"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Rupiah Melemah di Pasar Hari Ini, Kurs Jadi Rp16.737 per Dolar AS



JAKARTA – Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, Kamis (13/11/2025). Berdasarkan data dari Bloomberg pukul 09.16 WIB, rupiah dibuka melemah sebesar 0,12% atau 20 poin ke tingkat Rp16.737 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS juga turun sedikit sebesar 0,02% ke posisi 99,47.

Dalam rangkaian pergerakan nilai tukar mata uang negara-negara Asia lainnya, beberapa mata uang mengalami penguatan terhadap dolar AS. Misalnya, ringgit Malaysia dibuka menguat 0,05%, peso Filipina terpantau naik 0,06%, dolar Hong Kong menguat 0,02%, dan yen Jepang juga menguat 0,06%.

Sementara itu, dolar Taiwan mengalami pelemahan sebesar 0,10%, dan won Korea Selatan turut melemah 0,08%. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang negara-negara Asia masih cukup signifikan dalam menjelang akhir pekan ini.

Perkembangan Nilai Tukar Rupiah

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih akan menghadapi tekanan. Pada perdagangan Rabu (12/11) kemarin, rupiah ditutup melemah sebanyak 30 poin ke level Rp16.724 per dolar AS.

Ibrahim memperkirakan bahwa untuk perdagangan hari ini, Kamis (13/11), rupiah akan berfluktuasi namun cenderung melemah di kisaran antara Rp16.720 hingga Rp16.760. Ia menilai bahwa sentimen global menjadi faktor utama dalam pergerakan nilai tukar ini.

Salah satu faktor yang memengaruhi adalah keraguan The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat) terkait rencana penurunan suku bunga lebih lanjut di akhir tahun ini. Hal ini menjadi katalis bagi penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah.

Kondisi Politik dan Ekonomi dalam Negeri

Di sisi lain, situasi politik di Amerika Serikat juga memberikan dampak terhadap pasar keuangan. Shutdown pemerintahan AS yang sempat mengganggu pengambilan keputusan oleh The Fed telah menemui titik terang. DPR AS akan melakukan pemungutan suara untuk mengakhiri penutupan pemerintah setelah Senat AS menyetujui langkah tersebut. Tujuannya adalah untuk membuka kembali pengeluaran pemerintah dan mengakhiri penutupan pemerintah terlama yang pernah ada.

Selain itu, sentimen ekonomi domestik juga menjadi perhatian pasar. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,33% pada 2026. Proyeksi ini lebih rendah dari target yang ditetapkan pemerintah dan DPR yaitu sebesar 5,4%. Proyeksi BI tersebut didasarkan pada perkembangan ekonomi global maupun domestik.

Namun, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh OECD jauh lebih rendah lagi, hanya sebesar 4,9% pada 2026. Angka ini jauh di bawah target pemerintah maupun BI.

Langkah BI dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi

Ibrahim juga menyebutkan bahwa BI mempertimbangkan berbagai langkah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penurunan suku bunga, ekspansi likuiditas moneter, serta kebijakan makroprudensial. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan dapat memberikan stimulasi positif terhadap perekonomian nasional.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa BI terus berupaya untuk menjaga stabilitas ekonomi meskipun menghadapi tantangan dari luar dan dalam negeri. Namun, kondisi ekonomi yang tidak pasti tetap menjadi risiko yang harus diperhatikan oleh seluruh pelaku pasar.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *