"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Respons Tak Terduga Menteri HAM Mengenai Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto

Penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional Memicu Pro dan Kontra

Penetapan Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, sebagai Pahlawan Nasional kembali memicu perdebatan yang terus berlangsung di tengah masyarakat. Keputusan ini menimbulkan berbagai respons dari berbagai kalangan, baik pro maupun kontra. Banyak pihak menilai bahwa penghargaan ini tidak sejalan dengan prinsip keadilan dan kemanusiaan, mengingat masa pemerintahan Orde Baru yang dikenal penuh dengan pelanggaran HAM dan praktik korupsi.

Sebagian masyarakat memberikan dukungan terhadap keputusan tersebut, terutama dalam hal jasa-jasa Soeharto di bidang militer dan pembangunan ekonomi. Namun, sejumlah tokoh politik dan organisasi HAM justru mengecam langkah pemerintah ini, yang dinilai sebagai bentuk penghinaan terhadap semangat reformasi 1998 yang berhasil menggulingkan rezim otoriter Orde Baru.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Menolak Penghargaan

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menjadi salah satu partai yang secara tegas menolak penghargaan ini. PDIP menilai bahwa pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto merupakan pengkhianatan terhadap nilai-nilai Reformasi 1998. Mereka menegaskan bahwa penguasaan kekuasaan selama Orde Baru memiliki dampak negatif yang masih terasa hingga saat ini.

Selain dari partai politik, kecaman juga datang dari berbagai organisasi masyarakat sipil seperti Amnesty International Indonesia dan Aliansi Keterbukaan Sejarah Indonesia. Kedua organisasi ini menilai penganugerahan gelar ini sebagai bentuk pemutarbalikan sejarah dan bentuk impunitas terhadap pelanggaran HAM di masa lalu.

Mereka menyoroti sejumlah peristiwa kelam di era Orde Baru, termasuk pembunuhan massal pada tahun 1965-1966, kerusuhan Mei 1998, serta penculikan aktivis. Menurut mereka, keputusan pemerintah ini justru menormalkan kekuasaan yang represif dan menutup luka sejarah bangsa.

Respons Menteri HAM yang Tak Biasa

Di tengah polemik yang semakin meluas, Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai memberikan respons yang tidak biasa. Ia memilih untuk tidak berkomentar sama sekali terkait keputusan pemerintah tersebut.

“Begini, pemberian penghargaan kepada Pak Harto, saya Menteri HAM, saya no comment, titik,” ujar Pigai di Kantor Kementerian HAM, Jakarta, Selasa 11 November 2025.

Ia menegaskan bahwa ia tidak akan memberikan tanggapan meski isu tersebut tengah menuai perdebatan di publik. “Enggak ada komentar,” katanya singkat.

Pigai menjelaskan bahwa Kementerian HAM tidak terlibat dalam proses pengusulan nama tokoh yang akan diberi gelar pahlawan nasional. Menurutnya, mekanisme pengusulan dilakukan berjenjang dari daerah hingga tingkat pusat.

“Kalau tidak salah pengusulan pahlawan itu dari keluarga di kampung halaman, kemudian oleh kabupaten, provinsi, baru menyampaikan kepada pusat, lalu ada tim yang menilai. Jadi kalau urusan itu saya kira kami tidak ada, ya, belum pernah ada,” ujarnya.

Keluarga Soeharto Anggap Pro-Kontra Sebagai Hal Wajar

Menanggapi polemik yang terjadi, putri sulung Soeharto, Siti Hardijanti Hastuti atau Tutut Soeharto, menyebut bahwa perbedaan pandangan di masyarakat merupakan bagian dari dinamika demokrasi.

“Pro kontra itu biasa, masyarakat Indonesia kan macam-macam. Yang penting kita melihat apa yang telah dilakukan Pak Harto dari sejak muda sampai beliau wafat, semua perjuangannya untuk masyarakat dan bangsa Indonesia,” ucapnya di Istana Negara, Senin 10 November 2025.

Tutut menegaskan bahwa keluarga besar Soeharto tidak menyimpan dendam terhadap pihak-pihak yang menolak keputusan tersebut. Ia berharap semua pihak dapat menjaga persatuan bangsa.

“Kami keluarga tidak merasa dendam, karena kan kita negara kesatuan. Boleh saja kontra, tapi jangan ekstrem. Kita jaga persatuan dan kesatuan,” katanya.

Dengan perbedaan pandangan yang masih kuat di tengah masyarakat, penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto tampaknya akan terus menjadi perdebatan panjang yang menyentuh aspek politik, moral, dan sejarah bangsa.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *