"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

7 kisah haru PPPK paruh waktu 2026: 34 tahun menanti SK sebelum pensiun

Cerita Haru dari Para Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu

Pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu bukan sekadar urusan administrasi. Di balik selembar SK, tersimpan cerita panjang tentang kesabaran, pengabdian, dan harapan yang akhirnya berlabuh. Berikut tujuh kisah haru PPPK Paruh Waktu yang menyentuh hati.

1. Afhar, 22 Tahun Mengabdi dan Baru Mengenakan Korpri Dua Bulan Jelang Pensiun



Afhar akhirnya bisa mengenakan seragam Korpri biru setelah 22 tahun mengabdi sebagai tenaga honorer di Sekretariat Daerah (Setda) Maros. Ironisnya, status PPPK Paruh Waktu itu ia terima hanya dua bulan sebelum memasuki masa pensiun pada Februari 2026.

Mengabdi sejak 2004, Afhar memulai kariernya di Kelurahan Soreang sebagai honorer eks-K2. Pada masa awal, ia bahkan bekerja tanpa honor tetap dan baru menerima gaji pada 2010. Honor pertamanya sekitar Rp500 ribu per bulan saat bekerja sebagai sopir. Angka itu perlahan naik menjadi Rp850 ribu. Dari penghasilan terbatas tersebut, Afhar menghidupi istri dan anaknya tanpa pekerjaan sampingan. Ia pernah mengikuti seleksi CPNS hingga empat kali, namun tak satu pun membuahkan hasil. Meski begitu, Afhar tetap bertahan dan menjalankan setiap tugas dengan penuh tanggung jawab. “Saya bersyukur karena akhirnya bisa sampai di titik ini dan menerima SK,” tuturnya dengan nada haru.

2. Nurhasanah, Ibu 12 Anak yang Dihadiahkan Motor usai Diangkat PPPK



Kisah haru juga datang dari Nurhasanah (50), warga Desa Polewali, Kecamatan Kajuara, Kabupaten Bone. Setelah 10 tahun mengabdi sebagai pegawai Kantor Kecamatan Kajuara, ia akhirnya diangkat menjadi PPPK Paruh Waktu pada Desember 2025.

Selama bertahun-tahun, Nurhasanah menjadi tulang punggung keluarga dengan 12 orang anak, tinggal di rumah kayu berukuran 6×7 meter bersama 13 anggota keluarga. Momen paling mengharukan terjadi saat penyerahan SK PPPK, ketika Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman, melontarkan pertanyaan di hadapan peserta. “Siapa di sini yang memiliki anak 10 orang?” tanyanya. Nurhasanah yang semula ragu akhirnya mengangkat tangan dan maju ke podium. Ia menyebut memiliki 12 anak, dengan usia tertua 30 tahun dan termuda 10 tahun. Sebagai bentuk apresiasi, ia pun dihadiahi satu unit sepeda motor.

Dalam keseharian, Nurhasanah harus menumpang atau naik ojek menuju kantor camat. Sebelum diangkat PPPK, gajinya hanya sekitar Rp500 ribu per bulan. Untuk mencukupi kebutuhan, ia juga bekerja sebagai tukang masak saat ada hajatan. Meski statusnya masih paruh waktu, ia tetap bersyukur. “Alhamdulillah meski masih paruh waktu setidaknya ada kenaikan gaji minimal Rp1 juta,” ujarnya.

3. Mbok Rehana dan Ribuan Honorer Banyuwangi yang Tak Kuasa Menahan Tangis



Di Banyuwangi, tangis haru mewarnai penyerahan SK PPPK Paruh Waktu kepada 4.888 tenaga honorer. Salah satunya Mislatin (57), tenaga administrasi di Puskesmas Singotrunan yang telah mengabdi lebih dari 28 tahun. Wanita yang akrab disapa Mbok Rehana itu menangis haru saat menerima SK yang selama ini ia nantikan. “Hari ini saya sangat bahagia, anak-anak saya juga. Terima kasih emakku, Bupati Ipuk,” ujar Mislatin, dengan matanya yang berkaca-kaca.

Kisah haru juga datang dari Paridatul Haris yang mendampingi suaminya, Adroi, penjaga sekolah yang mengabdi selama 15 tahun. “Alhamdulillah, ini memang yang ditunggu-tunggu. Pekerjaan tukang kebun satu-satunya yang jadi sumber penghasilan utama kami, ternyata bisa mengantarkan jadi ASN,” ujarnya sambil berkaca-kaca. Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan pengangkatan PPPK Paruh Waktu ini sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian panjang para honorer.

