Kontroversi Kelapa Sawit dan Perbedaan Pandangan di Kalangan Tokoh
Kontroversi terkait kelapa sawit kembali menjadi perbincangan hangat setelah mantan Presiden Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menyebut tanaman ini sebagai “tanaman arogan”. Pernyataan tersebut berbeda dengan pandangan Presiden saat ini, Prabowo Subianto, yang secara aktif mendorong pengembangan industri kelapa sawit. Hal ini memicu perdebatan tentang dampak lingkungan, deforestasi, serta keberlanjutan hutan Indonesia.
Pernyataan Megawati Soekarnoputri: Sawit sebagai Tanaman Arogan
Pernyataan Megawati mengenai kelapa sawit sebagai tanaman arogan viral di media sosial. Dalam wawancara khusus di program ROSI, Kompas TV, pada 23 Agustus 2025, ia menyampaikan pendapatnya tentang kearifan lokal suku Dayak yang telah menjaga hutan selama bertahun-tahun. Ia menyoroti pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem.
Megawati menjelaskan bahwa satu pohon besar yang ditebang membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk tumbuh kembali. Ia juga menyoroti ciri-ciri kelapa sawit yang monokultur dan dampaknya terhadap lingkungan. Menurutnya, kelapa sawit sangat “manja” karena tidak bisa tumbuh bersama tanaman lain. Sebaliknya, tanaman seperti kelapa atau sagu bisa tumbuh dalam lingkungan yang lebih heterogen.
“[…] Sawit itu harus ribuan hektar itu satu kali nanam. Jadi dia mesti dibuat kluster-kluster. Why? Karena ketika sudah tua kan ini enggak mau ditanam yang muda, harus dibongkar. Itu yang saya bilang tanaman sawit tuh arogan banget,” ujar Megawati.
Ia juga menyatakan penolakannya terhadap pembalakan hutan atau deforestasi. Megawati menegaskan bahwa hutan adalah milik negara dan tidak boleh ditebang sembarangan. Ia menilai bahwa korupsi juga turut berkontribusi pada kerusakan lingkungan.
Pendirian Prabowo Subianto: Pengembangan Industri Sawit
Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto menunjukkan sikap pro-sawit sejak awal masa jabatannya. Ia menyatakan bahwa kelapa sawit adalah pohon seperti pohon lainnya dan tidak masalah jika ditanam dengan cara deforestasi. Ia bahkan menyebutkan bahwa kelapa sawit dapat memberikan oksigen dan menyerap karbon dioksida.
“Saya kira ke depan kita juga harus tambah tanam kelapa sawit enggak usah takut apa itu katanya, apa, membahayakan. Apa itu deforestation ya kan namanya kelapa sawit ya pohon Iya kan,” kata Prabowo dalam acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) di Jakarta pada 30 Desember 2024.
Selain itu, Prabowo juga ingin mengembangkan industri sawit di Papua. Ia berharap daerah tersebut dapat memiliki produksi bahan bakar minyak (BBM) dari kelapa sawit. Ia juga ingin menanam tebu dan singkong di Papua agar dapat memproduksi etanol. Tujuannya adalah agar semua daerah, termasuk Papua, bisa swasembada energi dan pangan dalam lima tahun ke depan.
Keberlanjutan Energi di Papua
Prabowo juga ingin memaksimalkan pemanfaatan tenaga surya dan tenaga air di Papua. Ia percaya bahwa teknologi ini semakin murah dan bisa mencapai daerah-daerah terpencil. Menurutnya, dengan adanya kemandirian energi, Indonesia dapat menghemat ratusan triliun rupiah setiap tahun karena tidak perlu mengimpor BBM dari luar negeri.
“Tahun ini tiap tahun kita mengeluarkan peraturan triliun untuk impor BBM. Kalau kita bisa tanam kelapa sawit, tanam singkong, tanam serbuk pakai tenaga surya dan tenaga air, bayangkan berapa ratus triliun kita bisa hemat tiap tahun,” ujar Prabowo.
Dengan demikian, kontroversi tentang kelapa sawit tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan kebijakan energi dan kemandirian daerah. Perbedaan pandangan antara tokoh-tokoh seperti Megawati dan Prabowo mencerminkan kompleksitas permasalahan ini.











