JAKARTA,
Bitcoin kembali mengalami penurunan tajam setelah sebelumnya mencapai rekor tertinggi. Harga aset kripto terbesar dunia ini kini turun di bawah level 93.714 dolar AS, yang merupakan angka penutupan akhir tahun lalu. Penurunan ini menghapus seluruh kenaikan lebih dari 30 persen yang dicatat sejak awal tahun.
Euforia yang sempat muncul akibat sikap pro-kripto pemerintahan Presiden AS Donald Trump kini mulai memudar, sehingga pasar kembali dilanda tekanan jual. Pada 6 Oktober 2025, Bitcoin sempat melonjak hingga 126.251 dolar AS, namun hanya empat hari kemudian mulai merosot tajam setelah komentar mengejutkan Trump soal tarif yang memicu kepanikan pasar global.
Menurut Matthew Hougan, Chief Investment Officer Bitwise Asset Management yang berbasis di San Francisco, pasar saat ini sedang dalam fase menghindari risiko. “Kripto adalah indikator paling awal dari sentimen itu, dan menjadi yang pertama melemah,” katanya.
Dalam sebulan terakhir, sejumlah pembeli besar seperti pengelola ETF hingga perusahaan-perusahaan besar mulai menepi. Minimnya aliran dana institusional membuat pasar kehilangan salah satu penopang utama reli Bitcoin sepanjang tahun ini.
Pada saat yang sama, pelemahan saham teknologi besar turut menekan selera risiko investor. Selama sebagian besar tahun ini, institusi menjadi kekuatan utama yang mengangkat legitimasi dan harga Bitcoin. Produk ETF bahkan mencatat arus dana lebih dari 25 miliar dolar AS, menurut Bloomberg, mendorong total aset di dalamnya hingga 169 miliar dolar AS.
Namun narasi bahwa Bitcoin adalah diversifikasi portofolio yang mampu melindungi nilai di tengah inflasi dan ketidakpastian politik kini kembali goyah. Jake Kennis, Senior Research Analyst di Nansen, menjelaskan bahwa penurunan ini merupakan kombinasi aksi ambil untung investor jangka panjang, arus keluar institusional, ketidakpastian makro, serta likuidasi posisi leverage.
Salah satu contoh paling jelas dari melemahnya minat pembeli terlihat dari Strategy Inc. milik Michael Saylor, perusahaan yang dulu dikenal sebagai simbol investasi korporasi di Bitcoin. Harga saham perusahaan itu kini mendekati nilai bersih kepemilikan Bitcoin mereka, menunjukkan bahwa investor tak lagi bersedia memberikan premi atas strategi agresif Saylor.
Siklus naik-turun yang ekstrem memang bukan hal baru bagi Bitcoin. Pada 2017, aset ini sempat melonjak lebih dari 13.000 persen, sebelum anjlok 75 persen pada tahun berikutnya. “Sentimen ritel kripto saat ini cukup negatif,” ujar Hougan. Ia menilai penurunan ini justru bisa menjadi peluang beli. “Banyak investor tidak ingin kembali menghadapi penurunan 50 persen. Mereka memilih keluar lebih dulu,” ucapnya.
Selama tahun itu, Bitcoin bergerak sangat fluktuatif. BTC sempat turun ke 74.400 dolar AS pada April saat Trump mengumumkan kebijakan tarif, kemudian kembali melonjak ke rekor, dan sekarang kembali terkoreksi.
Bitcoin masih menyumbang hampir 60 persen dari total nilai pasar kripto global yang mencapai sekitar 3,2 triliun dolar AS. Koreksi tajam bahkan lebih terasa pada aset kripto berkapitalisasi kecil yang cenderung kurang likuid. Indeks MarketVector yang melacak separuh terbawah dari 100 aset digital terbesar turun sekitar 60 persen sepanjang tahun ini.
“Pasar kripto memang bergerak dalam siklus,” ujar Chris Newhouse, Director of Research di Ergonia, perusahaan yang fokus pada keuangan terdesentralisasi. “Namun dari diskusi dengan rekan, grup Telegram, hingga konferensi, sentimen yang saya tangkap menunjukkan skeptisisme. Tidak ada katalis kenaikan yang jelas dalam waktu dekat,” tambah dia.