4. Moh Rahwito, Menanti Sejak 1989 dan Pensiun Enam Bulan Setelah Terima SK



Alun-alun Ki Bagus Asra, Bondowoso, tampak membiru oleh seragam Korpri saat ribuan PPPK Paruh Waktu menerima SK pengangkatan. Di antara mereka, berdiri Moh Rahwito, penjaga SDN Pancoran 2, dengan senyum yang menyimpan cerita panjang. Rahwito akan genap berusia 58 tahun pada 2026 dan hanya menikmati status PPPK Paruh Waktu selama enam bulan sebelum pensiun pada 9 Juni 2026. Meski singkat, ia memandang SK tersebut sebagai pengakuan atas pengabdian panjangnya. “Ya kalau sudah waktunya (pensiun), tidak masalah,” ungkap Rahwito.

Ia telah mengikuti seleksi CPNS sejak 1989, bahkan ketika sistem ujian masih dilakukan secara manual. “Selalu ikut (tes CPNS), terakhir tahun 2013,” ujarnya. Rahwito mulai bekerja sebagai penjaga sekolah sejak 2003. Di awal masa pengabdian, ia nyaris tak menerima gaji. “Dulu awal tidak ada gaji, pas naik jadi Rp 50.000. Ya cari sampingan lain, ya sembarang, bertani,” tutur Rahwito. Setelah puluhan tahun bertahan, pengangkatan PPPK Paruh Waktu menjadi penutup perjalanan yang sarat perjuangan.

5. Cacang Hidayat, 25 Tahun Menjaga Perpustakaan dengan Gaji Rp500 Ribu



Senyum lebar terpancar dari wajah Cacang Hidayat (55) saat dilantik sebagai PPPK Paruh Waktu Kabupaten Lebak. Selama 25 tahun, ia setia menjaga perpustakaan SMPN 1 Cibadak dengan upah Rp500 ribu per bulan. “Sangat senang, ini penantian panjang saya sejak lama, akhirnya jadi pegawai yang digaji negara juga,” kata Cacang. Tugasnya tak pernah ringan. Mulai membuka ruang baca, menyapu lantai, hingga merapikan rak buku ia jalani tanpa keluhan. “Sudah lama bekerja, walaupun gajinya kecil, tapi ya dijalani saja, yang penting ada penghasilan,” ujarnya. Meski belum mengetahui pasti besaran gaji barunya, Cacang menyambut perubahan status ini dengan penuh antusias. “Enggak tahu gajinya nanti berapa, tapi katanya naik, makanya sangat senang,” kata dia. Baginya, PPPK Paruh Waktu adalah bentuk kepastian yang selama ini hanya menjadi harapan.

6. Munahir, 34 Tahun Menjadi Satpam dan Dihadiahkan Umrah



Munahir (56), satpam SMKN 1 Dompu, tak pernah menyangka pengabdian panjangnya akan berbuah kejutan. Setelah 34 tahun bertugas, ia menerima SK PPPK Paruh Waktu bersama ribuan pegawai lainnya di Kantor Gubernur NTB. Tak hanya SK, ia juga mendapatkan hadiah umrah gratis dari Gubernur NTB. “Saat itu, saya langsung menangis dan sujud syukur di depan Pak Gubernur,” kata Munahir. Ia mengawali pengabdian sejak 1990 sebagai penjaga malam, lalu diangkat menjadi satpam. Baginya, besar kecil gaji bukanlah persoalan utama. “Saya tidak pandang besar kecilnya gaji, saya ikhlas bekerja untuk sekolah ini,” ujarnya. Meski gajinya turun menjadi Rp500 ribu per bulan setelah pengangkatan PPPK Paruh Waktu, Munahir tetap bersyukur. “Kita tetap ikhlas dan tugas-tugas pokok dari sekolah tetap saya laksanakan, mudah-mudahan nanti ada kebijakan diangkat PPPK Penuh Waktu,” harapnya.

7. Hendri dan Euforia Damkar Karawang Setelah 30 Tahun Mengabdi



Hendri (54) berdiri dengan mata berbinar di Lapangan Karangpawitan, Karawang. Setelah 30 tahun menjadi honorer di Dinas Kesehatan, ia akhirnya menerima SK PPPK Paruh Waktu secara simbolis dari Bupati Karawang. “Ini untuk istri dan anak-anak saya di rumah,” ujar Hendri dengan binar mata bahagia. Baginya, status baru ini bukan sekadar jabatan, melainkan penghargaan atas kesetiaan dan kerja panjang tanpa kepastian. Kebahagiaan serupa dirasakan 144 petugas Damkar Karawang yang juga resmi diangkat PPPK Paruh Waktu. Euforia mereka tumpah dalam syukuran sederhana, konvoi mobil damkar, hingga tradisi siraman air. “Alhamdulillah, hari ini sebanyak 144 petugas Damkar Karawang resmi diangkat menjadi PPPK Paruh Waktu. Ini menjadi kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bagi kami,” ujar Rohmat. Ia berharap kepastian status ini membuat kinerja petugas semakin optimal. “Kami berharap pengangkatan ini dapat meningkatkan semangat, profesionalisme, dan kinerja petugas Damkar dalam menjalankan tugas-tugas kemanusiaan,” kata Rohmat.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *