdi kepada Pangeran Mangkubumi lambat laun meluas hingga ke masyarakat umum.

Pada akhir 1749, kondisi kesehatan Paku Buwono II semakin menurun. Belanda memanfaatkan kondisi tersebut, sehingga muncul traktat yang berisi penyerahan Kerajaan Mataram seluruhnya kepada VOC pada 16 Desember 1749. Hanya berselang hari, Paku Buwono II wafat dan digantikan oleh putranya, Paku Buwono III.

Mengetahui adanya kesepakatan tersebut, maka Pangeran Mangkubumi dan Sambernyawa semakin sengit bertempur. Akibatnya, garis depan VOC terdesak dan pasukannya banyak yang tewas. Dalam hitungan bulan, hampir seluruh wilayah Kerajaan Mataram sudah berada di bawah kekuasaan Pangeran Mangkubumi.

Penandatanganan Perjanjian Giyanti

Pada 23 September 1754, Gubernur Jawa Utara, Nicholas Hartingh, bertemu dengan Pangeran Mangkubumi. Pertemuan itu membuahkan hasil berupa kesepakatan yang dikenal sebagai “Palihan Nagari”. Hasil kesepakatan itu disampaikan kepada Gubernur Jenderal dan Paku Buwono III. Kata sepakat dari Paku Buwono III diperoleh pada tanggal 4 November 1754. Kemudian, butir-butir kesepakatan tersebut dituangkan dalam naskah Perjanjian Giyanti.

Puncaknya, pada tanggal 13 Februari 1755, Perjanjian Giyanti ditandatangani oleh pihak-pihak terkait. Dengan ditandatanganinya perjanjian tersebut, babak awal Kasultanan Yogyakarta pun dimulai.

Sejarah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

Pada hari Kamis Pon, 13 Maret 1755 atau tanggal 29 Jumadilawal 1680 Tahun Jawa (TJ), Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai Raja Pertama Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. Kebijaksanaan dan kearifan Sri Sultan Hamengku Buwono I tertuang dalam Babad Nitik Ngayogya.

Menurut catatan sejarah, Sri Sultan Hamengku Buwono I memiliki kemampuan ilmu tata kota dan arsitektur. Dalam menentukan posisi Keraton Yogyakarta, beliau mempertimbangkan letak dan keadaan lahan agar berpotensi menyejahterakan dan memberi keamanan untuk masyarakat.

Peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono I

Arsitektural Keraton Yogyakarta sendiri sepenuhnya dirancang oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I yang juga merupakan arsitek Keraton Surakarta. Tidak hanya tata ruang dan bangunan, semua hiasan bahkan tumbuh-tumbuhan yang ditanam di kompleks Keraton Yogyakarta dirancang sedemikian rupa sehingga memiliki nilai filosofis dan spiritual yang tinggi.

Selain kompleks keraton, Sri Sultan Hamengku Buwono I juga membangun kompleks istana air Taman Sari. Atas hasil karya serta karakter kuat Sri Sultan Hamengku Buwono I, sejarawan menjuluki beliau sebagai “a great builder” yang artinya “pembangun yang hebat”, sejajar dengan Sultan Agung.

Falsafah dan Konsep Watak Satriya

Sri Sultan Hamengku Buwono I mencetuskan konsep Watak Satriya seperti:
* Nyawiji (konsentrasi total)
* Greget (semangat jiwa)
* Sengguh (percaya diri)
* Ora mingguh (penuh tanggung jawab)

Konsep-konsep luhur itulah yang menjadi credo atau prinsip bagi Prajurit Keraton, Abdi Dalem, dan juga gerak tari yang disebut Joged Mataram.

Sri Sultan Hamengku Buwono I juga mengajarkan falsafah berikut ini:
* Golong gilig manunggaling kawula Gusti
* Hamemayu Hayuning Bawono

Wafat dan Warisan

Sri Sultan Hamengku Buwono I wafat pada 24 Maret 1792 atau tepat pada tanggal 1 Ruwah 1718 TJ. Beliau meninggal dunia pada usia 74 tahun. Sri Sultan Hamengku Buwono I dimakamkan di Astana Kasuwargan, Pajimatan Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY.

Selama hidupnya, Sri Sultan Hamengku Buwono I memiliki dua orang permaisuri, yakni:
* Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Kencana, putri Bendara Pangeran Harya Dipanegara.
* Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Kadipaten, putri Ki Ageng Drepayuda.

Sri Sultan Hamengku Buwono I memiliki 20 orang selir dan 31 orang anak. Anak pertama Sri Sultan Hamengku Buwono I adalah Gusti Raden Mas Intu yang lahir dari GKR Kencana. Gusti Raden Mas Intu kemudian bergelar Kanjeng Pangeran Adipati Anom Hamengkunegara Ingkang Sudibya Atmarinaja Sudarma Mahanalendra.

Anak kedua Sri Sultan Hamengku Buwono I lahir dari seorang selir. Anak ketiga Sri Sultan Hamengku Buwono I adalah Gusti Raden Mas Sundara. Ia lahir dari GKR Kadipaten. Gusti Raden Mas Sundara inilah yang kemudian naik takhta sebagai Raja Kedua Yogyakarta, bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono II.

Bendara Pangeran Harya Natakusuma, anak keenam Sri Sultan Hamengku Buwono I, diangkat menjadi Adipati Kadipaten Pakualaman dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Harya Paku Alam I. Beliau lahir dari seorang selir bernama Bendara Raden Ayu Srenggara. Beliau merupakan putri dari Ki Tumenggung Natayudha, Bupati Kedu.

Itulah kisah tentang Raja Pertama Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *