Kehidupan Petani Galang yang Bergantung pada Air
Di tengah udara pagi yang sejuk dan hamparan persawahan yang mulai mengering, puluhan petani di Kecamatan Galang berkumpul dengan satu harapan sederhana namun mendesak: air kembali mengalir ke lahan mereka. Pada Sabtu pagi, masyarakat, para penyuluh pertanian lapangan (PPL), pemerintah desa, Babinsa, serta Camat Galang turun langsung menyaksikan proses perbaikan bendungan induk Daerah Irigasi (DI) Tende Lalos, yang rusak akibat banjir beberapa waktu lalu.
Kerusakan pada bendungan ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan ancaman nyata bagi keberlanjutan musim tanam OKMAR (Oktober–Maret) yang tinggal hitungan hari. Saluran air yang biasanya menjadi nadi kehidupan petani kini tersumbat lumpur dan material yang terbawa arus banjir. Lahan-lahan mulai retak, sementara benih padi yang sudah disiapkan terancam tak bisa ditanam tepat waktu.
Para petani yang hadir pagi itu menggambarkan situasi sebagai “darurat irigasi”. Di antara mereka, terlihat wajah-wajah cemas, namun juga tekad kuat untuk memastikan pekerjaan perbaikan berjalan. “Kami sudah menunggu lama. Kalau air tidak kembali dalam waktu dekat, musim tanam ini bisa gagal,” ujar salah satu petani setempat.
Turunnya camat, para kepala desa, serta Babinsa memberi sinyal bahwa persoalan ini tidak dianggap remeh. Mereka menyisir lokasi kerusakan, mengamati struktur bendungan, dan berdiskusi dengan teknisi lapangan untuk mempercepat penanganan. Suasana pagi itu tidak hanya menjadi ajang gotong royong, tetapi juga penegasan bahwa krisis irigasi ini membutuhkan perhatian di semua level pemerintahan.
Bagi masyarakat Galang, DI Tende Lalos bukan sekadar fasilitas umum. Ia adalah pusat denyut ekonomi yang menghidupi ribuan keluarga. Setiap musim tanam yang terlambat dapat berdampak pada pendapatan rumah tangga, ketersediaan pangan lokal, hingga stabilitas harga beras di tingkat kecamatan.
Dalam konteks yang lebih luas, kerusakan bendungan ini kembali menyoroti tantangan besar sektor pertanian Indonesia: infrastruktur air yang rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem. Banjir yang merusak bendungan beberapa waktu lalu bukanlah kejadian pertama, dan para petani khawatir bukan yang terakhir. Mereka berharap ada evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak berulang.
Melalui dokumentasi dan postingan masyarakat, suara mereka kini mulai menggema lebih jauh. Harapan besar diarahkan kepada pemerintah daerah, DPRD, DPR Provinsi, hingga DPR-RI untuk ikut turun tangan. Masyarakat menilai, dukungan anggaran dan kebijakan menjadi kunci agar perbaikan bendungan tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga berkelanjutan.
Dinas teknis terkait juga diminta segera melakukan intervensi cepat. Setiap hari penundaan, menurut para petani, adalah hilangnya potensi panen yang berharga. Mereka menegaskan, kebutuhan air bukan dapat ditunda, terlebih ketika kalender tanam nasional menuntut keseragaman masa produksi.
Meski demikian, suasana di sekitar bendungan pagi itu tetap diwarnai semangat kebersamaan. Para petani, perangkat desa, dan aparat keamanan bekerja bahu membahu membersihkan material yang menyumbat aliran. Mereka menunjukkan bahwa ketika masalah muncul, solidaritas sosial masih menjadi kekuatan utama masyarakat pedesaan.
Di penghujung kegiatan, seorang petani menyampaikan pesan yang mewakili harapan banyak orang: “Kami hanya ingin air kembali mengalir. Kami anak petani, hidup dari tanah ini. Semoga pemerintah mendengar suara kami.” Kalimat itu menguatkan inti dari persoalan hari ini — bahwa masa depan pertanian Galang sangat bergantung pada cepat atau lambatnya perbaikan bendungan DI Tende Lalos.











