"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Respons Dedi Mulyadi Terkait Video Viral Keluarga Kades di Garut: Bukan Waktunya

Peristiwa Intimidasi oleh Keluarga Kepala Desa di Garut

Sebuah video yang viral di media sosial menunjukkan keluarga kepala desa di Desa Panggalih, Kabupaten Garut, Jawa Barat, melakukan tindakan intimidasi terhadap seorang warga bernama Holis Muhlisin. Peristiwa ini terjadi pada 27 Oktober 2025 lalu di Kampung Babakangadoh RT01 RW06, Desa Panggalih, Kecamatan Cisewu.

Dalam video tersebut, terlihat beberapa orang berbicara dengan nada tinggi kepada seorang pria yang tertunduk sambil bersandar di pagar. Salah satu pria bertopi mengatakan, “Kamu mau bagaimana? Mau tenar? Mau sok jago di media sosial?” Sementara itu, pria lainnya bahkan menggenggam jaket korban di bagian leher dan mendorongnya. Seorang perempuan juga mendekati korban sambil merekam menggunakan ponsel dan mengumpat dengan kata-kata kasar.

Penjelasan Korban

Holis Muhlisin (31 tahun) mengaku bahwa dirinya adalah korban dari kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa peristiwa bermula saat dirinya hendak bertemu dengan seseorang di wilayah desanya untuk membicarakan urusan akun Facebook. Namun, pertemuan tersebut justru dilakukan di halaman rumah sang kepala desa, yaitu di Kampung Pasircamat.

Menurut Holis, ia sempat mengalami kekerasan berupa cekikan di leher dan pukulan di punggungnya. Ia mengungkapkan bahwa tindakan intimidasi dilakukan oleh empat orang, yakni istri kepala desa, anak kepala desa, menantu kepala desa, serta keponakan kepala desa.

“Video itu direkam oleh teman saya yang sebelumnya janjian dengan saya,” ujar Holis. Ia juga menyebutkan bahwa dalam video tersebut, keluarga kepala desa memberikan hinaan terhadap dirinya.

Tanggapan Gubernur Jawa Barat

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi langsung menanggapi peristiwa ini dengan menyampaikan pesan kepada seluruh perangkat desa, RT/RW, hingga kepala dusun untuk berhenti melakukan tindakan ofensif terhadap warga.

“Manakala ada orang melakukan kritik, memposting pembangunan yang belum berkeadilan, jalan rusak, drainase rusak, saluran air rusak, rumah rakyat miskin tidak ada yang peduli, jangan pernah melakukan intimidasi atau pengancaman,” kata Dedi Mulyadi.

Ia menegaskan bahwa dalam dunia yang semakin terbuka, aparat harus menerima kritik dengan lapang dada. “Selanjutnya, kita berusaha untuk melakukan perubahan dan perbaikan.”

Menurut Dedi Mulyadi, caci maki adalah bagian dari konsekuensi seorang pemimpin yang harus dihadapi ketika terpilih. “Sudah bukan musimnya lagi kita anti kritik dan mencaci maki orang yang mengkritik. Bahkan, kita harus tahan terhadap caci maki, karena bisa jadi kita jadi pemimpin, salah satu hal yang harus kita alami adalah dicaci maki.”

Rekomendasi dan Harapan

Dedi Mulyadi berharap peristiwa serupa tidak terjadi lagi dan meminta kepada jajaran Pemerintah Kabupaten Garut untuk segera menyelesaikan persoalan tersebut. “Semoga peristiwa itu tidak terulang lagi. Saya minta ke seluruh jajaran masyarakat, kepala desa yang ada di sana, melakukan rekonsiliasi dan perbaikan pembangunan.”

Ia juga meminta kepada bupati untuk segera menanganinya dan jangan membiarkan ada tindakan-tindakan intimidatif terhadap kritik.

Kronologi Kejadian

Holis mengungkapkan bahwa sebelum kejadian tersebut, ia juga pernah dipanggil oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Panggalih pada tanggal 14 Oktober untuk mengklarifikasi unggahannya di Facebook soal jalan rusak. Dalam pertemuan tersebut, BPD mengingatkan dirinya agar mengkritik secara santun dengan tidak menyebutkan nama desa.

“Saya sebagai korban tidak enak, digituin sama orang lain. Saya melakukan (posting video) untuk kemajuan desa,” ucap Holis.

Meskipun telah mencoba melakukan konfirmasi terkait peristiwa tersebut melalui BPD, hingga Minggu malam yang bersangkutan belum memberikan respons.

Rafitman

Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *